Rabu, 29 Oktober 2014

GUNUNG RATU, BUKIT TEMPAT LAHIRNYA GAJAH MADA

Surya 2Gunung Ratu 5Siapa yang tak kenal dengan Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit itu? Nama besar yang ia miliki membuatnya dikenang di seluruh penjuru nusantara. Maka jangan heran jika di banyak tempat di Indonesia terdapat dongeng tentang kelahiran patih yang terkenal dengan sumpah palapanya itu. Dongeng-dongeng tersebut tersebar dengan mudah karena belum adanya sejarah yang pasti tentang kelahiran sang patih.
Beberapa tempat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, bahkan Nusa Tenggara memiliki dongeng yang berbeda-beda. Ada yang menceritakan Gajah Mada sebenarnya putra kerajaan, ada juga yang berpendapat ia lahir dari orang tua biasa, bahkan versi lain menganggap Gajah Mada terlahir dari batu.
Di pulau Jawa, Lamongan merupakan salah satu kota yang memiliki dongeng tentang Gajah Mada. Di Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang, di atas sebuah bukit bernama Gunung Ratu, ada sebuah makam yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai makam Dewi Andong Sari, ibu dari Gajah Mada.
Dewi Andong Sari merupakan salah satu selir raja pertama Majapahit, Raden Wijaya. Ia dibuang dan akan dibunuh karena fitnah yang menyebut ia hamil dari hasil perselingkuhan.
Tak sampai dibunuh, Dewi Andong Sari hanya diasingkan di atas bukit di dalam hutan oleh prajurit kerajaan. Bukit inilah yang sekarang disebut Gunung Ratu.
Tak lama tinggal di sana, Dewi Andong Sari melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat ia hendak turun dari bukit, Dewi Andong Sari menitipkan bayinya pada dua hewan peliharaan yang selama ini menemaninya, seekor kucing bernama condromowo dan seekor garangan (musang) putih.
Gunung Ratu 6Bunuh diri di Gunung Ratu
Dalam dongeng yang tidak bisa diuji kebenarannya ini, Dewi Andong Sari bunuh diri di Gunung Ratu. Ia merasa bersalah telah membunuh kucing condromowo dan musang putih.
Sebelumnya, dua hewan ini telah melawan seekor ular besar yang hendak memangsa bayi Dewi Andong Sari hingga mulut mereka berlumuran darah. Tapi, Dewi Andong Sari yang baru tiba dari mandi, justru mengira peliharaannya tersebut telah memakan si bayi. Padahal bayi tersebut masih hidup dan tersembunyi di balik dedaunan.
Jejaka dari Desa Modo
Ki Gede Sidowayah seorang pamong desa saat itu yang menemukan bayi Dewi Andong Sari. Ia juga yang mengubur jasad wanita cantik itu, juga kucing dan musang yang telah mati.
Bayi Dewi Andong Sari oleh Ki Gede Sidowayah dititipkan kepada adik perempuannya, Janda Wara Wuri di Modo. Di sanalah anak Dewi Andong Sari dijuluki Joko Modo (seorang jejaka yang berasal dari Modo). Ketika menginjak dewasa, Joko Modo dibawa Ki Gede Sidowayah ke Malang untuk  menjadi seorang prajurit Majapahit dan nantinya menjadi mahapatih dengan nama Gajah Mada.
Gunung Ratu 2Tak hanya versi Lamongan, nama Mada pada Gajah Mada oleh dongeng versi Bali yang tertulis dalam Teks Lontar Babat Gajah Maddha juga berasal dari desa yang bernama Maddha. Namun Desa Maddha yang dimaksud bukan Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, melainkan Desa Maddha yang terletak di dekat Gunung Semeru.
Suasana 17-an
Jalan menuju ke Gunung Ratu sedikit terjal. Untuk sampai ke sana, Anda harus melewati jalan bercadas dan paving sejauh 3 km.
Setelah sampai pun, Anda harus siap menaiki 100-an lebih anak tangga yang menuju ke atas Gunung Ratu. Warga sekitar percaya jika seseorang menghitung anak tangga ini, jumlah yang didapat akan berbeda dengan orang lainnya. Mungkin ini terjadi karena kecenderungan seseorang yang terganggu konsentrasinya ketika menghitung sesuatu secara berulang-ulang.
Percaya atau tidak Anda boleh datang dan mencobanya. Seorang teman saya menghitung 170 anak tangga, sedangkan Pak Sulaiman mengaku pernah menghitung dan mendapati 168.
Gunung Ratu 3Setelah dipugar, kompleks makam Dewi Andong Sari terlihat rapi. Banyaknya pepohonan tidak membuat jalan setapak dan dua tempat semacam pendopo kecil untuk beristirahat pengunjung menjadi kotor. Terlihat sekali, kompleks makam yang tidak luas ini dirawat dengan baik. Kuburan kucing conrdomowo dan musang putih yang mencolok di atas tanah tepat di samping jalanan keramik juga terawat.
Suasana Indonesia sangat terasa di sini. Bendera merah-putih dilingkarkan di beberapa batang pohon besar, juga di atap dan dinding pendopo. Di salah satu pendopo juga terpampang dua gambar Bapak Prokamator, Bung Karno, lengkap dengan garuda lambang negara. Bangunan luarnya banyak yang bercat merah dan putih, mirip seperti suasana saat 17-an.
Makam Dewi Andong Sari sendiri terdapat di dalam bangunan sebelah utara menghadap ke selatan. Di dalam bangunan ini, makam Dewi Andong Sari dihiasi dengan payung-payung kuning khas kerajaan. Selain itu, dalam bangunan yang luasnya hanya sekitar 4×4 meter ini juga terdapat 5 batang pohon besar yang menembus hingga ke atas atap. Nampaknya sebelum dipugar, 5 pohon ini sudah berdiri tegak dan memang sengaja tidak ditebang.
Gunung Ratu 1Oh iya, di area kompleks makam ini ada peraturan unik. Tamu tidak boleh mengganggu tamu, dan tamu tidak boleh mencari tamu. Anda yang datang dengan niat baik-baik tidak perlu pusing memikirkannya. Karena usut punya usut, dua larangan ini dibuat atas keresahan warga oleh orang yang mengaku ‘dukun’ dan sering mengganggu pengunjung di makam Dewi Andong Sari. Ada-ada saja ya, hehehe…
Rute menuju ke mkam Dewi Andong Sari:
Dari pasar Babat menuju ke arah Jombang sekitar 21 km
Di depan Kantor Koramil Kecamatan Ngimbang ada pertigaan kecil menuju ke arah timur
Makam Dewi Andong Sari berada 3 km sebelah timur pertigaan tersebut.

BABAT SI KOTA TUA

Surya 2Bangunan CTNSeandainya predikat Kota Tua di Kabupaten Lamongan harus ada, mungkin Kecamatan Babat yang paling pantas untuk menyandangnya. Di balik hiruk-pikuknya sebagai pusat perdagangan Lamongan, wilayah yang dijuluki sebagai Kota Wingko ini menyimpan banyak cerita masa lampau yang dapat dilihat dari beberapa bangunan tuanya, seperti bangunan CTN, gedung Garuda, stasiun Babat, dan rumah-rumah panggung.
Dengan melihat sekilas saja, kita akan tahu bangunan CTN yang  terletak di Jalan Raya Babat ini merupakan bangunan yang sudah sangat tua. Dekorasi-dekorasi serta desain kuno terlihat mencolok dari setiap sisi bangunan tersebut.
Tidak ada yang tahu persis kapan bangunan yang merupakan Corps Tjadangan Nasional ini di bangun. Namun mungkin, bangunan yang dulu menjadi tempat asrama tentara ini sudah ada sekitar seabad yang lalu, di zaman Belanda.
Gedung CTNJangan membayangkan bangunan ini besar dan terawat seperti bangunan Lawang Sewu di Semarang, misalnya. Di balik kesamaannya menyimpan banyak cerita mistik, bangunan CTN mempunyai luas jauh lebih sempit yang terbagi menjadi dua area dengan pembatas pagar bambu, yakni area utara dan selatan.
Di area utara, saat ini digunakan sebagai tempat tinggal bagi petugas Koramil yang ditugaskan mengawasi bangunan ini. Selain bangunan tempat tinggal ini, sedikit ke belakang terdapat sebuah gudang yang beberapa bagian atap dan temboknya sudah mulai runtuh.
Menilik ke area selatan, terdapat bangunan yang lebih besar dengan pekarangan yang cukup luas. Sayangnya sejak sekitar tahun 1993, terakhir kali bangunan ini dijadikan sebagai asrama Koramil, bangunan serta pekarangannya tidak lagi terawat. Pekarangan yang dulu bersih, sekarang dipenuhi rumput-rumput liar. Sedang bangunannya sendiri kotor, banyak kotoran ayam di lantai, dan bagian tertentu sudah terlihat mulai runtuh.
Patung Tentara BelandaJika Anda mencoba mendekat pada bangunan tersebut, dua patung singa di kanan dan kiri sudah menyambut Anda. Motif dinding dan patung tentara Belanda yang terletak di bagian atas bangunan jelas menunjukkan identitas yang membangun sebelum direbut oleh tentara Jepang dan akhirnya jatuh ke tangan tentara Indonesia.
Sayangnya tiga pintu depan bangunan ini dikunci. Jadi Anda yang penasaran dan berharap bisa masuk ke dalam nampaknya harus gigit jari. Sebagai pengobat kecewa, Anda bisa berfoto di depan bangunan ini. Bangunan tua di zaman modern sangat cocok dijadikan sebagai latar belakang foto Anda.
Konon, gudang di area utara dan bangunan area selatan ini terkenal mistik. Beberapa orang mengaku pernah menejumpai makhluk menyerupai wanita, berjubah putih, berambut putih, dan bermata satu berkeliling di sana. Hmm, jika benar ada, mungkinkah ia arwah Noni Belanda seperti Noni Van Elen, hantu dalam film horor Lawang Sewu?
Sebagai kota kecamatan yang menjadi titik temu empat kabupaten, yakni Lamongan, Bojonegoro, Jombang, dan Tuban, wajar saja bila Kecamatan Babat merupakan kecamatan yang ramai, bukan hanya sekarang namun juga di masa lalu. Dari itu juga jangan heran jika dahulu terdapat sebuah gedung pertunjukan bioskop di kota ini.
Gedung Garuda namanya, terletak hanya 20 meter sebelah utara depan bangunan CTN, gedung ini pun tak kalah tua. Tahun 1986, gedung yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi tersebut terakhir kali difungsikan sebagai bioskop. Sayang memang, akibat tidak memiliki peminat lagi bangunan yang bagian bawahnya bercat biru dan telah kusam ini harus kehilangan cerita masa lalunya.
Nampaknya patung garuda besar yang tak kalah kusam dan menempel di dinding bagian atas gedung tersebut tidak lagi menarik perhatian masyakat sekitar untuk datang dan menonton film di sana.
Saat ini, di dalam gedung Garuda sudah tidak terlihat lagi sisa-sisa kemegahan sebagai satu-satunya gedung bioskop di Kota Babat dahulu. Di bagian depan hanya ada sebuah warung kopi. Sedangkan di dalam yang ada hanya dua arena bulu tangkis dan belasan kursi penonton, sisanya hanya tempat kosong yang lengang. Memang, sejak tidak menjadi gedung pertunjukan bioskop, gedung ini dialihfungsikan sebagai arena bulu tangkis, daripada nganggur.
Gedung GarudaBeranjak sedikit jauh ke arah tenggara, kita bisa menemui stasiun kereta api Babat. Tentu stasiun ini sudah tidak asing lagi bagi Anda masyarakat Lamongan yang gemar berpergian menggunakan alat transportasi berbadan panjang ini.
Stasiun Babat memiliki enam jalur rel yang masih aktif digunakan saat ini. Namun, jika Anda mencoba menyusuri daerah sekitar stasiun, Anda akan mendapati banyak jalur rel lainnya yang sudah tidak lagi digunakan. Di zaman belanda, jalur-jalur ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi. Maklum, di masa itu, alat transportasi jarak jauh yang mudah diakses hanyalah kereta api.
Jika diamati, konstruksi di bagian dalam maupun bagian luar stasiun tidak terlihat ada sisa-sisa bangunan tua, berbeda dengan bangunan CTN dan gedung Garuda, stasiun ini terlihat jauh lebih modern. Apalagi sejak  tahun 2002,  saat stasiun yang masih menggunakan sistem persinyalan mekanik ini mulai ditangani oleh pemerintah daerah, pemugaran terus dilakukan. Namun, karena hal ini juga, stasiun Babat yang dulu termasuk stasiun kelas A, kini harus turun tingkat menjadi kelas B.
Stasiun BabatSaat ini stasiun terbesar di Kabupaten Lamongan ini merupakan tempat pemberhentian untuk kereta Kertajaya, KRD Bojonegoro, KRD Babat, Gumarang, dan KRDI AC.
Oh iya, jika Anda datang ke stasiun Babat lewat pertigaan sebelah tenggara pasar Babat, jangan lupakan juga keberadaan rumah panggung di kanan jalan sebelum sampai di stasiun. Unik memang, saat rumah-rumah masa kini menamankan pondasi beton yang kuat dan dalam, serta tembok bata yang megah, rumah panggung yang seluruhnya berjumlah empat ini masih tetap bertahan.
Keberadaan rumah-rumah panggung yang dibangun pada tahun 1918 ini tidak lepas dari keberadaan stasiun Babat. Rumah-rumah panggung ini merupakan rumah dinas bagi pegawai yang bekerja di stasiun. Sebenarnya ada  15 rumah dinas di kompleks ini, namun yang berupa rumah panggung hanya ada empat.
Rumah PanggungKonstruksi bangunannya: lantai, dinding, pintu, jendela, serta tiang, murni dari kayu  jati. Karena tekstur kayu jati yang keras dan kuat, wajar jika rumah ini bisa bertahan hampir seratus tahun. Setiap satu rumah panggung ukurannya sekitar 15×10 meter persegi dengan tinggi  5 meter yang terbagi dalam beberapa petak di dalam rumah.
Untuk mempertahankan kekunoannya, konstruksi rumah panggung ini  harus tetap asli. “Tidak boleh dirubah, paling hanya boleh dicat saja,” ujar Pak Sujud, penghuni salah satu rumah panggung.
Kemudahan transportasi di  Babat saat ini membuat banyak pegawai stasiun memilih untuk pulang-pergi daripada tinggal di rumah dinas. “Makanya hanya 3 rumah saja (dari 15) yang dipakai dinas. Sisanya ditempati pensiunan,” tambah Pak Sujud yang sebelum pensiun sempat menjadi kepala stasiun pada tahun 1993.
Keempat rumah panggung ini berbentuk sama, persegi empat beratap genting tanah dan memiliki tinggi antara lantai dan tanah sekitar satu meter. Pekarangan untuk rumah-rumah panggung juga lebih luas di bandingkan dengan rumah dinas lainnya. Beberapa pohon yang ditanam di pekarangan juga membuat kesan asri dan kuno masih tetap melekat.
Seperti halnya bangunan CTN, keberadaan gedung Garuda, stasiun Babat, dan rumah-rumah panggung sebagai bangunan-bangunan tua juga tidak lepas dari cerita mistik. Benar atau tidaknya saya juga tak tahu pasti. Jika ada dua golongan untuk menyebut orang yang bisa dan tidak bisa melihat hal-hal mistik, mungkin saya termasuk dalam golongan kedua. Bagaimana dengan  Anda? Jika Anda termasuk dalam golongan pertama, tertarik untuk membuktikannya?

