PERAJIN PERHIASAN ASLI DIAJARI OLEH WALI
Ada sebuah mitos yang populer di kalangan kaum hawa. Mereka percaya jika perempuan mengenakan perhiasan emas, kecantikannya akan bertambah berkali-kali lipat. Andai saja semua itu benar, para perempuan wajib, kudu, harus berterima kasih kepada para pembuat perhiasan itu, yang menyulap emas menjadi aksesoris indah nan menambah pesona para wanita.
—
Seorang laki-laki berkumis tebal duduk di depan meja kecil dengan gunting, tang, dan alat-alat penuh di atasnya. Matanya tajam mengarah ke meja. Dari raut mukannya tampak, ia sedang penuh konsentrasi. Tangannya bergerak pelan-pelan memegang alat patri, tepat di bawah sinar lampu neon. Padahal saat itu hari masih terang. Seakan tak terusik dengan istri dan anak yang lalu-lalang di belakangnya, ia tetap tekun menyambungkan kawat-kawat kecil emas menjadi sebuah kalung.
Nur Halim, laki-laki yang membuat perhiasan itu sudah 28 tahun menjadi perajin emas. Ia tidak sendiri, di desanya dan desa tetangga, Sendang Duwur dan Sendang Agung, Kecamatan Paciran, Lamongan, sepertiga dari total kepala rumah tangga berprofesi sebagai perajin emas.
Nur Halim lebih sering membuat perhiasan jenis kalung daripada cincin, gelang, atau perhiasan lainnya. Sebenarnya, setiap perajin emas dapat membuat semua jenis perhiasan. Namun, mereka lebih sering membuat sesuai dengan “bidang keahlian” masing-masing. Jika membuat kalung–keahlian Nur Halim, ia dapat memaksimalkan waktu. Sementara jika tidak, “membuat satu buah cincin saja bisa sampai berhari-hari,” katanya.
Dalam sehari, dari pagi sampai pukul 10 malam, Nur Halim dapat menyelesaikan tiga buah kalung. Itu jika permintaan sedang ramai. Jika sepi, ia hanya membuat satu buah saja. Seperti harganya yang suka naik-turun, perajin perhiasan emas juga sering mengalami pasang-surut permintaan. Ketika sedang ramai-ramainya, banyak perajin dadakan, bekerja membuat perhiasan bisa sehari-semalam.
Sebaliknya, jika sepi, banyak perajin yang beralih profesi. Mereka memilih menjadi nelayan atau petani yang hasilnya hampir pasti. Bagi Nur Halim pribadi yang hampir selalu mendapat pesanan setiap hari, belum terpikir untuk “berdiri” meninggalkan kursi di depan meja kecilnya. “Selama mata masih ‘terang’, saya masih akan terus membuat perhiasan,” akunya.
Puncak ramai pesanan emas, menurut Nur Halim, berbanding lurus dengan panen tembakau di Kota Bojonegoro. Biasanya setelah panen, banyak petani tembakau dari sana membeli perhiasan emas untuk investasi ala orang tua zaman dulu.
Alat-alat jadul
Di tengah maraknya perhiasan-perhiasan emas dari pabrik yang dikerjakan dengan peralatan yang canggih, Nur Halim masih mengandalkan alat-alat manual. Palu dan alasnya, tang, gunting, pencapit, dan mesin patri menjadi “senjata” wajib. Kecuali mesin patri yang cepat rusak, alat-alat Nur Halim umumnya barang tua, warnanya kehitaman tanda sudah dimakan usia. Kalau kata anak zaman sekarang, semua alatnya sudah jadul.
Proses pembuatan perhiasan model apapun, dimulai dengan memipihkan emas batangan berkadar 24 karat. Emas itu dipecah kecil-kecil menggunakan palu, kemudian dilebur. Jika ingin mengurangi kadar emasnya, tinggal ditambahkan tembaga dan perak sesuai dengan kadar yang ingin dicapai.
Setelah melebur, lelehan emas dibentuk berdasarkan jenis yang ingin dibuat. Bentuk cincin tentu memiliki cetakan yang berbeda dengan gelang, begitu juga dengan kalung. Untuk kalung, lelehan emas dibentuk menjadi kawat-kawat kecil nan panjang.
Kawat-kawat itu selanjutnya melewati proses penghalusan. Jika sudah siap, kawat-kawat mengilap siap dipotong, dibentuk sesuai pola, lalu dirangkai sesuai jenis kalung yang dikehendaki. Nur Halim biasa membuat empat jenis kalung, yakni rantai, RRT, satelit, dan siem. Keempatnya dibuat dengan cara yang sama tapi melewati proses pengerjaan yang berbeda.
Kawat-kawat yang sudah dirangkai kemudian dipatri. Proses perangkaian dan pematrian ini merupakan proses yang butuh kejelian mata. “Itu sebabnya, perajin emas sangat bergantung dengan kondisi matanya,” kata laki-laki 50 tahun itu.