MENELUSURI JEJAK IBU SUNAN GIRI DI LAMONGAN

 Surya 2Makam Dewi Sekardadu di LamonganBerwisata religi bisa dilakukan dengan banyak cara. Mengunjungi makam-makam para pendahulu yang berjasa dalam penyebaran agama Islam, misalnya. Jika selama ini kita sering berziarah  ke makam-makam sunan, bagaimana jika sekali-kali kita berziarah ke makam-makam ibu para sunan, orang yang berjasa melahirkan mereka.
Di Lamongan kita bisa melakukan hal ini. Bukan di makam ibu Sunan Drajat, satu-satunya Wali Songo di Lamongan, bukan juga ke makam ibu Sunan Sendang Duwur, melainkan ke makam ibu dari Sunan Giri, sunan yang menyebarkan agama Islam di Gresik.
Loh, bagaimana sunan yang menyiarkan agama Islam di Gresik, makam ibunya bisa berada di Lamongan? Nah, jadi begini ceritanya.
Cerita berawal dari Kerajaan Blambangan di bawah pimpinan Raja Minyak Senguru yang didera sebuah musibah. Putri cantik raja, Dewi Sekardadu, mengidap penyakit ganas yang sukar disembuhkan. Meski imbalannya cukup mengiurkan, yakni kalau lelaki akan dinikahkan dengan putri cantik tersebut, dan apabila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Sekardadu, namun, tidak ada seorang tabib pun yang bisa mengobati.
Hingga akhirnya datang Maulana Ishaq dari Lempo (Aceh). Sebelum mengobati Dewi Sekardadu, ia memberikan syarat kepada raja. Ia ingin seluruh kerajaan mengikuti agamanya, agama Islam.
Raja yang ingin anaknya sembuh mengiyakan saja. Dewi Sekardadu pun sembuh dan seperti janji raja, Maulana Ishaq menikah dengan putrinya itu.
Dua  tahun berselang, Dewi Sekardadu sedang hamil 4 bulan. Saat itu raja ingin mengusir Maulana Ishaq dari kerajaan. Rasa setengah hatinya menjadi muslim menjadi penyebabnya. Merasa tidak bisa melanjutkan siar sebebas dulu lagi, Maulana Ishaq pamit untuk siar agama ke arah timur.
Setelah 19 bulan 9 hari mengandung, Dewi Sekardadu melahirkan seorang bayi lelaki. Usia kandungannya memang tergolong lama. Saat itu di wilayah Blambangan sedang gempar-gemparnya pembunuhan bayi lelaki oleh kerajaan. Ini merupakan muslihat agar tidak ada keturunan dari Maulana Ishaq yang mewarisi tahta kerajaan. Agar tidak dibunuh, Dewi Sekardadu meminta pembantu kerajaan untuk menghanyutkan bayinya ke sungai.
Makam Dewi Sekardadu di Lamongan 2Di Desa Dagang ibu dan anaknya bertemu
Sudah 15 tahun berlalu, Dewi Sekardadu pergi meninggalkan kerajaan untuk mencari Maulana Ishaq dan anaknya. Selain itu, ia juga tidak mau dinikahkan dengan anak Mahapati.  Dewi Sekardadu berangkat ditemani dua orang pembantu kerajaan.
Dari sini banyak versi cerita bermunculan. Salah satunya versi yang mengatakan bahwa bayi Dewi Sekardadu tidak dihanyutkan di sungai, tapi dihanyutkan di laut. Lalu ia terdampar di pantai Gresik dan dipungut oleh warga sekitar. Dewi Sekardadu yang pergi mencarinya meninggal, jasadnya terdampar di pantai Buduran, Sidoarjo. Inilah cerita yang meyakinkan banyak orang bahwa jasad Dewi Sekardadu dimakamkan di Sidoarjo.
Sedangkan dalam buku dongeng yang disimpan oleh juru kunci makam Dewi Sekardadu di Lamongan, menceritakan rombongan Dewi Sekardadu berjalan menuju ke Gresik hingga sampai di Desa Dagang dan bertemu dengan anaknya yang sudah beranjak dewasa dan kelak menjadi Sunan Giri itu.
Dari Desa Dagang, rombongan Dewi Sekardadu melanjutkan perjalanan mencari Maulana Ishaq ke arah barat melewati hutan penuh gelagah (saat ini bernama Desa Glagah). Kebetulan hutan tersebut dekat dengan tempat tinggal Mbah Lamong (tokoh yang kelak namanya diabadikan menjadi nama kota ini, Lamongan) Sehingga tempat tinggal Mbah Lamong diberi nama Desa Deket.
Perjalanan dilanjutkan, kali ini rombongan sampai di hutan kelapa yang sangat singit.Singit dalam bahasa jawa artinya keramat (saat ini bernama Desa Keramat).
Keluar dari hutan kelapa, rombongan melewati hutan kembang. Kembang dalam bahasa jawa berarti bunga (saat ini bernama Desa Bunga). Beranjak dari sana, rombongan tersesat. Mereka berputar-putar di suatu tempat dan tak bisa menemukan jalan keluar. Sekarang tempat ini bernama Desa Puter Kembangbahu. Mereka mencoba peruntungan ke arah barat tapi malah mentok (bertemu jalan buntu), dihadang oleh sebuah gunung besar. Tempat mereka mentok ini sekarang bernama Desa Mantup. Merasa bingung, rombongan naik ke atas gunung dan beristirahat.
Cukup beristirahat, rombongan kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini mereka berhenti di daerah bekas Kerajaan Jonggolok. Dewi Sekardadu yang merupakan putri Kerajaan Blambangan dan seorang yang dermawan, dianggap sebagai orang yang berderajat oleh penduduk sekitar. Daerah ini sekarang bernama Desa Deket Agung, artinya dekat dengan orang yang berderajat.
Dari sana, Dewi Sekardadu dan rombongannya pergi ke arah utara sungai. Di tempat ini Dewi Sekardadu dijuluki Mbok Rondo Gondang. Mbok dalam bahasa jawa biasa digunakan untuk sapaan ibu. Rondo artinya janda, meskipun sebenarnya Dewi Sekardadu memiliki suami, namun karena mereka terpisah, maka orang sekitar tetap menyebut Dewi Sekardadu rondo. Sedangkan gondang artinya terusir, mungkin penduduk sekitar mengira Dewi Sekardadu pergi jauh meninggalkan Kerajaan Blambangan karena diusir. Istilah terakhir ini juga yang diabadikan sebagai nama desa tempat tinggal Dewi Sekardadu ini, yakni Desa Gondang.
Tak lama tinggal di sana, Dewi Sekardadu meninggal. Ia pun dimakamkan.
Makam Dewi Sekardadu di Lamongan 3Siratkan tanah ke makam
Tentu, kita tidak bisa menyebut dongeng ini sebagai kisah perjalanan hidup Dewi Sekardadu yang sebenarnya. Namun, jika menilik napak tilas perjalanan Dewi Sekardadu yang didukung dengan diabadikan menjadi nama-nama desa, dongeng ini bisa dijadikan bahan pengkajian.
Di makam Dewi Sekardadu di Lamongan, pada hari-hari biasa terlihat cukup sepi. Jika sedang tidak ada pengunjung, yang menonjol hanya bangunan bercat putih dengan lantai keramik putih. Luas bangunannya sekitar 64 meter persegi, berada di tengah-tengah tanah seluas kira-kira 144 meter persegi yang dikelilingi pagar bata. Makam ini jauh lebih kecil dan lebih sederhana jika dibandingkan dengan makam Dewi Sekardadu di Sidoarjo.
Jika Anda akan berkunjung ke makam Dewi Sekardadu ini, jangan lupa untuk mendatangi dulu juru kuncinya, Pak Yasak. Apalagi jika Anda ingin melihat makamnya secara langsung, hukum bertemu Pak Yasak malah wajib. Bukan apa-apa, tapi makamnya itu dikunci. Lah, Pak Yasak yang pegang kuncinya.
Konon, Dewi Sekardadu dikuburkan bersama dengan gamelannya, dua piring guritan, dan sebuah tombak. Ini merupakan salah satu wasiatnya sebelum meninggal. Wasiat lainnya, ia meminta bagi siapa saja yang ingin berbalas budi terhadap dirinya, cukup menyiratkan tanah di atas makamnya. Jika Anda ingin melakukannya, silahkan saja.

Makam Dewi Sekardadu:
Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan.
Sekitar 1 km sebelah timur Wisata Waduk Gondang, bersebelahan dengan Masjid.
Rumah Pak Yasak:
Sekitar 100 meter sebelah timur makam Dewi Sekardadu, menghadap ke utara

“ZIARAH LELUHUR WALI” DI MAKAM AYAH SUNAN GIRI

Makam Syekh Maulana IshaqDi pantai utara Lamongan, selain makam Sunan Drajat dan makam Sunan Sendang Duwur, juga terdapat makam yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai tempat bersemayamnya jasad Syekh Maulana Ishaq, ayah dari sunan Giri. Mari kita kunjungi.
Sebenarnya tak hanya di Lamongan, makam yang dipercayai sebagai “rumah terakhir” Syekh Maulana Ishaq juga bisa ditemui di banyak tempat. Beberapa di antaranya yakni di Gresik, Situbondo, Klaten, Bantul, Wonosobo, Pemalang, Banyumas, Cirebon, dan lain-lain. Namun, Di Lamongan, selain bisa belajar dari dongeng yang beredar di masyarakat, kita juga disuguhi dengan pemandangan nan elok di mata.
Lokasi makam Syekh Maulana Ishaq ini berada di Jalan Maulana Ishaq, Desa Kemantren, Kecamatan Paciran. Lokasinya tidak jauh dari makam Sunan Drajat, hanya sekitar 2 km sebelah Timur atau tak lebih dari 10 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Kita akan dibuat “adem panas” sesaat setelah sampai di area makam. Tentu, bukan adem panas dalam arti demam, maksud saya. Namun, adem karena sepoi angin dari laut yang menghampar di depan area makam. Dan panas karena daerah pesisir Lamongan memang memiliki suhu udara yang cukup untuk membuat Anda gerah, terlebih di siang hari.
Menurut dongeng yang diceritakan oleh H Askur, juru kunci makam, Syekh Maulana Ishaq sampai di Pesisir Lamongan setelah diusir dari kerajaan Blambangan. Sebelumnya, seperti cerita pada versi-versi lain, Syekh Maulana Ishaq menikah dengan anak Raja Blambangan,Dewi Sekardadu, setelah berhasil menyembuhkan putri kesayangan raja tersebut dari penyakit ganas yang diderita sekian lama.
Akhirnya Syekh Maulana Ishaq pun menikah dengan Dewi Sekardadu seperti yang sudah disayembarakan sang raja sebelumnya: bahwa jika yang dapat menyembuhkan adalah seorang perempuan, maka akan dijadikan saudara Dewi Sekardadu. Sedangkan, jika laki-laki akan dinikahkan dengan putri cantik tesebut. Satu permintaan lain Syekh Maulana Ishaq, yang saat itu disanggupi oleh sang raja, selain hadiah sayembara adalah agar ia diberikan kebebasan untuk siar agama Islam di wilayah kekuasaan kerajaan Blambangan. Padahal, kerajaan Blambangan merupakan kerajaan yang menganut ajaran Hindu.
Makam Syeh Maulana Ishaq 2Dua tahun berselang, saat Dewi Sekardadu sedang hamil muda (mengandung Sunan Giri), sang raja mulai gelisah. Ketidaksepahaman akan agama yang disiarkan menantunya, membuat ia ingkar akan janji yang pernah ia sepakati dulu. Imbasnya, Syekh Maulana Ishaq pun diusir dari kerajaan.
Sebelum pergi, Syekh Maulana Ishaq berpesan kepada istrinya. Jika suatu saat Dewi Sekardadu ingin menemuinya, agar berjalan menyusuri daerah pesisir pantai utara Pulau Jawa. Sebab Syekh Maulana Ishaq akan melanjutkan siarnya di sekitar sana.
“Setelah menempuh perjalanan jauh, Dewi Sekardadu akhirnya bertemu dengan suaminya di desa ini,” tutur H Askur saat bercerita di makam Syekh Maulana Ishaq. Lanjut ia bercerita, setelah kembali berpisah dengan istri untuk melanjutkan siar agama ke daerah lain, Syekh Maulana Ishaq berpesan kepada dua muridnya. Jika suatu saat ia meninggal dunia, agar dimakamkan di tempat yang sama saat bertemu dengan Dewi Sekardadu dulu, yakni di desa yang saat ini bernama Desa Kemantren. Selain makam Syekh Maulana Ishaq, di tempat yang sama secara berdampingan juga terdapat makam dua murid ayah Sunan Giri tersebut.
Dekat dengan laut
Masjid, Bangunan Makam, TPQ
Tidak ada peninggalan-peninggalan kuno pada makam yang dipugar tahun 2012 ini, kecuali makam itu sendiri. Hal ini tentu berbeda dengan makam Sunan Drajad dan makam Sunan Sendang Duwur yang identik dengan batu-batu dan kayu bernilai historis yang tinggi. Bangunan utama makam Syekh Maulana Ishaq hanya berupa bangunan persegi dengan tiang-tiang beton tanpa dinding di tiga sisinya dan beratap genting, dengan alas karpet dan sajadah. Luas bangunan ini sekitar 100 m2. Mirip seperti bangunan sebuah pendopo.
Makam Syekh Maulana Ishaq sendiri ditutup dengan kelambu berwarna putih bersama makam dua muridnya. Untuk dapat melihat lebih dekat tiga makam ini, Anda harus menuruni beberapa anak tangga. Sebab makam-makam ini berada di tempat yang agak menjorok ke bawah. Selain bangunan utama, di area makam juga terdapat sebuah masjid, dan gedung Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) yang bangunannya masih belum rampung.
Terlepas dari dongeng yang ada, area sekitar makam juga memiliki pamandangan yang indah. Terlebih di sebelah utara. Dari makam, Anda hanya perlu berjalan sekitar 100 m melewati jalan yang terbuat dari batu kapur. Dari sana, jika melihat ke arah utara, Anda akan berhadapan langsung dengan laut yang terbentang luas. Sebenarnya dari makam pun laut sudah tampak jelas, sebab jaraknya memang cukup dekat. Sementara jika Anda beralih pandang ke selatan, akan terlihat tiga bangunan besar berdiri berdampingan (masjid, bangunan utama makam, dan gedung TPQ) dengan latar belakang pegunungan di Desa Drajat.
Menengok ke arah timur, Anda akan mendapati perahu-perahu para nelayan yang sedang diparkir. Jika beruntung, Anda bisa juga melihat nelayan menaiki perahu-perahu tersebut berangkat mencari ikan yang – mengutip sajak Zawawi Imron – kepergiannya setiap kali meninggalkan debur gelombang di laut dada isterinya. Jika Anda datang di waktu senja, matahari terbenam di balik rumah-rumah warga yang terletak di pinggir pantai dengan latar depan perahu-perahu nelayan juga sudah menunggu di arah barat. Tentu akan menambah suasana nyaman untuk melepas rasa lelah, bukan?
Apabila Anda ingin dapat suasana ramai di area makam ini, datanglah di akhir pekan – Sabtu dan Minggu. “Di hari-hari masuk kerja, di sini (makam Syekh Maulana Ishaq) relatif sepi. Pengunjung dari luar kota mungkin satu – dua orang saja, sisanya penduduk sekitar,” terang H Askur.
Anda bisa datang ke makam Syekh Maulana Ishaq di Lamongan ini dengan kendaraan umum maupun pribadi. Jika dengan kendaraan pribadi, Anda bisa langsung membawanya masuk ke area parkir. Namun untuk yang membawa mobil atau bus, perlu lebih berhati-hati. Sebab jalan masuk ke makam tidak begitu lebar. Jaraknya kira-kira 6 km sebelah timur WBL. Jika sudah sampai di Desa Kemantren, ada papan petunjuk di depan Jalan Maulana Ishaq, yang mengarahkan Anda ke makam.
Sementara jika naik angkutan umum, Anda bisa minta turun langsung di Jalan Maulana Ishaq, Desa Kemantren. Dari pertigaan desa tersebut, Anda tinggal berjalan 100 m ke arah utara. Seperti di tempat makam di Lamongan lainnya, untuk masuk Anda tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis tis tis!
Perahu-perahu

PERAJIN PERHIASAN ASLI DIAJARI OLEH WALI


Nur Halim bekerja di mejanyaAda sebuah mitos yang populer di kalangan kaum hawa. Mereka percaya jika perempuan mengenakan perhiasan emas, kecantikannya akan bertambah berkali-kali lipat. Andai saja semua itu benar, para perempuan wajib, kudu, harus berterima kasih kepada para pembuat perhiasan itu, yang menyulap emas menjadi aksesoris indah nan menambah pesona para wanita.
Seorang laki-laki berkumis tebal duduk di depan meja kecil dengan gunting, tang, dan alat-alat penuh di atasnya. Matanya tajam mengarah ke meja. Dari raut mukannya tampak, ia sedang penuh konsentrasi. Tangannya bergerak pelan-pelan memegang alat patri, tepat di bawah sinar lampu neon. Padahal saat itu hari masih terang. Seakan tak terusik dengan istri dan anak yang lalu-lalang di belakangnya, ia tetap tekun menyambungkan kawat-kawat kecil emas menjadi sebuah kalung.
Nur Halim, laki-laki yang membuat perhiasan itu sudah 28 tahun menjadi perajin emas. Ia tidak sendiri, di desanya dan desa tetangga, Sendang Duwur dan Sendang Agung, Kecamatan Paciran, Lamongan, sepertiga dari total kepala rumah tangga berprofesi sebagai perajin emas.
Nur Halim lebih sering membuat perhiasan jenis kalung daripada cincin, gelang, atau perhiasan lainnya. Sebenarnya, setiap perajin emas dapat membuat semua jenis perhiasan. Namun, mereka lebih sering membuat sesuai dengan “bidang keahlian” masing-masing. Jika membuat kalung–keahlian Nur Halim, ia dapat memaksimalkan waktu. Sementara jika tidak, “membuat satu buah cincin saja bisa sampai berhari-hari,” katanya.
Dalam sehari, dari pagi sampai pukul 10 malam, Nur Halim dapat menyelesaikan tiga buah kalung. Itu jika permintaan sedang ramai. Jika sepi, ia hanya membuat satu buah saja. Seperti harganya yang suka naik-turun, perajin perhiasan emas juga sering mengalami pasang-surut permintaan. Ketika sedang ramai-ramainya, banyak perajin dadakan, bekerja membuat perhiasan bisa sehari-semalam.
Sebaliknya, jika sepi, banyak perajin yang beralih profesi. Mereka memilih menjadi nelayan atau petani yang hasilnya hampir pasti. Bagi Nur Halim pribadi yang hampir selalu mendapat pesanan setiap hari, belum terpikir untuk “berdiri” meninggalkan kursi di depan meja kecilnya. “Selama mata masih ‘terang’, saya masih akan terus membuat perhiasan,” akunya.
Puncak ramai pesanan emas, menurut Nur Halim, berbanding lurus dengan panen tembakau di Kota Bojonegoro. Biasanya setelah panen, banyak petani tembakau dari sana membeli perhiasan emas untuk investasi ala orang tua zaman dulu.
Alat-alat jadul
Di tengah maraknya perhiasan-perhiasan emas dari pabrik yang dikerjakan dengan peralatan yang canggih, Nur Halim masih mengandalkan alat-alat manual. Palu dan alasnya, tang, gunting, pencapit, dan mesin patri menjadi “senjata” wajib. Kecuali mesin patri yang cepat rusak, alat-alat Nur Halim umumnya barang tua, warnanya kehitaman tanda sudah dimakan usia. Kalau kata anak zaman sekarang, semua alatnya sudah jadul.
Proses pembuatan perhiasan model apapun, dimulai dengan memipihkan emas batangan berkadar 24 karat. Emas itu dipecah kecil-kecil menggunakan palu, kemudian dilebur. Jika ingin mengurangi kadar emasnya, tinggal ditambahkan tembaga dan perak sesuai dengan kadar yang ingin dicapai.
Setelah melebur, lelehan emas dibentuk berdasarkan jenis yang ingin dibuat. Bentuk cincin tentu memiliki cetakan yang berbeda dengan gelang, begitu juga dengan kalung. Untuk kalung, lelehan emas dibentuk menjadi kawat-kawat kecil nan panjang.
Kawat-kawat itu selanjutnya melewati proses penghalusan. Jika sudah siap, kawat-kawat mengilap siap dipotong, dibentuk sesuai pola, lalu dirangkai sesuai jenis kalung yang dikehendaki. Nur Halim biasa membuat empat jenis kalung, yakni rantai, RRT, satelit, dan siem. Keempatnya dibuat dengan cara yang sama tapi melewati proses pengerjaan yang berbeda.
Kawat-kawat yang sudah dirangkai kemudian dipatri. Proses perangkaian dan pematrian ini merupakan proses yang butuh kejelian mata. “Itu sebabnya, perajin emas sangat bergantung dengan kondisi matanya,” kata laki-laki 50 tahun itu.
Untuk kalung polos, tahap terakhir yang dikerjakan Nur Halim yakni mengikir dan mencuci. Pencucian perhiasan menggunakan bahan kimia khusus. Bapak dua orang anak ini biasa mencuci dalam wadah logam yang dialiri listrik. Sementara untuk kalung yang mempunyai motif, kembang-kembang misalnya, harus dibawa ke ahlinya dulu sebelum dicuci.
Lebih murah
Nur Halim biasa membuat kalung dengan kadar antara 70 persen sampai emas murni. Ia tak membuat kalung yang bobotnya kurang dari 10 gram. Sebab, membuat kalung dengan bobot ringan berarti membuat kalung dengan ukuran kecil. Jika begitu, mata pun harus bekerja ekstra. “Kasihan mata saya,” alasannya.
Jika dibandingkan dengan perhiasan emas buatan pabrik, perhiasan emas made inSendang Duwur dan Sendang Agung memang kalah dalam beberapa hal, seperti model, motif, bentuk, dan warna. Tapi, Nur Halim mengklaim, perhiasan emas hasil dari alat manual lebih kuat dan lebih murah. Saya yakin, keunggulan yang terakhir ini bisa membuat para perempuan tersenyum semringah. (:p)
Bekerja sebagai perajin perhiasan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan seorang akuntan. Keduanya sama-sama bisa menyelesaikan pekerjaan hanya dengan duduk di belakang meja saja.
Dibawa oleh Sunan Sendang Duwur
Kerajinan emas sudah menjadi profesi turun-temurun di Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung. Para perajin yang masih bertahan sampai saat ini telah melihat proses pembuatan perhiasan emas sejak zaman nenek buyut mereka.
Konon, kerajinan emas pertama kali dibawa oleh Sunan Sendang Duwur sekitar Abad ke-15. Sejak saat itu, mayoritas penduduk laki-laki belajar membuat perhiasan. Setelah mahir, mereka menjadi perajin perhiasan. “Sementara yang perempuan membuat batik tulis,” tutur Nur Halim.