Untuk kalung polos, tahap terakhir yang dikerjakan Nur Halim yakni mengikir dan mencuci. Pencucian perhiasan menggunakan bahan kimia khusus. Bapak dua orang anak ini biasa mencuci dalam wadah logam yang dialiri listrik. Sementara untuk kalung yang mempunyai motif, kembang-kembang misalnya, harus dibawa ke ahlinya dulu sebelum dicuci.
Lebih murah
Nur Halim biasa membuat kalung dengan kadar antara 70 persen sampai emas murni. Ia tak membuat kalung yang bobotnya kurang dari 10 gram. Sebab, membuat kalung dengan bobot ringan berarti membuat kalung dengan ukuran kecil. Jika begitu, mata pun harus bekerja ekstra. “Kasihan mata saya,” alasannya.
Jika dibandingkan dengan perhiasan emas buatan pabrik, perhiasan emas made inSendang Duwur dan Sendang Agung memang kalah dalam beberapa hal, seperti model, motif, bentuk, dan warna. Tapi, Nur Halim mengklaim, perhiasan emas hasil dari alat manual lebih kuat dan lebih murah. Saya yakin, keunggulan yang terakhir ini bisa membuat para perempuan tersenyum semringah. (:p)
Bekerja sebagai perajin perhiasan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan seorang akuntan. Keduanya sama-sama bisa menyelesaikan pekerjaan hanya dengan duduk di belakang meja saja.
Dibawa oleh Sunan Sendang Duwur
Kerajinan emas sudah menjadi profesi turun-temurun di Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung. Para perajin yang masih bertahan sampai saat ini telah melihat proses pembuatan perhiasan emas sejak zaman nenek buyut mereka.
Konon, kerajinan emas pertama kali dibawa oleh Sunan Sendang Duwur sekitar Abad ke-15. Sejak saat itu, mayoritas penduduk laki-laki belajar membuat perhiasan. Setelah mahir, mereka menjadi perajin perhiasan. “Sementara yang perempuan membuat batik tulis,” tutur Nur Halim.
SEDERET LUKA PARA PENYADAP NIRA
Di balik rasanya yang manis-segar, tidak banyak yang tahu jika nira siwalan, yang biasa disebut legen, diambil dengan susah payah oleh para penyadapnya. Bukan hanya pendapatan yang tak seberapa, yang lebih miris, nyawa pun bisa jadi taruhannya!
Seorang lelaki tua mengendarai sepeda jengki yang tak kalah tua dengan pengendaranya. Dengan bawaan yang diletakkan di boncengan, ia tampak masih bertenaga mengayuh sepeda di usia 65 tahun. Jika beberapa orang seusianya bisa beristirahat di rumah, menunggu kiriman uang dari anaknya atau sekadar menunggu uang pensiun cair di tanggal muda, Pak Suwanu, lelaki tua pengendara sepeda itu, masih giat bekerja sebagai penyadap nira.
Bagi kita yang masih muda, jarak yang ia tempuh memang tak begitu jauh, hanya sekitar 1 km. Namun, bagi Pak Suwanu yang berjalan saja sudah membungkuk, perjalanan tidaklah menyenangkan. Belum lagi, bagi warga Paciran, Lamongan ini, mengayuh sepeda dan bersimpangan dengan truk-truk besar selalu was-was. Kita perlu mafhum, jalan raya yang dilewati Pak Suwanu merupakan jalan utama pantai utara antara Tuban dan Surabaya.
Bersamaan dengan bel sekolahan berbunyi, sekitar pukul 7 pagi, ia sampai di gubuknya. Gubuk kecil yang dibangun di atas kebun siwalan milik orang. Ukuran gubuk itu hanya sekitar 20 m2. Atapnya genting dan dinding lontar (daun siwalan) kering. Tinggi dindingnya tak sampai dua meter. Orang jangkung mesti membungkuk jika ingin masuk ke dalam. Gubuk ini bak rumah kedua bagi Suwanu. Ia tak perlu membayar kepada pemilik kebun. Sebab, ia sudah meminta izin. Lagi pula kebun itu memang tak dirawat oleh sang pemilik. Di situ, di gubuk itu, Suwanu menghabiskan waktu seharian, menyiapkan diri sebelum memanjat siwalan, menyimpan legen, membuat sirup nira siwalan, dan beristirahat.
Tak menunggu waktu lama, setelah memakir sepadanya, Suwanu segera menyiapkan belasan bumbung untuk menampung nira dari pohon yang akan ia panjat. Sementara itu, bumbung-bumbung lain sudah terpasang di atas pohon sejak kemarin sore dan siap untuk diturunkan.