SEDERET LUKA PARA PENYADAP NIRA  


Memanjat Pohon SiwalanDi balik rasanya yang manis-segar, tidak banyak yang tahu jika nira siwalan, yang biasa disebut legen, diambil dengan susah payah oleh para penyadapnya. Bukan hanya pendapatan yang tak seberapa, yang lebih miris, nyawa pun bisa jadi taruhannya! 
  Gubuk Pak Suwanu 
Seorang lelaki tua mengendarai sepeda jengki yang tak kalah tua dengan pengendaranya. Dengan bawaan yang diletakkan di boncengan, ia tampak masih bertenaga mengayuh sepeda di usia 65 tahun. Jika beberapa orang seusianya bisa beristirahat di rumah, menunggu kiriman uang dari anaknya atau sekadar menunggu uang pensiun cair di tanggal muda, Pak Suwanu, lelaki tua pengendara sepeda itu, masih giat bekerja sebagai penyadap nira.
Bagi kita yang masih muda, jarak yang ia tempuh memang tak begitu jauh, hanya sekitar 1 km. Namun, bagi Pak Suwanu yang berjalan saja sudah membungkuk, perjalanan tidaklah menyenangkan. Belum lagi, bagi warga Paciran, Lamongan ini, mengayuh sepeda dan bersimpangan dengan truk-truk besar selalu was-was. Kita perlu mafhum, jalan raya yang dilewati Pak Suwanu merupakan jalan utama pantai utara antara Tuban dan Surabaya.   
 Kembang Penyadap Nira SiwalanDicampur getah kembang
Bersamaan dengan bel sekolahan berbunyi, sekitar pukul 7 pagi, ia sampai di gubuknya. Gubuk kecil yang dibangun di atas kebun siwalan milik orang. Ukuran gubuk itu hanya sekitar 20 m2. Atapnya genting dan dinding lontar (daun siwalan) kering. Tinggi dindingnya tak sampai dua meter. Orang jangkung mesti membungkuk jika ingin masuk ke dalam. Gubuk ini bak rumah kedua bagi Suwanu. Ia tak perlu membayar kepada pemilik kebun. Sebab, ia sudah meminta izin. Lagi pula kebun itu memang tak dirawat oleh sang pemilik. Di situ, di gubuk itu, Suwanu menghabiskan waktu seharian, menyiapkan diri sebelum memanjat siwalan, menyimpan legen, membuat sirup nira siwalan, dan beristirahat.
Tak menunggu waktu lama, setelah memakir sepadanya, Suwanu segera menyiapkan belasan bumbung untuk menampung nira dari pohon yang akan ia panjat. Sementara itu, bumbung-bumbung lain sudah terpasang di atas pohon sejak kemarin sore dan siap untuk diturunkan.  
Tak banyak yang tahu, jika sebelum dipasang, bumbung-bumbung itu diisi dengan sedikit campuran air dan getah kembang dari pohon, yang Suwanu sendiri tak tahu nama pohon itu. Air dan getah yang  dicamurkan ini sangat sedikit sehingga tak mempengaruhi kualitas legen. Tujuannya, agar legen hasil sadapan tidak terasa asam. Jadi, kata Suwanu, kalau ada yang bertanya soal legen Paciran itu asli atau tidak? Jawabannya hampir selalu tidak. Sebab legen selalu dicampur dengan air getah kembang itu. “Beda lagi kalau tanyanya jelas, campuran apa, campuran gula pasir misalnya. Jawabannya bisa asli bisa tidak,” ujarnya.
Saat akan memanjat, Suwanu tak lupa memasang dua “senjata” andalan di lingkar perutnya yang kurus kering, sebilah golok dan sebuah pengait yang terbuat dari potongan bambu. Jangan salah, Suwanu bukan akan berkelahi. Ia membawa golok untuk memotong mayang siwalan. Sedangkan pengait, yang oleh warga sekitar Paciran biasa disebutcangkrian (bahasa jawa cangkrik = kait, cangkrikan = pengait), ia gunakan untuk membawa naik-turun bumbung-bumbung dari pohon siwalan.
Memanjat Pohon Siwalan2Pernah jatuh saat memanjat
Sekarang, semua sudah siap. Dengan telanjang dada dan badan yang terbungkuk, Suwanu berjalan menuju pohon yang akan ia panjat. Ada puluhan pohon siwalan di sekitar gubuknya. Namun, hanya enam pohon yang ia jadikan “ladang emas”. Siwalan memiliki dua jenis pohon, bertongkol bunga jantan dan betina. Bedanya, pohon siwalan bertongkol bunga jantan menghasilkan nira dalam jumlah yang lebih banyak daripada siwalan yang bertongkol bunga betina. Namun, siwalan yang bertongkol bunga betina dapat menghasilkan buah lebih banyak ketimbang siwalan yang bertongkol bunga jantan. Pak Suwanu sendiri hanya memanjat pohon yang menghasilkan banyak nira.
Pohon pertama yang akan Pak Suwanu panjat terletak beberapa meter di depan gubuk. Tingginya sekitar 10 meter. Pelan namun cekatan, tangan dan kakinya bertumpu pada tiap pijakan di batang pohon palma itu. Nyali bukan lagi persoalan. Ia yang sudah 40 tahunan menjadi penyadap nira siwalan, sudah kehilangan rasa takut akan ketinggian. Meski begitu, jika konsentrasinya hilang saat di atas pohon, jatuh yang berakibat luka parah sampai kematian menjadi taruhan.
“Pernah jatun satu kali. Untung naiknya belum terlalu tinggi. Tanahnya juga empuk, habis hujan. Jadi tidak apa-apa. Tapi itu sudah dulu sekali,” terang lelaki yang sejak remaja sudah menyadap nira siwalan ini. 
Senjata AndalanSekitar 15 menit Suwanu berada di atas pohon. Ia mengganti bumbung yang sudah terisi legen dengan bumbung baru yang ia bawa dari bawah. Entah apa lagi yang ia lakukan di atas sana hingga begitu lama. Mungkin ia terlalu lelah dan beristirahat sejanak, mungkin juga ia menikmati pemandangan laut lepas yang bebas ia pandang dari atas. Ya, kebun siwalan di Paciran memang banyak yang berbatasan langsung dengan laut. Sungguh pemandangan yang tidak semua orang bisa menikmatinya.  
Hari ini tampaknya kurang bersahabat dengan Suwanu. Dari delapan bumbung yang ia bawa turun, hanya dua liter legen yang ia dapat. Padahal, di musim kemarau seperti ini, biasanya ia bisa membawa turun  4-5 liter legen dari satu pohonnya. Mayang siwalan memang lebih banyak menghasilkan nira di musim kemarau daripada musim hujan. Selain itu, di musim hujan, air hujan juga bisa merembas masuk ke dalam bumbung yang dipasang untuk menampung nira. Itulah sebabnya mengapa legen di musim hujan rasanya tidak begitu manis. 
Di Atas PohonDirebus lebih awet tapi kurang segar
Matahari mulai meninggi, sinarnya menembus sela daun-daun siwalan. Begitu ombak di laut mulai pasang – seperti yang digambarkan dalam syair D. Zawawi Imron – maka daun-daun siwalan berayun karena angin tak henti bersiul. Ah, indah sekali.
Mungkin ini salah satu pemandangan indah yang luput dari mata Pak Suwanu. Sebab, usai turun, ia masih harus memanjat pohon siwalan yang lain. Baru kira-kira pukul 10.00 nanti, ia kembali ke gubuk, mengolah legen, memberi makan delapan ekor kambingnya, dan beristirahat. Sejak dua tahun lalu, setelah istrinya meninggal, Pak Suwanu bekerja sendiri. “Istri saya sakit demam seharian, lalu tiba-tiba saja ia meninggal,” kenang Pak Suwanu yang membawa saya dalam suasana haru. 
Kadang Pak Suwanu menjual begitu saja legen yang masih segar dalam botol kemasan air mineral 1,5 liter. Kadang juga ia rebus supaya lebih tahan lama. Legen yang direbus dan tidak, memiliki cita rasa yang sedikit berbeda. Legen yang tidak direbus rasanya manis segar, terdapat sensasi unik ketika sampai di tenggorokan, mirip seperti saat minum minuman bersoda. Sementara legen yang sudah direbus rasa manisnya bertambah karena volumenya berkurang akibat proses perebusan, tidak begitu segar, dan sensasi di tenggorokan juga berkurang. 
Perbedaan rasa pada kedua legen ini tidaklah signifikan. Berbeda dengan legen yang sudah dicampur gula pasir, air kelapa, dan bahan lain yang ditambahkan untuk memperbanyak volume legen. Biasanya jika bahan-bahan tersebut ditambahkan, legen menjadi lebih cepat basi. 
Legen segar tanpa direbus hanya mampu bertahan tak lebih dari 24 jam. Sedangkan jika direbus tanpa campuran, legen bisa tahan sampai dua hari. Lebih dari itu, legen terfermentasi menjadi tuak yang memabukkan. Atau jika terfermentasi lebih lama lagi, legen bisa menjadi cuka, salah satu bahan dapur yang kecut itu.
“Mestinya legen tak harus sampai jadi tuak . Sebelum basi bisa diolah menjadi sirup  siwalan yang bisa tahan sampai dua minggu. Kalau pengen awet lagi, dibuat gula merah siwalan. Itu malah tahan sampai tiga bulan,” terang Pak Suwanu. Ia sendiri hanya menjual legen dan membuat sirup siwalan.
Memelihara KambingMenyadap nira pagi dan sore hari
Untuk sementara, tugas Pak Suwanu telah usai. Setelah berpanas-panasan di depan tungku yang terletak di tengah-tengah gubuk selama membuat sirup siwalan, sekarang, ia bisa beristirahat sembari menunggu para pelanggannya datang. Pak Suwanu tidak menjajakan legen dan sirup buatannya. Ia memiliki beberapa pelanggan setia, yakni pedagang-pedagang legen dan es dawet siwalan pinggir jalan dan konsumen yang datang langsung membeli di gubuk Pak Suwanu. “Banyak yang beli ke sini, dari pedagang sampai Pak Camat,” bangganya.
Menjadi penyadap nira siwalan, bagi Pak Suwanu, bukan hanya soal untung atau rugi. Selain tidak pernah membuat legen “KW”, ia selalu berkata apa adanya kepada para pelanggan. “Kalau legennya saya rebus, saya bilang saya rebus. Kalau tidak mau beli, ya tidak apa-apa, yang penting saya jujur,” tegasnya.
Pak Suwanu menjual legennya dengan harga Rp 5.000 per botol ukuran 1,5 liter. Sementara untuk sirup, ia jual Rp 30.000 untuk botol ukuran serupa, dan Rp 10.000 untuk botol ukuran 600 ml. Hasil yang didapat Pak Suwanu memang tak seberapa jika dibandingkan dengan peluh yang bercucur di badan dan risiko yang ia pendam dalam hati.
Kini matahari sudah benar-benar di atas kepala. Terasa panas menyengat. Terlebih udara di pesisir Paciran yang terkenal cukup panas, hingga berteduh di dalam gubuk Pak Suwanu pun masih terasa gerah. Saat seperti ini, Pak Suwanu gunakan untuk makan siang dengan bekal yang ia bawa dari rumah. Ia juga masih mempunyai waktu beberapa jam untuk berlesehan di dipan sambil nenunggu waktu sore, saat ia harus memanjat pohon-pohon siwalan lagi. Karena menyadap nira dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore.
Penyadap nira di Paciran tidak banyak  yang seusia Pak Suwanu. Tapi, semangatnya bekerja masih belum pudar. Selama masih kuat memanjat pohon siwalan, ia akan terus menyadap nira, membuat sirup, dan “membagi manisnya” untuk semua pelanggannya.