Tak banyak yang tahu, jika sebelum dipasang, bumbung-bumbung itu diisi dengan sedikit campuran air dan getah kembang dari pohon, yang Suwanu sendiri tak tahu nama pohon itu. Air dan getah yang dicamurkan ini sangat sedikit sehingga tak mempengaruhi kualitas legen. Tujuannya, agar legen hasil sadapan tidak terasa asam. Jadi, kata Suwanu, kalau ada yang bertanya soal legen Paciran itu asli atau tidak? Jawabannya hampir selalu tidak. Sebab legen selalu dicampur dengan air getah kembang itu. “Beda lagi kalau tanyanya jelas, campuran apa, campuran gula pasir misalnya. Jawabannya bisa asli bisa tidak,” ujarnya.
Saat akan memanjat, Suwanu tak lupa memasang dua “senjata” andalan di lingkar perutnya yang kurus kering, sebilah golok dan sebuah pengait yang terbuat dari potongan bambu. Jangan salah, Suwanu bukan akan berkelahi. Ia membawa golok untuk memotong mayang siwalan. Sedangkan pengait, yang oleh warga sekitar Paciran biasa disebutcangkrian (bahasa jawa cangkrik = kait, cangkrikan = pengait), ia gunakan untuk membawa naik-turun bumbung-bumbung dari pohon siwalan.
Sekarang, semua sudah siap. Dengan telanjang dada dan badan yang terbungkuk, Suwanu berjalan menuju pohon yang akan ia panjat. Ada puluhan pohon siwalan di sekitar gubuknya. Namun, hanya enam pohon yang ia jadikan “ladang emas”. Siwalan memiliki dua jenis pohon, bertongkol bunga jantan dan betina. Bedanya, pohon siwalan bertongkol bunga jantan menghasilkan nira dalam jumlah yang lebih banyak daripada siwalan yang bertongkol bunga betina. Namun, siwalan yang bertongkol bunga betina dapat menghasilkan buah lebih banyak ketimbang siwalan yang bertongkol bunga jantan. Pak Suwanu sendiri hanya memanjat pohon yang menghasilkan banyak nira.
Pohon pertama yang akan Pak Suwanu panjat terletak beberapa meter di depan gubuk. Tingginya sekitar 10 meter. Pelan namun cekatan, tangan dan kakinya bertumpu pada tiap pijakan di batang pohon palma itu. Nyali bukan lagi persoalan. Ia yang sudah 40 tahunan menjadi penyadap nira siwalan, sudah kehilangan rasa takut akan ketinggian. Meski begitu, jika konsentrasinya hilang saat di atas pohon, jatuh yang berakibat luka parah sampai kematian menjadi taruhan.
“Pernah jatun satu kali. Untung naiknya belum terlalu tinggi. Tanahnya juga empuk, habis hujan. Jadi tidak apa-apa. Tapi itu sudah dulu sekali,” terang lelaki yang sejak remaja sudah menyadap nira siwalan ini.
Sekitar 15 menit Suwanu berada di atas pohon. Ia mengganti bumbung yang sudah terisi legen dengan bumbung baru yang ia bawa dari bawah. Entah apa lagi yang ia lakukan di atas sana hingga begitu lama. Mungkin ia terlalu lelah dan beristirahat sejanak, mungkin juga ia menikmati pemandangan laut lepas yang bebas ia pandang dari atas. Ya, kebun siwalan di Paciran memang banyak yang berbatasan langsung dengan laut. Sungguh pemandangan yang tidak semua orang bisa menikmatinya.
Hari ini tampaknya kurang bersahabat dengan Suwanu. Dari delapan bumbung yang ia bawa turun, hanya dua liter legen yang ia dapat. Padahal, di musim kemarau seperti ini, biasanya ia bisa membawa turun 4-5 liter legen dari satu pohonnya. Mayang siwalan memang lebih banyak menghasilkan nira di musim kemarau daripada musim hujan. Selain itu, di musim hujan, air hujan juga bisa merembas masuk ke dalam bumbung yang dipasang untuk menampung nira. Itulah sebabnya mengapa legen di musim hujan rasanya tidak begitu manis.
Matahari mulai meninggi, sinarnya menembus sela daun-daun siwalan. Begitu ombak di laut mulai pasang – seperti yang digambarkan dalam syair D. Zawawi Imron – maka daun-daun siwalan berayun karena angin tak henti bersiul. Ah, indah sekali.
Mungkin ini salah satu pemandangan indah yang luput dari mata Pak Suwanu. Sebab, usai turun, ia masih harus memanjat pohon siwalan yang lain. Baru kira-kira pukul 10.00 nanti, ia kembali ke gubuk, mengolah legen, memberi makan delapan ekor kambingnya, dan beristirahat. Sejak dua tahun lalu, setelah istrinya meninggal, Pak Suwanu bekerja sendiri. “Istri saya sakit demam seharian, lalu tiba-tiba saja ia meninggal,” kenang Pak Suwanu yang membawa saya dalam suasana haru.
Kadang Pak Suwanu menjual begitu saja legen yang masih segar dalam botol kemasan air mineral 1,5 liter. Kadang juga ia rebus supaya lebih tahan lama. Legen yang direbus dan tidak, memiliki cita rasa yang sedikit berbeda. Legen yang tidak direbus rasanya manis segar, terdapat sensasi unik ketika sampai di tenggorokan, mirip seperti saat minum minuman bersoda. Sementara legen yang sudah direbus rasa manisnya bertambah karena volumenya berkurang akibat proses perebusan, tidak begitu segar, dan sensasi di tenggorokan juga berkurang.
Perbedaan rasa pada kedua legen ini tidaklah signifikan. Berbeda dengan legen yang sudah dicampur gula pasir, air kelapa, dan bahan lain yang ditambahkan untuk memperbanyak volume legen. Biasanya jika bahan-bahan tersebut ditambahkan, legen menjadi lebih cepat basi.
Legen segar tanpa direbus hanya mampu bertahan tak lebih dari 24 jam. Sedangkan jika direbus tanpa campuran, legen bisa tahan sampai dua hari. Lebih dari itu, legen terfermentasi menjadi tuak yang memabukkan. Atau jika terfermentasi lebih lama lagi, legen bisa menjadi cuka, salah satu bahan dapur yang kecut itu.
“Mestinya legen tak harus sampai jadi tuak . Sebelum basi bisa diolah menjadi sirup siwalan yang bisa tahan sampai dua minggu. Kalau pengen awet lagi, dibuat gula merah siwalan. Itu malah tahan sampai tiga bulan,” terang Pak Suwanu. Ia sendiri hanya menjual legen dan membuat sirup siwalan.
Untuk sementara, tugas Pak Suwanu telah usai. Setelah berpanas-panasan di depan tungku yang terletak di tengah-tengah gubuk selama membuat sirup siwalan, sekarang, ia bisa beristirahat sembari menunggu para pelanggannya datang. Pak Suwanu tidak menjajakan legen dan sirup buatannya. Ia memiliki beberapa pelanggan setia, yakni pedagang-pedagang legen dan es dawet siwalan pinggir jalan dan konsumen yang datang langsung membeli di gubuk Pak Suwanu. “Banyak yang beli ke sini, dari pedagang sampai Pak Camat,” bangganya.
Menjadi penyadap nira siwalan, bagi Pak Suwanu, bukan hanya soal untung atau rugi. Selain tidak pernah membuat legen “KW”, ia selalu berkata apa adanya kepada para pelanggan. “Kalau legennya saya rebus, saya bilang saya rebus. Kalau tidak mau beli, ya tidak apa-apa, yang penting saya jujur,” tegasnya.
Pak Suwanu menjual legennya dengan harga Rp 5.000 per botol ukuran 1,5 liter. Sementara untuk sirup, ia jual Rp 30.000 untuk botol ukuran serupa, dan Rp 10.000 untuk botol ukuran 600 ml. Hasil yang didapat Pak Suwanu memang tak seberapa jika dibandingkan dengan peluh yang bercucur di badan dan risiko yang ia pendam dalam hati.
Kini matahari sudah benar-benar di atas kepala. Terasa panas menyengat. Terlebih udara di pesisir Paciran yang terkenal cukup panas, hingga berteduh di dalam gubuk Pak Suwanu pun masih terasa gerah. Saat seperti ini, Pak Suwanu gunakan untuk makan siang dengan bekal yang ia bawa dari rumah. Ia juga masih mempunyai waktu beberapa jam untuk berlesehan di dipan sambil nenunggu waktu sore, saat ia harus memanjat pohon-pohon siwalan lagi. Karena menyadap nira dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore.
Penyadap nira di Paciran tidak banyak yang seusia Pak Suwanu. Tapi, semangatnya bekerja masih belum pudar. Selama masih kuat memanjat pohon siwalan, ia akan terus menyadap nira, membuat sirup, dan “membagi manisnya” untuk semua pelanggannya.
MINIM BIAYA ALA KOMPOR BRIKET BATU BARA
—
Tahun 2006, saat subsidi minyak tanah akan dicabut oleh pemerintah, tersebar isu jika bahan bakar alternatif berikutnya adalah briket batu bara. Meski dalam realisasinya, seperti yang kita gunakan saat ini, elpiji yang akhirnya dipilih oleh pemerintah. Tapi, briket batu bara, bahan bakar yang disebut lebih murah daripada elpiji ini tidak serta-merta hilang dari minat masyarakat. Masih ada beberapa orang yang menggunakannya, terutama di kalangan industri. Produsen kompor briket batu bara juga masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya Sutrisno, warga Menongo, Sukodadi, Lamongan.
Sebelum mengenal kompor briket batu bara, Sutrisno sudah akrab dengan alat-alat dapur, seperti dandang, panci, dan benda-benda dari logam lainnya. Di tahun 1979, ia bekerja sebagai buruh di Surabaya, di salah satu industri pembuat perkakas rumah tangga berbahan logam.
Setelah menikah, ia mulai bekerja secara mandiri. Bermodal uang Rp 49.500 hasil menjual perhiasan yang ia pinjam dari saudaranya, Sutrisno membeli gunting, perkakas bekas dan beberapa lembar logam untuk membuat produk sendiri. Tidak berbeda dari apa yang dikerjakan sebelumnya, ia membuat perkakas dapur berbahan logam secara kecil-kecilan.