Bumbung

MINIM BIAYA ALA KOMPOR BRIKET BATU BARA

Tahun 2006, saat subsidi minyak tanah akan dicabut oleh pemerintah, tersebar isu jika bahan bakar alternatif berikutnya adalah briket batu bara. Meski dalam realisasinya, seperti yang kita gunakan saat ini, elpiji yang akhirnya dipilih oleh pemerintah. Tapi, briket batu bara, bahan bakar yang disebut lebih murah daripada elpiji ini tidak serta-merta hilang dari minat masyarakat. Masih ada beberapa orang yang menggunakannya, terutama di kalangan industri. Produsen kompor briket batu bara juga masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya Sutrisno, warga Menongo, Sukodadi, Lamongan.
Sebelum mengenal kompor briket batu bara, Sutrisno sudah akrab dengan alat-alat dapur, seperti dandang, panci, dan benda-benda dari logam lainnya. Di tahun 1979, ia bekerja sebagai buruh di Surabaya, di salah satu industri pembuat perkakas rumah tangga berbahan logam.
Setelah menikah, ia mulai bekerja secara mandiri. Bermodal uang Rp 49.500 hasil menjual perhiasan yang ia pinjam dari saudaranya, Sutrisno membeli gunting, perkakas bekas dan beberapa lembar logam untuk membuat produk sendiri. Tidak berbeda dari apa yang dikerjakan sebelumnya, ia membuat perkakas dapur berbahan logam secara kecil-kecilan.
Setahun kemudian, ia menambah lagi produk buatannya berupa kompor minyak tanah. Ia belajar membuat kompor dengan pedoman ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). “Saya membeli sebuah kompor yang bagus. Saya lihat komponen-komponennya apa saja, lalu saya praktikan buat. Tapi bukan mau membajak produk itu, saya buat model dan merek sendiri,” terang Sutrisno yang memakai merek “Bintang 5” pada semua produknya.
Hemat untuk peternak ayam, boros untuk rumahan
Kebanyakan peminat kompor briket batu bara berasal dari kalangan industri, lebih khusus lagi oleh para peternak ayam indukan. Sementara untuk rumah tangga, kompor briket batu bara tidak banyak dilirik. Maklum, untuk skala pemakaian kompor di dapur, briket batu bara tidak efisien.
Alasan pertama, untuk penyalaan awalnya membutuhkan waktu yang lama, antara lima sampai lima belas menit. Tidak cocok untuk memasak di rumah yang pedomannya: lebih cepat, lebih baik. Seperti pada kompor minyak tanah yang penyalaan apinya tidak lebih dari satu menit dan kompor gas elpiji yang bahkan tidak lebih dari dua detik. “Sebenarnya penyalaan api kompor briket batu bara yang lama ini bisa diakali dengan pengunaan buvarium, tapi harganya bisa melambung tinggi,” ujar Sutrisno.
Alasan kedua, bahan bakar briket batu bara hanya sekali pakai. Jadi, jika kompor tersebut menggunakan 3 kg briket batu bara sebagai bahan bakarnya. Bahan bakar yang bisa menyalakan api sekitar enam jam itu harus terus digunakan untuk memasak. Jika sudah dimatikan,  briket batu bara tidak bisa digunakan lagi, sudah jadi ampas.
Kita tahu, waktu memasak di dapur jarang sekali memakan waktu sampai enam jam secara kontinu. Apa lagi jika hanya memasak mie instan atau makanan cepat saji lain yang hanya perlu nyala api sekitar lima menit. Bukannya penghematan, penggunaan kompor briket batu bara seperti itu justru menjadi pemborosan yang sia-sia.
Sementara jika digunakan untuk peternakan ayam, kelemahan-kelemahan pada penggunaan kompor briket batu bara bisa dimaklumi jika yang menjadi patokan adalah penekanan biaya. Seperti pedoman yang banyak dianut oleh pegiat industri: lebih murah, lebih baik.
Kompor briket batu bara digunakan untuk menghangatkan anak ayam usia 0 sampai 2 minggu di malam hari. Anak-anak ayam yang membutuhkan suhu sekitar 350 C  agar dapat tumbuh sempurna itu dihangatkan dengan nyala api kompor yang disebarkan lewat kanopi ke seluruh ruangan. Satu kompor briket batu bara, biasanya dapat menghangatkan 750 sampai 1000 ekor anak ayam. Kini, Sutrisno tidak lagi membuat kompor briket batu bara untuk rumah tangga, kecuali jika ada yang memesan. Ia hanya membuat kompor untuk peternak ayam. Itu pun dalam jumlah yang terbatas.
Dalam semalam, penggunaan kompor minyak tanah memakan biaya Rp 25.000. Sementara kompor gas elpiji menghabiskan Rp 15.000. Jika menggunakan briket batu bara, biaya yang dikeluarkan hanya Rp 7.500. “Dengan briket batu bara, peternak ayam 50 persen lebih hemat daripada menggunakan gas elpiji,” terang Sutrisno.
Selain itu, kelebihan lain dari briket batu bara yakni – mengutip pernyataan Presiden SBY –1000 persen tidak berjelaga seperti minyak tanah dan 2000 persen aman karena tidak berpotensi meledak seperti yang sering terjadi pada gas elpiji. Sayangnya, ketiga bahan bakar ini sama, sama-sama tidak ramah lingkungan.
Paling bagus nyala apinya dari 100 kompor
Sama seperti kompor-kompor lainnya, kompor briket batu bara memiliki komponen-komponen khusus yang wajib ada agar api dapat menyala dengan sempurna, di antaranya tangki ruang udara, ruang bakar, dan penampung abu sisa batu bara.
Tangki ruang udara berfungsi untuk masuk keluarnya udara. Di tangki ini besar kecilnya nyala api diatur. Semakin besar pintu udara dibuka, semakin besar pula apinya, begitu juga sebaliknya. Sementara ruang bakar merupakan tempat bahan bakar, yakni briket batu bara. Ada berbagai macam ukuran ruang ini, tergantung model kompornya. Model buatan Sutrisno, misalnya, kompor rumah tangga yang pernah ia buat dulu, ruang bahan bakar dapat diisi dengan 3 kg briket batu bara. Sementara kompor untuk menghangatkan ayam di peternakan, volume ruang bakarnya lebih besar dua kali lipat.
Bentuk kompor briket batu bara untuk rumah tangga dan untuk peternakan ayam juga berbeda. Kompor untuk rumah tangga, bentuk luarnya mirip dengan kompor minyak tanah. Hanya saja jika diperhatikan komponen-komponen dalamnya berbeda, seperti tempat sumbu diganti dengan tempat bahan bakar, tangki minyak tanah diganti dengan tangki ruang udara, dan lain-lain.
Sementara kompor untuk peternakan ayam berbentuk tabung panjang. Tingginya 1,4 m dengan diameter 55 cm. Kompor ini dilengkapi dengan penyebar panas berbentuk mirip caping petani namun dengan ukuran yang jauh lebih besar. Fungsinya menyebarkan panas dari api kompor ke seluruh ruangan. Sisanya, tempat abu sisa batu bara, berfungsi untuk menyimpan sisa abu yang bekas pembakaran batu bara. Abu ini bisa digunakan sebagai abu gosok.
Membuat kompor briket batu bara, menurut Sutrisno, cukup mudah. Yang sulit justru bagaimana cara mengenalkan kepada masyarakat, khususnya peternak ayam, agar mau memakainya. Untuk yang satu ini, Sutrisno beruntung. Tahun 1997, ia mengikuti perkumpulan pembuat kompor briket batu bara di Jakarta yang dihadiri oleh 100 perajin kompor dari berbagai daerah di Indonesia. Tak dinyana, kompor briket batu bara buatannya menjadi kompor dengan nyala api paling bagus.
Dari sana, jalan untuk sosialisasi jadi lebih mudah. Beberapa bulan setelah acara tersebut, ia diundang untuk temu wicara dengan presiden RI saat itu, Pak Harto. Di siang hari suaranya mengudara di radio, malam harinya, ia tampil di televisi. “Sejak itu, banyak peternak ayam yang cari saya, bangganya.
Sampai saat ini, di mata Sutrisno, kompor briket batu bara masih diminati meski hanya oleh minoritas peternak ayam. “Dari tahun 1995 sampai sekarang, saya masih buat kompor briket, artinya kan masih ada yang pakai,” ujar Lelaki kelahiran Bojonegoro ini. Karena penggunanya yang sedikit, Sutrisno lebih fokus memproduksi peralatan peternak ayam lainnya, seperti tempat makan ayam, fumigasi telur, kanopi, dan lain-lain.
Kini, kompor briket batu bara “Bintang 5” buatan 40 karyawan Sutrisno sudah melanglang buana di banyak tempat di Indonesia, di Jawa maupun luar Jawa. Melihat peminatnya yang semakin langka, akankah kompor ini masih akan bertahan lama? Biar waktu yang menjawabnya.
Eksperimen kandang ayam
Sebagai produsen peralatan ternak ayam, sampai saat ini, Sutrisno belum pernah memelihara ayam sendiri. Pertama kali membuat kompor briket batu bara untuk penghangat anak ayam, ia melakukan sebuah eksperimen unik, yakni membuat duplikasi kandang anak ayam di rumahnya.
Ruang duplikasi kandang anak ayam ia buat bersekat-sekat. Setiap setengah meter, ia pasang termometer. Begitu kompor yang diletakkan beberapa meter di atas alas ia nyalakan, dari sana ia tahu, berapa radius hangat yang dihasilkan oleh kompor buatannya. “Jadi, kita tahu betul seperti apa alat kita. Jangan sampai ada yang tanya soal alat yang kita buat, kita tidak bisa jawab. Tidak lucu kan?” pungkasnya.

BERKAH BLEWAH DAN SEMANGKA DI MUSIM KEMARAU

Buah 5Di Musim hujan, area yang luasnya membentang di antara Kecamatan Sekaran dan Kecamatan Pucuk, Lamongan ini menjadi rawa. Airnya dialirkan untuk irigasi sawah ke banyak desa. Sedangkan, di musim kemarau, air rawa mengering. Area ini kemudian dimanfaatkan sebagai lahan tanam semangka, melon, dan buah-buahan sejenisnya.
Ada pemandangan unik di sepanjang jalan dari pertigaan Desa Pucuk ke arah utara di antara bulan Agustus sampai November. Di sisi-sisi jalan berjajar belasan tenda-tenda bambu berbadan dan beratap terpal. Tenda-tenda yang luasnya tidak lebih dari 36 m2 ini menampung ratusan buah labu-labuan seperti semangka dan melon. Buah-buah sebanyak itu memang sengaja dipajang untuk dijual kepada orang-orang yang kebetulan saja lewat dan para tengkulak.
Bedanya dengan buah labu-labuan yang dijual dipasar, buah-buah di sana dijamin masih sangat segar karena diambil langsung dari lahan tanam bekas rawa seluas puluhan hektare yang terletak disekitar tenda. Lahan-lahan tersebut adalah lahan milik petani yang beberapa di  antaranya merangkap menjadi pedagang di tenda. “Tapi hasil dari lahan milik sendiri umumnya masih kurang untuk dijual. Jadi, kekurangannya kami dapat dengan kulak ke petani lain,” ujar Nur Hasan, salah satu pedagang yang mengaku memiliki lahan seluas 2 ha.
Tenda pinggir jalan 2Lahan milik sendiri tersebut oleh Nur Hasan ditanami semangka, melon, timun mas, dan blewah. Untuk semangka dan melon sendiri ada beberapa jenis yang ditanam, seperti semangka sweet beauty, semangka new dragon, semangka golden crown, melon hijau, melon jingga (Cantaulope), melon apollo, serta melon madu (Honeydew melon).
“Yang paling mahal melon Apollo. Harganya sekitar delapan ribu rupiah per kilogram,” terang lelaki yang berasal dari Desa Latek, Sekaran ini. Melon apollo memang lebih mahal selain karena harga bibitnya yang memang mahal, “Juga karena melon apollo rasanya lebih enak,” tambahnya. Melon apollo merupakan melon hibrida, bentuknya lonjong, kulitnya kuning menyala tanpa jala, dan daging buahnya manis namun tidak berbau harum. Sedangkan untuk buah yang paling murah adalah blewah. Harganya hanya sekitar Rp 2.000 per kilogramnya.
Para pedagang buah “dadakan” ini umumnya, termasuk Nur Hasan, mulai membuka tenda mereka pukul 7 pagi sampai sekitar pukul 5 sore. Namun beberapa ada yang sampai tengah malam, bahkan ada juga yang tidur di tenda berbantal guling buah-buah bulat tersebut.
Karena berjualan buah ini terbilang profesi musiman, para pedagang umumnya memiliki pekerjaan lain. Pedagang buah hanya menjadi “label” mereka dalam sekitar tiga bulan saja. Nur Hasan yang sudah berdagang buah dalam 10 tahun terakhir ini, sehari-hari menjual aksesori di pasar. Namun saat ini ia harus libur dahulu berdagang di pasar karena harus mengurusi buah-buah miliknya. Menurutnya, secara finansial berdagang buah lebih menguntungkan daripada berdagang aksesori seperti yang ia jalani. “Hasilnya bisa dua kali lebih banyak,” akunya.
LadangBerbeda lagi dengan Kasmiah, salah satu pedagang buah yang lain. Aktivitasnya di luar tiga bulan berdagang buah masih bergelut dengan tanam-menanam. Wanita 50 tahun asal Desa Miru ini adalah seorang petani padi.
Kasmiah juga mendapatkan aneka macam buah labu-labuan yang ia jual dari lahan 2 ha yang ia tanami. Lahan seluas 1 ha miliknya sendiri dan 1 ha sisanya ia sewa. Karena buah yang didapat dari lahan 2 ha itu masih juga kurang untuk dijual, sama seperti Nur Hasan, Kasmiah juga kulak dari petani lain.
Untuk tahu matang atau belumnya buah labu-labuan kadang bukan hal yang mudah buat kita, namun bagi Kasmiah hal tersebut tidak lebih sulit dari menarik hati pembeli. Ada tiga “jurus” indra yang ia pakai. Pertama, dari mencium bau buah. Untuk beberapa jenis buah, bau yang harum merupakan pertanda bahwa buah itu matang sekaligus manis. Namun, ini tidak berlaku untuk melon apollo. Sebab, sekali lagi, meskipun sudah matang, buah ini tidak berbau sama sekali.
Kedua, dari melihat warna kulitnya. Buah yang sudah matang warnanya lebih gelap daripada buah yang masih muda. Ketiga, dengan mendengarkan suara dari buah yang dipukul pelan. Dua cara sebelumnya mungkin bisa kita tiru, tapi untuk yang satu ini nampaknya perlu keahlian dan kejelian telinga khusus. “Antara yang matang dan belum bunyinya nyaris sama, tapi sebenarnya bisa dibedakan,” kata Kasmiah sambil mempraktekkan memukul buah semangka yang menurut pendengarannya sudah matang.
Sebenarnya ada cara yang paling mudah untuk menentukan matang-belumnya buah, yakni dengan langsung dibelah. Anda bisa mempraktikkannya, namun jangan lupa beli buah yang telah Anda belah. Jika tidak, jangan kaget jika semangka ukuran besar tiba-tiba melayang dari pedagang ke arah Anda. :p
Panen 3Tak ada yang mencuri
Sebenarnya waktu tiga bulan berjualan buah bukanlah total waktu mereka bergelut dengan semangka dkk. Sebelum itu mereka menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk menanam hingga memanen buah. Buah labu-labuan memiliki masa panen yang relatif sama, sekitar 70-100 hari sejak pertama kali ditanam.
Selama masa itu, mereka harus menyiram, memupuk dan mengobati buah-buah mereka. “Agar dapat panen maksimal dan tidak terserang penyakit, mau tidak mau ya harus begitu,” tegas Bani, pedagang yang berasal dari Desa Trosono.
Bani  sendiri menanam semangka, melon, dan blewah pada 3 ha lahan miliknya. Lahannya yang terbilang cukup luas, membuat Bani kulak tidak begitu banyak. Selain buah yang ia pajang di tenda, Bani juga menyimpan stok buah di tempat penggilingan padi miliknya. Buah di tenda-tenda millik para pedagang ini tidak setiap malam dijaga. Ada yang selama dua bulan ditinggalkan begitu saja. Hanya ditutup terpal. “Disimpan di tempat penggilingan padi bukan masalah aman, tapi karena di tenda tidak muat. Lagi pula di sini cenderung tidak ada yang mencuri kok,” terangnya.
Buah labu-labuan yang dihasilkan oleh para petani di Kecamatan Sekaran ini tidak semuanya dijual di tenda-tenda. Buah yang dihasilkan dari puluhan hektare lahan tentu terlalu banyak jika hanya dijual di satu tempat. Untuk itu, tidak sedikit buah yang diborong oleh pembeli dari dalam maupun luar Lamongan. “Dulu buah dari sini (Sekaran) saya jual ke Kecamatan Sugio. Kebetulan di sana ada tempat wisata Waduk Gondang, jadi lumayan ramai,” tutur Gianto, pedagang asal Desa Miru yang musim panen tahun ini memilih untuk berjualan di tenda-tenda seperti Nur Hasan dan yang lain. Menurut pengalamannya, berdagang di Sugio dan di Sekaran ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. “Sekarang di sini saja, biar lebih dekat juga dengan rumah,” alasannya.
Panen 2Bedanya dengan Nur Hasan, Kasmiah, dan Bani, Gianto tidak memiliki lahan sendiri untuk ditanam. Ia sepenuhnya kulak dari petani langganannya. Setiap stok buahnya habis, ia segera menghubungi petani langganannya itu.
Siklus bergilir
Hasil berjualan buah labu-labuan ini bisa dibilang menguntungkan. Maka jangan heran jika ada pedagang yang berjualan hanya karena kebetulan ingin saja. Sumarlik misalnya, karena warung kopi miliknya berada di antara tenda pedagang buah, ia akhirnya tertarik untuk mencoba berdagang buah juga. Dengan modal uang Rp 4 juta, ia membeli semangka satu mobil bak penuh. “Ini pertama kali, saya masih belajar berdagang buah,” ujar perempuan kelahiran Sumenep, Madura ini.
Sumarlik juga belum tahu apakah tahun depan akan berjualan buah labu-labuan lagi atau tidak. Sebab, menurutnya, berdagang buah ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Daya tahan buah menjadi penyebabnya. Tidak sedikit buah miliknya yang sudah busuk padahal belum banyak yang laku terjual.
Beda lagi cerita Derman, salah satu pedagang yang bisa dibilang paling sering “bergaul” dengan buah labu-labuan. Saat musim buah labu-labuan di Sekaran seperti saat ini, warga desa Trosono ini mendirikan tenda bersama dengan pedagang-pedagang lain. Saat musim tanam telah habis, jika pedagang lain kembali pada aktivitasnya semula, ia tetap setia pada melon dan semangka. Hanya saja ia tidak lagi menjual dengan berdiam diri di tenda, namun menjajahkannya dengan berkeliling ke desa-desa.
“Melon dan semangka itu siklus tanamnya bergilir. Jadi kalau di sini sudah habis masa panen, di daerah lain baru mulai. Setelah ini mungkin di Tuban, di Banyuwangi, dan di Jombang. Nanti saya dikirim dari sana,” terangnya.
Lahan tanam padi juga
Area lahan yang saat ini dipakai untuk menanam buah labu-labuan ini mengalami tiga fase dalam setahun. Fase pertama, di musim hujan sebagai rawa. Fase kedua, di musim kemarau sebagai lahan tanam buah. Fase ketiga, di musim kemarau menginjak musim hujan sebagai lahan sawah yang ditanami padi.
PanenKeadaan tanah setelah kering dari air rawa membuat tanah menjadi gembur dan kaya akan bahan organik, cocok untuk lahan tanam semangka dan saudara-saudaranya yang masuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Sementara saat masa panen buah labu-labuan selesai, lahan ditanami padi dengan metode tanam yang mirip dengan menanam jagung, yakni dengan membuat lubang-lubang untuk diisi dengan calon batang padi. Dengan metode ini waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat karena tidak perlu membajak tanah. “Bisa mengejar waktu. Agar sebelum lahan menjadi rawa kembali, padi sudah bisa dipanen,” ujar Muchid, salah satu petani yang memiliki lahan di rawa seluas 1 ha.
Di musim tanam buah tahun ini, Muchid memilih untuk menanam semangka dan blewah saja, tanpa melon dan timun mas. Menurutnya, menanam melon membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih karena proses perawatannya lebih rumit. Semangka dan blewah yang ia panen tidak dijual di tenda-tenda, melainkan diborong oleh tengkulak yang berasal dari pelbagai daerah seperti Tuban, Blora, Jombang, dan Kudus.
Musim buah labu-labuan di Sekaran, Lamongan tahun ini mengalami kemunduran waktu. Ini disebabkan musim kemarau yang juga mundur. Jika biasanya pada bulan Juni sudah mulai menanam, tahun ini mundur sampai bulan Agustus. Diperkirakan buah-buah ini akan terus ada sampai akhir November. Bagaimana dengan tahun depan? Maju, tetap, atau mundur? Jangan tanya saya, yang tahu jawabannya mungkin para ahli di Badan Meteorologi dan Geofisika.