Setahun kemudian, ia menambah lagi produk buatannya berupa kompor minyak tanah. Ia belajar membuat kompor dengan pedoman ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). “Saya membeli sebuah kompor yang bagus. Saya lihat komponen-komponennya apa saja, lalu saya praktikan buat. Tapi bukan mau membajak produk itu, saya buat model dan merek sendiri,” terang Sutrisno yang memakai merek “Bintang 5” pada semua produknya.
Hemat untuk peternak ayam, boros untuk rumahan
Kebanyakan peminat kompor briket batu bara berasal dari kalangan industri, lebih khusus lagi oleh para peternak ayam indukan. Sementara untuk rumah tangga, kompor briket batu bara tidak banyak dilirik. Maklum, untuk skala pemakaian kompor di dapur, briket batu bara tidak efisien.
Alasan pertama, untuk penyalaan awalnya membutuhkan waktu yang lama, antara lima sampai lima belas menit. Tidak cocok untuk memasak di rumah yang pedomannya: lebih cepat, lebih baik. Seperti pada kompor minyak tanah yang penyalaan apinya tidak lebih dari satu menit dan kompor gas elpiji yang bahkan tidak lebih dari dua detik. “Sebenarnya penyalaan api kompor briket batu bara yang lama ini bisa diakali dengan pengunaan buvarium, tapi harganya bisa melambung tinggi,” ujar Sutrisno.
Alasan kedua, bahan bakar briket batu bara hanya sekali pakai. Jadi, jika kompor tersebut menggunakan 3 kg briket batu bara sebagai bahan bakarnya. Bahan bakar yang bisa menyalakan api sekitar enam jam itu harus terus digunakan untuk memasak. Jika sudah dimatikan, briket batu bara tidak bisa digunakan lagi, sudah jadi ampas.
Kita tahu, waktu memasak di dapur jarang sekali memakan waktu sampai enam jam secara kontinu. Apa lagi jika hanya memasak mie instan atau makanan cepat saji lain yang hanya perlu nyala api sekitar lima menit. Bukannya penghematan, penggunaan kompor briket batu bara seperti itu justru menjadi pemborosan yang sia-sia.
Sementara jika digunakan untuk peternakan ayam, kelemahan-kelemahan pada penggunaan kompor briket batu bara bisa dimaklumi jika yang menjadi patokan adalah penekanan biaya. Seperti pedoman yang banyak dianut oleh pegiat industri: lebih murah, lebih baik.
Kompor briket batu bara digunakan untuk menghangatkan anak ayam usia 0 sampai 2 minggu di malam hari. Anak-anak ayam yang membutuhkan suhu sekitar 350 C agar dapat tumbuh sempurna itu dihangatkan dengan nyala api kompor yang disebarkan lewat kanopi ke seluruh ruangan. Satu kompor briket batu bara, biasanya dapat menghangatkan 750 sampai 1000 ekor anak ayam. Kini, Sutrisno tidak lagi membuat kompor briket batu bara untuk rumah tangga, kecuali jika ada yang memesan. Ia hanya membuat kompor untuk peternak ayam. Itu pun dalam jumlah yang terbatas.
Dalam semalam, penggunaan kompor minyak tanah memakan biaya Rp 25.000. Sementara kompor gas elpiji menghabiskan Rp 15.000. Jika menggunakan briket batu bara, biaya yang dikeluarkan hanya Rp 7.500. “Dengan briket batu bara, peternak ayam 50 persen lebih hemat daripada menggunakan gas elpiji,” terang Sutrisno.
Selain itu, kelebihan lain dari briket batu bara yakni – mengutip pernyataan Presiden SBY –1000 persen tidak berjelaga seperti minyak tanah dan 2000 persen aman karena tidak berpotensi meledak seperti yang sering terjadi pada gas elpiji. Sayangnya, ketiga bahan bakar ini sama, sama-sama tidak ramah lingkungan.
Paling bagus nyala apinya dari 100 kompor
Sama seperti kompor-kompor lainnya, kompor briket batu bara memiliki komponen-komponen khusus yang wajib ada agar api dapat menyala dengan sempurna, di antaranya tangki ruang udara, ruang bakar, dan penampung abu sisa batu bara.
Tangki ruang udara berfungsi untuk masuk keluarnya udara. Di tangki ini besar kecilnya nyala api diatur. Semakin besar pintu udara dibuka, semakin besar pula apinya, begitu juga sebaliknya. Sementara ruang bakar merupakan tempat bahan bakar, yakni briket batu bara. Ada berbagai macam ukuran ruang ini, tergantung model kompornya. Model buatan Sutrisno, misalnya, kompor rumah tangga yang pernah ia buat dulu, ruang bahan bakar dapat diisi dengan 3 kg briket batu bara. Sementara kompor untuk menghangatkan ayam di peternakan, volume ruang bakarnya lebih besar dua kali lipat.