SENI TARI “DALAM” BORAN

Latihan 4
Foto-foto: Diambil saat latihan Tari Mendhak
Boran di tangan para penjual nasi tentu akan berfungsi sebagai tempat nasi. Tapi, jika boran-boran itu berada di tangan para pencinta seni tari hasilnya adalah sebuah karya yang unik. Kita bisa melihat hal tersebut pada pertunjukan Tari Boran, tari khas dari Lamongan. 
—-
Delapan wanita berpakaian kembar, kebaya sederhana berwarna merah muda dengan bawahan sarung selutut, melenggak- lenggokkan badannya di atas panggung dengan energik. Rangkaian gerakan nan dinamis, mereka padukan dengan permainan boran yang asyik. Boran merupakan nama tempat n asi mirip bakul, namun memiliki diameter dan ukuran yang lebih kecil. Sesekali boran itu dipakai di kepala laksana topi, sesekali juga mereka lempar ke atas dan dengan tangkas ditangkap kembali.
Sudah sekitar lima menit mereka tampil di hadapan penonton dan juri. Gerakan terakhir yakni melompat-lompat dengan satu kaki dengan ekspresi yang unik meninggalkan panggun g. Begitu musik pengiring – gamelan minimalis – selesai ditabuh, menandakan juga berakhirnya penampilan yang seru sekaligus menegangkan itu.
Tak dinyana, penampilan tari kreasi orang Lamongan di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta sebagai perwakilan Jawa Timur dalam Parade Tari Nusantara tahun 2007 ter sebut meraih 8 dari 9 katagori yang dinominasikan. Yang pa ling mengejutkan, mereka juga meraih juara umum. “Padahal saat itu targetnya masuk 10 besar saja,” kenang Ninin Desinta Yustikasari, salah satu kreator Tari Boran. Kerja kerasnya selama berbulan-bulan bersama dua rekannya, Tri Kristiani dan Purnomo, membuahkan hasil yang manis bukan hanya untuk mereka bertiga dan tim, namun juga untuk Lamongan.
“Salah satu keunggulan Tari Boran yakni gerakannya yang energik. Seperti ciri khas tarian Jawa Timur yan g energik dan dinamis,” kata sarjana seni lulusan Sekolah Tinggi S eni Indonesia (STSI) Solo ini. Berbeda dengan ciri khas dan tradisi tarian dari daerah lain di Indonesia, yang meskipun tak kalah indah tapi tidak seenergik dan sedinamik tarian Jawa Timuran.
Latihan  Kreasi Tri Melati
Seperti namanya, Tari Boran tidak bisa lepas dari aksesori yang dipakai, yakni boran. Sekadar untuk diketahui, boran biasa dipakai sebagai tempat nasi untuk salah satu makanan khas Lamongan, yakni nasi boran. Penjualnya bisa ditemui dengan mudah di jalan-jalan pusat kota dari pagi sampai malam, 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Non stop! 
Keunikan lain dari penjual nasi boran adala h mereka yang selalu bergantian berjualan meski tanpa kesepakatan, tanpa perjanjian shift pagi atau shift malam. Tak jarang juga jarak tempat berjualan mereka hanya beberapa meter saja dari penjual lainnya. Ibarat bekerja di pabrik, mereka seperti rekan, bukan saingan.
“Melihat keunikan para penjual nasi boran itu, sepertinya akan menarik jika diangkat menjadi sebuah ide  tarian. Kemudian (ide tersebut) saya usulkan kepada Bu Kris dan Pak Pur. Mereka setuju. Akhirnya jadilah Tari Boran,” ujar Ninin yang juga berpr ofesi sebagai guru ini.
Tari Boran ini, masih kata Ninin, awalnya diciptakan untuk mengikuti event Festival Karya Tari Jawa Timur (FKT JATIM) yang mengusung tema akar budaya daerah asal. Untuk mengikuti festival yang diadakan di Malang tersebut, Ninin dan tim harus berangkat dengan mandiri. Segala sesuatunya mereka persiapkan sendiri. Maklum saat itu, tahun 2006, kesenian tari belum dilirik oleh Pemda Lamongan.  
Butuh waktu satu bulan untuk menyiapkan konsep Tari Boran. Tak jarang Ninin, Kris, dan Pur, yang sering dijuluki “Tri Melati” ini berbeda pendapat selama proses tersebut. Namun, jangan berpikir mereka akan bertengkar setelah itu, perbedaan pendapat justru memunculkan banyak ide untuk dipilih dan dikreasikan.
Ada 6 gerakan inti dalam Tari Boran yang menggambarkan kehidupan penjual nasi boran sehari-hari. Mulai dari berang kat ke pasar, memasak, berangkat menjual nasi boran, proses jua l beli, saat-saat dagangan habis, hingga saat para pedagang pulang. Dari keseluruhannya digambarkan secara apik dan menarik oleh  Tri Melati.
Latihan 2  Jarang ada sanggar maupun event 
Untuk FKT JATIM tersebut, enam penari diambil dari siswi SMP Negeri 1 Kembangbahu, tempat mengajar Ninin dan Kris. Ditambah Ninin dan Kris sendiri, jadi total ada delapan penari. Dalam ajang tersebut, Tari Boran mendapat 8 dari 9 katagori yang dinominasikan. Juga menjadi juara umum yang membawa mereka ke Parade Tari Nusantara.  
Sementara untuk Parade Tari Nusantara yang sudah menginjak tingkat seniman, komposisi penarinya sudah tidak sepenuhnya sama lagi. Dari delapan penari awal, hanya empat saja yang bisa masuk, dua di antaranya termasuk Ninin dan Kris. “Sisanya tidak masuk karena terganjal usia,” terang Ninin. Jadi, empat penari lain diambil dari seniman-seniman dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Sampai saat ini, Tari Boran sudah mengalami beberapa kali modifikasi, namun dengan inti gerakan yang tetap  sama. Partama, gerakan Tari Boran yang dibawakan di FKT JATIM. Lalu sedikit diubah untuk Parade Tari Nusantara. Modifikasi selanjutnya dilakukan untuk pentas di Istana Negara, saat pesta rakyat Lamongan yang diadakan di Jakarta. Tari Boran juga dimodifikasi saat digunakan sebagai tari pendidikan oleh  Pemda Lamongan.
Itu belum termasuk modifikasi yang harus disesuaikan untuk Tari Boran massal  yang dipentaskan di alun-alun kota Lamongan tahun 2009 dan 2010 dalam rangka hari jadi kota te rsebut. Kini, Tari Boran sudah jarang lagi dipentaskan. Sayang sekali memang, sebuah kesenian yang seharusnya dilestarikan harus “tenggelam” gara-gara terlupakan.
Latihan 6  Sanggar Tri Melati
Juara umum yang diperoleh Tari Boran dalam dua event tingkat provinsi dan nasional tersebut menjadikan seni tari mulai diperhatikan oleh Pemda Lamongan, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Ninin juga menuturkan, kemenangan tersebut juga membuat seni tari  mulai banyak diminati generasi muda Lamongan.  
Dulu, selain sulitnya menumbuhkan minat tari, masalah lain untuk memajukan tari di Lamongan adalah tidak adanya wadah bagi para peminat tari. Orang yang sudah berminat pada tari pun akan malas jika tidak ada tempat bernaung. “Ditambah lagi jarangnya eventtari di Lamongan,” katanya. 
Dari pengalaman Ninin saat kecil yang sering kesulitan mencari wadah atau komunitas tari di Lamongan, dibentuklah sebuah sanggar bernama Tri Melati. “(Dulu) ada sanggar, tapi tidak lama. Bertahan paling cuma setahun, terus mati. Ada baru lag i, setahun, mati lagi. Begitu seterusnya,” ujar Ninin yang saat kecil harus berganti-ganti sanggar tari karena faktor tersebut.
Sanggar ciptaan tiga kawan yang peduli terhadap seni tari di Lamongan ini dibentuk tahun 2006 dan bersekretariat di Kelurahan Sukomulyo. Meski sekretariatnya di Sukomulyo, kegiatan latihan yang diadakan tiap seminggu sekali berpusat di pendopo Kecamatan Lamongan. Harapannya, dengan diadakan di tengah kota, dapat menarik peminat yang lebih banyak. S aat ini, sanggar Tri Melati memiliki 30-an anak didik, mulai dari kelas TK sampai SMP dan SMA. 
Ninin juga menanggapi kemunculan goyang cesar dan goyang-goyang sejenis yang sedang beken dan sering nongol di tipi akhir-akhir ini. Meski banyak yang bilang tidak mendidik, namun, menurutnya, hal tersebut tidak sepenuhnya buruk. “Pertama, esensi utama seni tari adalah mau menggerakkan tubuh saat mendengar musik. Bisa jadi, yang awalnya suka g oyang cesar, lama ke lamaan tertarik ke seni tari yang sesunggu hnya,” terangnya.
Kedua, selain bisa mengajak bergerak, juga berguna untuk memotifasi daya ingat. Ini kelihatannya sepele, padahal sebetulnya penting  di dunia seni tari. Jika seorang anak kecil menghafal gerakan goyang cesar saja bisa, menghafal gerakan tari juga pasti bisa. Tinggal melihat niat belajarnya saja. Ketiga, dari goyang cesar juga bisa merefleksikan tubuh. Tubuh yang sebelumnya jarang atau tidak pernah bergerak jadi tidak kaku. Hm, jadi selain tetap “keep smile”, tak ada salahnya juga jika kita ikut berg oyang. 
Di era serba canggih ini, belajar menari juga bisa lebih mudah daripada belasan tahun yang lalu. Ninin memberi contoh, kita bisa belajar dasar-dasar dan pendalaman tari dari sekolah-sekolah seni tari atau mengikuti latihan di sanggar. Sementara untuk pengembangan atau variasi gerakan, kita bisa mendapat banyak referensi dari ratusan, ribuan, atau mungkin jutaan video tari yang diunggah di internet. 
 Latihan 5 Tarian lain
Tari Boran hanya salah satu tari kreasi Tri Melati. Selama sepuluh tahun ini, selain Tari Boran ada juga Tari Teropong, Tari Turonggoh Sulah, Tari Caping Ngancak, Tari Silir-silir, Tari Sinau, Tari Mayang Madu, dan beberapa tari lainnya. Totalnya ada belasan. Dari seluruh tari tersebut memang tidak berlebihan jika Pemda Lamongan menjadikan Tari Boran sebagai ikon. Karena selain prestasi yang telah diraih, Tari Boran juga menjadi titik awal mulai berkembangnya seni tari di Lamongan. 
Jika berbicara soal prestasi, tari lainnya juga bukan tanpa prestasi. Tari Caping Ngancak, misalnya, pernah menjuarai Festival  Seni Tari Siswa Tingkat Nasional tahun 2008 yang diadakan di STSI Bandung.
Saat ini, Ninin dan kawan-kawan sedang mempersiapkan Tari Mendak untuk mengikuti Festival Pesisiran yang akan digelar di Tuban, Jawa Timur. Sekadar diketahui saja, mendak merupakan upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tlemang, Ngimbang, Lamongan, setahun sekali.
Ke depan, Ninin berharap akan ada generasi penerus seni tari di Lamongan agar tidak berhenti di dirinya dan kawan-kawan. Selain  penari, ia juga ingin ada penerus yang berkreasi dengan menciptakan tarian-tarian baru nantinya. Agar seni tari tidak “mati suri” seperti Tari Boran. Dibilang mati, tarian ini masih dianggap ikon. Dibilang hidup, sudah tak pernah pentas.
Latihan 3

SONGKOK MBAK YENNY DARI LAMONGAN

SongkokSentra industri songkok nasional sebenarnya berada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Daerah seperti Kelurahan Pekauman, Pekelingan, Bedilan, dan Karangpoh,  Kecamatan Gresik menjadi  pusat utamanya. Namun, seperti virus, industri ini kini “menular” ke kabupaten-kabupaten tetangga, salah satunya Kabupaten Lamongan.
Bagi orang muslim, songkok bukan barang asing. Penutup kepala berwarna hitam yang memiliki bentuk oval dengan dua sudut di depan dan di belakang ini biasa dipakai orang muslim saat salat. Selain itu, songkok juga sering digunakan dalam acara-acara lain, seperti pengajian atau upacara bendera, acara keagamaan ataupun tidak.
Dulu, di Kota Soto, songkok hanya bisa kita jumpai sebatas penjualnya saja, di pasar tradisional, di butik muslim, dan di sekitar area makam wali (Sunan Drajat). Tapi sekarang, kita juga bisa berjumpa dengan para perajin songkok. Tidak percaya? merapatlah ke Desa Pomahan Janggan, Kecamatan Turi. Banyak warga desa ini, Desa kecil yang terletak 7 km sebelah utara pusat Kecamatan Turi hidup akrab dengan songkok.
Keahlian membuat songkok perajin di desa ini di dapat dari Gresik. Mereka awalnya bekerja sebagai buruh di sana. “Namun, karena ada dorongan untuk lebih maju, banyak di antara buruh tersebut memutuskan untuk keluar dan mencoba berbisnis sendiri, termasuk saya,”  ujar Pak Ahmadi, salah satu perajin songkok yang sudah bergelut dengan songkok sejak 23 tahun yang lalu.
Perjalanan Pak Ahmadi, sebagai salah satu perajin songkok di Lamongan tidak bisa dibilang mudah. Lima tahun ia bekerja sekaligus belajar membuat songkok di Gresik. Tahun 2003, karena merasa upah yang didapat tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, ia lantas berhenti. Dari sana, dua bulan ia sempat merantau ke Maluku. Karena tidak berhasil, ia balik pulang kampung.
Di kampung, dalam keadaan menganggur, Pak  Ahmadi mulai tertarik untuk kembali “menggeluti” songkok, tapi dengan cara yang berbeda, tidak lagi sebagai buruh. Bermodal uang pinjaman dari Bank senilai Rp 30 juta, ia menjadi pemasar songkok. Pekerjaan Pak Ahmadi saat itu ialah mencari orderan untuk dibelikan kepada perajin dengan uang muka miliknya sendiri. Jika dalam dunia tiket, ia seperti makelar.
Tempat MenjahitMeski penghasilannya sebagai “makelar” songkok bisa dibilang cukup. Pak Ahmadi tidak lantas puas. Sejak dua tahun yang lalu, ia beralih menjadi perajin. Lagi-lagi, dengan uang pinjaman bank sebesar Rp 100 juta, ia mulai berbelanja segala bahan pembuat songkok, mulai dari beledu – bagian luar songkok yang berbulu halus –, kain, plastik mika, dan lain-lain. Pertama kali, ia membuat 250-an kodi songkok. Satu kodi sama dengan 20 buah, jadi, totalnya sekitar 5.000 buah songkok. Jumlah yang tidak sedikit itu ia bawa keluar kota dan keluar pulau untuk ditawarkan kepada koleganya di sana. Ternyata respons yang didapat positif.
Seperti yang kita tahu, selain songkok yang menggunakan beledu, ada juga songkok yang terbuat dari anyaman bambu, anyaman serat pohon lontar, dan kain. Ketiga songkok ini secara fisik lebih awet daripada songkok beledu, juga lebih tahan jika terkena air. Namun, perajin Lamongan – termasuk Pak Ahmadi – membatasi produksinya hanya pada songkok yang terbuat dari beledu saja.
Permintaan songkok Lamongan tidak bisa dibilang sedikit. Sampai saat ini, songkok buatan Pak Ahmadi, misalnya, tidak pernah sepi. Dalam sehari, rata-rata Pak Ahmadi, dibantu dengan 40 karyawannya, memproduksi 30 kodi songkok. Jumlah pesanan kepadanya bisa mencapai ribuan kodi dalam sebulan. Kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Semarang, Padang, Jambi, Makassar, dan Kudus, menjadi pasar utama songkok Yanuba dan songkok Arifah, dua merek songkok milik Pak Ahmadi.
Yanuba dan Arifah, dua nama yang dijadikan merek oleh Pak Ahmadi memang mirip dengan nama depan dan nama tengah Mbak Yenny, anak presiden RI keempat, Gus Dur. Pak Ahmadi sendiri mengakui, merek dagang songkoknya diambil dari nama Yenny. Tapi ini bukan plagiat. Usut punya usut, Yenny yang dimaksud bukan Mbak Yenny anak Gus Dur, tapi Yenny anaknya sendiri yang berusia sekitar 5 tahun. “Nama anak saya memang saya samakan dengan nama anak Gus Dur. Panggilannya, nama lengkapnya, sama,” ujar bapak kelahiran tahun 1973 ini sambil tersenyum.
YanubaArifahLukisan tangan paling mahal
Ada banyak model songkok di pasaran. Ada yang polos hitam, ada yang berpita, dibordir, dan lain-lain. Model-model songkok, menurut Pak Ahmadi, memang sangat bervariasi. Ia sendiri memproduksi setidaknya lima jenis songkok. Pertama dan yang paling mahal adalah songkok jenis soga. Songkok ini, beledu bagian sisi pinggir dan atas diberi hiasan lukisan tangan. Karena proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan ketelitian, wajar jika songkok ini dijual dengan harga sekitar Rp 550 ribu per kodi.
Model kedua, songkok klasik. Songkok model ini berhiaskan pita. Harganya sekitar Rp 500 ribu per kodi. Ketiga, songkok bordir. Seperti namanya, songkok ini hiasannya berupa benang yang dipola menggunakan mesin. Harganya berkisar Rp 450 ribu per kodi. Model keempat adalah songkok kharisma. Hiasan songkok ini berupa bunga-bunga kain, harganya dipatok Rp 400 ribuan per kodi.
Sedangkan model terakhir adalah songkok polos, songkok yang sekeliling sisinya hanya beledu tanpa hiasan. Songkok ini dibanderol antara Rp 200 ribu sampai 300 ribu per kodi. Dari kelima model tersebut dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni AC dan biasa. Bedanya terletak pada kedua ujung bagian atas. Songkok AC kedua ujung atasnya selain menggunakan beledu, juga ditambah kain yang berongga. Sedangkan songkok biasa, tertutup beledu semua.
AC dan Biasa, hmmm, mirip bus ya :p.
Jangan sering dicuci!
Sama halnya dengan produk lainnya, songkok pun ada yang berkualitas ada juga yang tidak. Cara membedakannya, selain pada harga, Pak Ahmadi juga memberikan beberapa tips. Pertama, periksa keadaan songkok mulai dari meraba bagian beledunya. Ada banyak jenis beledu. Beledu yang berkualitas memiliki ciri lembut dan tebal. Jika mungkin, bandingkan dengan beledu pada songkok lainnya.
Selanjutnya periksa setiap jahitan pada songkok. Kerapian jahitan dan jenis benang yang dipakai, benang tebal atau benang tipis, perlu diperhatikan. Benang yang tebal cenderung lebih bagus, tidak mudah putus, jadi songkok lebih kuat.
Yang terakhir, periksa bagian dalam songkok. Bagian ini  dapat dilihat jika Anda membuka lipatan bagian atas songkok. Biasanya terbuat dari kertas tebal atau mika agar songkok tidak lemas. Jadi, pilihlah songkok yang memakai kertas dan mika setebal dan sekuat mungkin.
Perlu diperhatikan juga, songkok memiliki ukuran dari 1 sampai 12. Sebelum membeli, ada baiknya dicoba dulu. Jangan sampai Anda menyesal karena kekecilan atau kebesaran saat dipakai nanti.
Untuk perawatannya, jangan terlalu sering mencuci songkok Anda. Meskipun ada beberapa merek songkok yang diklaim tahan air, ada baiknya Anda tetap berhati-hati karena beledu mudah rusak. Jika sering dicuci, bulu halusnya akan mudah lepas, juga warnanya akan pudar kemerahan.
Saat meletakkan songkok juga perhatikan lingkar atas dan bawah. Lingkar bawah songkok cenderung lebih kuat. Jadi saat dibenturkan ke meja atau tempat keras lain, songkok lebih tahan. Sebaliknya, lingkar atas lebih ringkih, mudah berubah bentuk jika terlalu sering dibenturkan.
Sekarang, coba ambil dan lihat songkok Anda, apakah di dalamnya tertulis “Yanuba” atau “Arifah”? Jika iya, wah, songkok Anda ternyata buatan ayahnya Mbak Yenny, Gus Di, Gus Ahmadi, hehehe..