Bentuk kompor briket batu bara untuk rumah tangga dan untuk peternakan ayam juga berbeda. Kompor untuk rumah tangga, bentuk luarnya mirip dengan kompor minyak tanah. Hanya saja jika diperhatikan komponen-komponen dalamnya berbeda, seperti tempat sumbu diganti dengan tempat bahan bakar, tangki minyak tanah diganti dengan tangki ruang udara, dan lain-lain.
Sementara kompor untuk peternakan ayam berbentuk tabung panjang. Tingginya 1,4 m dengan diameter 55 cm. Kompor ini dilengkapi dengan penyebar panas berbentuk mirip caping petani namun dengan ukuran yang jauh lebih besar. Fungsinya menyebarkan panas dari api kompor ke seluruh ruangan. Sisanya, tempat abu sisa batu bara, berfungsi untuk menyimpan sisa abu yang bekas pembakaran batu bara. Abu ini bisa digunakan sebagai abu gosok.
Membuat kompor briket batu bara, menurut Sutrisno, cukup mudah. Yang sulit justru bagaimana cara mengenalkan kepada masyarakat, khususnya peternak ayam, agar mau memakainya. Untuk yang satu ini, Sutrisno beruntung. Tahun 1997, ia mengikuti perkumpulan pembuat kompor briket batu bara di Jakarta yang dihadiri oleh 100 perajin kompor dari berbagai daerah di Indonesia. Tak dinyana, kompor briket batu bara buatannya menjadi kompor dengan nyala api paling bagus.
Dari sana, jalan untuk sosialisasi jadi lebih mudah. Beberapa bulan setelah acara tersebut, ia diundang untuk temu wicara dengan presiden RI saat itu, Pak Harto. Di siang hari suaranya mengudara di radio, malam harinya, ia tampil di televisi. “Sejak itu, banyak peternak ayam yang cari saya, bangganya.
Sampai saat ini, di mata Sutrisno, kompor briket batu bara masih diminati meski hanya oleh minoritas peternak ayam. “Dari tahun 1995 sampai sekarang, saya masih buat kompor briket, artinya kan masih ada yang pakai,” ujar Lelaki kelahiran Bojonegoro ini. Karena penggunanya yang sedikit, Sutrisno lebih fokus memproduksi peralatan peternak ayam lainnya, seperti tempat makan ayam, fumigasi telur, kanopi, dan lain-lain.
Kini, kompor briket batu bara “Bintang 5” buatan 40 karyawan Sutrisno sudah melanglang buana di banyak tempat di Indonesia, di Jawa maupun luar Jawa. Melihat peminatnya yang semakin langka, akankah kompor ini masih akan bertahan lama? Biar waktu yang menjawabnya.
Eksperimen kandang ayam
Sebagai produsen peralatan ternak ayam, sampai saat ini, Sutrisno belum pernah memelihara ayam sendiri. Pertama kali membuat kompor briket batu bara untuk penghangat anak ayam, ia melakukan sebuah eksperimen unik, yakni membuat duplikasi kandang anak ayam di rumahnya.
Ruang duplikasi kandang anak ayam ia buat bersekat-sekat. Setiap setengah meter, ia pasang termometer. Begitu kompor yang diletakkan beberapa meter di atas alas ia nyalakan, dari sana ia tahu, berapa radius hangat yang dihasilkan oleh kompor buatannya. “Jadi, kita tahu betul seperti apa alat kita. Jangan sampai ada yang tanya soal alat yang kita buat, kita tidak bisa jawab. Tidak lucu kan?” pungkasnya.
BERKAH BLEWAH DAN SEMANGKA DI MUSIM KEMARAU
Di Musim hujan, area yang luasnya membentang di antara Kecamatan Sekaran dan Kecamatan Pucuk, Lamongan ini menjadi rawa. Airnya dialirkan untuk irigasi sawah ke banyak desa. Sedangkan, di musim kemarau, air rawa mengering. Area ini kemudian dimanfaatkan sebagai lahan tanam semangka, melon, dan buah-buahan sejenisnya.
—
Ada pemandangan unik di sepanjang jalan dari pertigaan Desa Pucuk ke arah utara di antara bulan Agustus sampai November. Di sisi-sisi jalan berjajar belasan tenda-tenda bambu berbadan dan beratap terpal. Tenda-tenda yang luasnya tidak lebih dari 36 m2 ini menampung ratusan buah labu-labuan seperti semangka dan melon. Buah-buah sebanyak itu memang sengaja dipajang untuk dijual kepada orang-orang yang kebetulan saja lewat dan para tengkulak.
Bedanya dengan buah labu-labuan yang dijual dipasar, buah-buah di sana dijamin masih sangat segar karena diambil langsung dari lahan tanam bekas rawa seluas puluhan hektare yang terletak disekitar tenda. Lahan-lahan tersebut adalah lahan milik petani yang beberapa di antaranya merangkap menjadi pedagang di tenda. “Tapi hasil dari lahan milik sendiri umumnya masih kurang untuk dijual. Jadi, kekurangannya kami dapat dengan kulak ke petani lain,” ujar Nur Hasan, salah satu pedagang yang mengaku memiliki lahan seluas 2 ha.
Lahan milik sendiri tersebut oleh Nur Hasan ditanami semangka, melon, timun mas, dan blewah. Untuk semangka dan melon sendiri ada beberapa jenis yang ditanam, seperti semangka sweet beauty, semangka new dragon, semangka golden crown, melon hijau, melon jingga (Cantaulope), melon apollo, serta melon madu (Honeydew melon).
“Yang paling mahal melon Apollo. Harganya sekitar delapan ribu rupiah per kilogram,” terang lelaki yang berasal dari Desa Latek, Sekaran ini. Melon apollo memang lebih mahal selain karena harga bibitnya yang memang mahal, “Juga karena melon apollo rasanya lebih enak,” tambahnya. Melon apollo merupakan melon hibrida, bentuknya lonjong, kulitnya kuning menyala tanpa jala, dan daging buahnya manis namun tidak berbau harum. Sedangkan untuk buah yang paling murah adalah blewah. Harganya hanya sekitar Rp 2.000 per kilogramnya.
Para pedagang buah “dadakan” ini umumnya, termasuk Nur Hasan, mulai membuka tenda mereka pukul 7 pagi sampai sekitar pukul 5 sore. Namun beberapa ada yang sampai tengah malam, bahkan ada juga yang tidur di tenda berbantal guling buah-buah bulat tersebut.
Karena berjualan buah ini terbilang profesi musiman, para pedagang umumnya memiliki pekerjaan lain. Pedagang buah hanya menjadi “label” mereka dalam sekitar tiga bulan saja. Nur Hasan yang sudah berdagang buah dalam 10 tahun terakhir ini, sehari-hari menjual aksesori di pasar. Namun saat ini ia harus libur dahulu berdagang di pasar karena harus mengurusi buah-buah miliknya. Menurutnya, secara finansial berdagang buah lebih menguntungkan daripada berdagang aksesori seperti yang ia jalani. “Hasilnya bisa dua kali lebih banyak,” akunya.
Berbeda lagi dengan Kasmiah, salah satu pedagang buah yang lain. Aktivitasnya di luar tiga bulan berdagang buah masih bergelut dengan tanam-menanam. Wanita 50 tahun asal Desa Miru ini adalah seorang petani padi.
Kasmiah juga mendapatkan aneka macam buah labu-labuan yang ia jual dari lahan 2 ha yang ia tanami. Lahan seluas 1 ha miliknya sendiri dan 1 ha sisanya ia sewa. Karena buah yang didapat dari lahan 2 ha itu masih juga kurang untuk dijual, sama seperti Nur Hasan, Kasmiah juga kulak dari petani lain.
Untuk tahu matang atau belumnya buah labu-labuan kadang bukan hal yang mudah buat kita, namun bagi Kasmiah hal tersebut tidak lebih sulit dari menarik hati pembeli. Ada tiga “jurus” indra yang ia pakai. Pertama, dari mencium bau buah. Untuk beberapa jenis buah, bau yang harum merupakan pertanda bahwa buah itu matang sekaligus manis. Namun, ini tidak berlaku untuk melon apollo. Sebab, sekali lagi, meskipun sudah matang, buah ini tidak berbau sama sekali.
Kedua, dari melihat warna kulitnya. Buah yang sudah matang warnanya lebih gelap daripada buah yang masih muda. Ketiga, dengan mendengarkan suara dari buah yang dipukul pelan. Dua cara sebelumnya mungkin bisa kita tiru, tapi untuk yang satu ini nampaknya perlu keahlian dan kejelian telinga khusus. “Antara yang matang dan belum bunyinya nyaris sama, tapi sebenarnya bisa dibedakan,” kata Kasmiah sambil mempraktekkan memukul buah semangka yang menurut pendengarannya sudah matang.
Sebenarnya ada cara yang paling mudah untuk menentukan matang-belumnya buah, yakni dengan langsung dibelah. Anda bisa mempraktikkannya, namun jangan lupa beli buah yang telah Anda belah. Jika tidak, jangan kaget jika semangka ukuran besar tiba-tiba melayang dari pedagang ke arah Anda. :p
Sebenarnya waktu tiga bulan berjualan buah bukanlah total waktu mereka bergelut dengan semangka dkk. Sebelum itu mereka menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk menanam hingga memanen buah. Buah labu-labuan memiliki masa panen yang relatif sama, sekitar 70-100 hari sejak pertama kali ditanam.
Selama masa itu, mereka harus menyiram, memupuk dan mengobati buah-buah mereka. “Agar dapat panen maksimal dan tidak terserang penyakit, mau tidak mau ya harus begitu,” tegas Bani, pedagang yang berasal dari Desa Trosono.