LAMONGAN JUGA BISA BUAT KAPAL

Perahu (belum Jadi) 2 Salah satu pemandangan yang akan menarik mata Anda saat melintas di pesisir Kabupaten Lamongan ialah jejeran perahu di sepanjang garis pantainya. Kebetulan jalan utamanya berjarak cukup dekat dengan pantai, hanya beberapa puluh meter saja. Bahkan di sebagian ruas jalan ,langsung berdampingan dengan pantai. Jadi,  Anda bisa melihat luasnya laut dengan aksen perahu dari kendaraan.
Perahu-perahu tersebut tentu milik para warga setempat yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Untuk perahu-perahu kecil yang hanya digunakan untuk melintas beberapa kilometer saja dari garis pantai, para nelayan biasa membuatnya sendiri. Namun bagaimana dengan  perahu-perahu besar yang digunakan untuk melaut hingga menyeberang pulau, seperti Pulau Madura, Pulau Kalimantan, atau bahkan sampai ke Pulau Sulawesi? Perahu-perahu yang kebanyakan milik para juragan ini hampir tidak mungkin dibuat sendirian. Selain dibutuhkan waktu yang lama serta tenaga yang tak sedikit, membuat perahu-perahu “jumbo” juga  diperlukan keahlian khusus.
Perahu-perahu berukuran besar ini mungkin sulit ditemui di sepanjang jalan raya, kalaupun ada, akan sangat jarang. Perahu ini lebih gampang kita jumpai di Pelabuhan Brondong, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong, atau di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kranji Kecamatan Paciran.
Meski tidak dibuat sendiri oleh pemiliknya, tidak berarti juga perahu-perahu ini didatangkan dari daerah lain. Karena penduduk sekitar Brondong dan Paciran pun ada yang andal dalam membuatnya.
Para perajin ini membuat kapal di daerah pinggir laut dengan tanah yang cukup luas, salah satunya  di Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran. Daerah pinggir laut sengaja dipilih  agar mempermudah pemindahan perahu dari darat ke laut kalau sudah jadi nantinya, tinggal didorong saja dengan alat berat.
GergajiDi desa ini, ada yang membuat perahu secara mandiri dan ada juga yang membuatnya dalam pimpinan seseorang. Membuat secara mandiri maksudnya, pemesan langsung datang ke para perajin untuk minta dibuatkan perahu. Sementara dalam pimpinan seseorang berarti transaksi terjadi antara pemesan dan pemilik mebel. Proses pembuatannya menjadi urusan antara perajin dan pemilik mebel.
Kedua cara ini memiliki keunggulan masing-masing bagi para pemesan. Untuk yang cara pertama, perahu bisa disesuaikan langsung dengan keinginan pemesan dalam segala segi. Pemesan juga banyak berperan dalam pemilihan bahan kayu dan lain-lain.
Sementara  untuk cara yang kedua, pemesan bisa lepas tangan. Karena semua hal tergantung oleh pemilik mebel dan perajin, pemesan tinggal terima “beresnya saja”.
Otodidak
Meski dengan prosedur pemesanan yang berbeda, cara pembuatan perahu tentulah sama. Satu buah perahu besar, berkisar panjang antara 7-9 meter biasa diselesaikan oleh 5-7 perajin dalam waktu sekitar 5 bulan.
Membuat perahu besar memang diperlukan keahlian khusus, tapi jangan membayangkan para perajinnya merupakan arsitektur atau sarjana lulusan teknik sipil. Karena hampir semua dari mereka belajar membuat perahu secara otodidak, dari pengalaman-pengalaman yang mereka peroleh dari nenek moyang mereka.
Memotong KayuJadi di tempat pembuatan perahu ini, jangan juga berharap ada rancangan kerangka perahu pada kertas gambar, atau alat-alat canggih yang biasa dipakai dalam pembuatan kapal-kapal modern. Di sini perahu dibuat secara langsung tanpa desain dan tanpa rancangan. “Semua dilakukan pakai perasaan perajinnya saja,” kata Pak Ali Shodikin, salah satu pemilik mebel pembuat perahu yang terletak 100 meter sebelah timur Balai Desa Kandang Semangkon.
Proses pembuatannya juga masih sangat sederhana. Di mebel milik pak Ali Shodikin yang berdiri sejak tahun 2009 ini misalnya, mesin hanya digunakan untuk memotong  kayu. Mesin ini bernama denso atau dalam bahasa inggris disebut chainsaw, mesin gergaji besar yang digerakkan oleh diesel.
Untuk bagian-bagian yang melengkung seperti alas perahu, kayu dipanggang di atas api dan diberi pemberat (batu) pada salah satu ujungnya hingga lengkung yang dikehendaki. Lagi-lagi tidak ada perhitungan berapa lama kayu harus dipanggang. Semua tergantung “rasa” si perajin. Jika lengkung yang diingginkan dirasa cukup, saat itu juga kayu diangkat.
Pembakaran KayuPerahu-perahu nelayan di pesisir Lamongan ini bukan hanya cara pembuatannya saja yang tradisional, namun perlengkapan kapalnya juga masih minim. Tidak ada alat pendeteksi karang atau pendeteksi ikan. Maksimal, para nelayan hanya membawa GPS untuk mendeteksi tempat yang sudah dilaluinya.
Jati paling oke
Karena digunakan untuk melaut dengan konsekuensi berhadapan air asin yang mudah merusak kayu, pemilihan bahan baku tidak boleh sembarangan. Untuk bagian alas bawah, Pak Ali Shodikin hanya percaya pada kayu jati jenis TPK (Tempat Penimbunan Kayu) milik perhutani. Kayu jati ini merupakan jenis kayu jati kualitas terbaik. Salah satu yang membedakannya dengan kayu jati biasa atau yang biasa disebut jenis AB (milik rakyat) adalah cara menebangnya. Kayu jati TPK baru ditebang 1 tahun setelah pohonnya dimatikan. Dengan demikian tekstur kayunya lebih keras dan kandungan air di dalamnya sudah kering.
Jika dibandingkan dengan kayu jati jenis AB yang sudah kering karena dijemur, kayu jati TPK tetap jauh lebih baik. Karena itu juga kayu ini harganya lebih mahal, yakni Rp. 12 juta per meter kubiknya.
Memasang Kayu 2Untuk bagian kerangka dalam perahu, yang terdiri dari tempat penyimpanan ikan hasil melaut, tempat mesin, tempat pengemudi, dan sebuah kamar untuk para nelayan beristirahat, biasa digunakan kombinasi antara kayu jati dan kayu mahoni. Ini dilakukan untuk menekan biaya produksi, karena harga kayu mahoni lebih murah daripada kayu jati.
Harga satu perahu tergantung dari besar ukuran dan kombinasi jenis kayu yang digunakan. Untuk perahu ukuran 7-9 meter dengan tinggi sekitar 6 meter, dan lebar sekitar 4 meter, berkisar antara 500-700 juta per unit. Kapasitasnya bisa mencapai 50 ton, masih renggang untuk menampung seekor paus jenis grey whaleWow!
Perahu, Den Jon, Atau Kosen?
Jika  teliti, ketika berada di  pelabuhan atau TPI Brondong, Anda akan melihat bentuk perahu yang tidak selalu sama antara satu dengan lainnya di luar masalah ukuran. Bukan karena kebetulan, tapi perahu-perahu di sana memang dibuat dengan dua model. Yakni model asli yang biasa disebut “Perahu” saja, dan model lain yang dikenal dengan nama “Den Jon”.
Perbedaan keduanya memang tidak signifikan, yang paling kentara terletak di bagian ujung depan dan belakang perahu yang biasa disebut linggi haluan. Jenis asli Perahu memiliki ujung depan yang menjulang lancip dan tinggi, sementara Den Jon ujungnya papak dan sedikit lebih rendah.
Perahu (belum Jadi) 3Sedang jika Anda merapat ke TPI Kranji, bentuk perahunya lain lagi. Tidak ada linggi haluan yang tinggi, tapi bagian belakang lebih unik. Jika dilihat dari samping nampak miring lurus, tidak melengkung layaknya model Perahu dan Den Jon. Model yang disebut Kosen ini juga diberi tambahan kayu sebagai linggi buritan, mirip bumper mobil sedan.
“Ini bukan semata masalah fungsi. Tapi biar jadi penilaian orang yang melihat, model mana  yang lebih ‘ganteng’?” gurau seorang perajin sambil tertawa