Bani sendiri menanam semangka, melon, dan blewah pada 3 ha lahan miliknya. Lahannya yang terbilang cukup luas, membuat Bani kulak tidak begitu banyak. Selain buah yang ia pajang di tenda, Bani juga menyimpan stok buah di tempat penggilingan padi miliknya. Buah di tenda-tenda millik para pedagang ini tidak setiap malam dijaga. Ada yang selama dua bulan ditinggalkan begitu saja. Hanya ditutup terpal. “Disimpan di tempat penggilingan padi bukan masalah aman, tapi karena di tenda tidak muat. Lagi pula di sini cenderung tidak ada yang mencuri kok,” terangnya.
Buah labu-labuan yang dihasilkan oleh para petani di Kecamatan Sekaran ini tidak semuanya dijual di tenda-tenda. Buah yang dihasilkan dari puluhan hektare lahan tentu terlalu banyak jika hanya dijual di satu tempat. Untuk itu, tidak sedikit buah yang diborong oleh pembeli dari dalam maupun luar Lamongan. “Dulu buah dari sini (Sekaran) saya jual ke Kecamatan Sugio. Kebetulan di sana ada tempat wisata Waduk Gondang, jadi lumayan ramai,” tutur Gianto, pedagang asal Desa Miru yang musim panen tahun ini memilih untuk berjualan di tenda-tenda seperti Nur Hasan dan yang lain. Menurut pengalamannya, berdagang di Sugio dan di Sekaran ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. “Sekarang di sini saja, biar lebih dekat juga dengan rumah,” alasannya.
Bedanya dengan Nur Hasan, Kasmiah, dan Bani, Gianto tidak memiliki lahan sendiri untuk ditanam. Ia sepenuhnya kulak dari petani langganannya. Setiap stok buahnya habis, ia segera menghubungi petani langganannya itu.
Siklus bergilir
Hasil berjualan buah labu-labuan ini bisa dibilang menguntungkan. Maka jangan heran jika ada pedagang yang berjualan hanya karena kebetulan ingin saja. Sumarlik misalnya, karena warung kopi miliknya berada di antara tenda pedagang buah, ia akhirnya tertarik untuk mencoba berdagang buah juga. Dengan modal uang Rp 4 juta, ia membeli semangka satu mobil bak penuh. “Ini pertama kali, saya masih belajar berdagang buah,” ujar perempuan kelahiran Sumenep, Madura ini.
Sumarlik juga belum tahu apakah tahun depan akan berjualan buah labu-labuan lagi atau tidak. Sebab, menurutnya, berdagang buah ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Daya tahan buah menjadi penyebabnya. Tidak sedikit buah miliknya yang sudah busuk padahal belum banyak yang laku terjual.
Beda lagi cerita Derman, salah satu pedagang yang bisa dibilang paling sering “bergaul” dengan buah labu-labuan. Saat musim buah labu-labuan di Sekaran seperti saat ini, warga desa Trosono ini mendirikan tenda bersama dengan pedagang-pedagang lain. Saat musim tanam telah habis, jika pedagang lain kembali pada aktivitasnya semula, ia tetap setia pada melon dan semangka. Hanya saja ia tidak lagi menjual dengan berdiam diri di tenda, namun menjajahkannya dengan berkeliling ke desa-desa.
“Melon dan semangka itu siklus tanamnya bergilir. Jadi kalau di sini sudah habis masa panen, di daerah lain baru mulai. Setelah ini mungkin di Tuban, di Banyuwangi, dan di Jombang. Nanti saya dikirim dari sana,” terangnya.
Lahan tanam padi juga
Area lahan yang saat ini dipakai untuk menanam buah labu-labuan ini mengalami tiga fase dalam setahun. Fase pertama, di musim hujan sebagai rawa. Fase kedua, di musim kemarau sebagai lahan tanam buah. Fase ketiga, di musim kemarau menginjak musim hujan sebagai lahan sawah yang ditanami padi.
Keadaan tanah setelah kering dari air rawa membuat tanah menjadi gembur dan kaya akan bahan organik, cocok untuk lahan tanam semangka dan saudara-saudaranya yang masuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Sementara saat masa panen buah labu-labuan selesai, lahan ditanami padi dengan metode tanam yang mirip dengan menanam jagung, yakni dengan membuat lubang-lubang untuk diisi dengan calon batang padi. Dengan metode ini waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat karena tidak perlu membajak tanah. “Bisa mengejar waktu. Agar sebelum lahan menjadi rawa kembali, padi sudah bisa dipanen,” ujar Muchid, salah satu petani yang memiliki lahan di rawa seluas 1 ha.
Di musim tanam buah tahun ini, Muchid memilih untuk menanam semangka dan blewah saja, tanpa melon dan timun mas. Menurutnya, menanam melon membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih karena proses perawatannya lebih rumit. Semangka dan blewah yang ia panen tidak dijual di tenda-tenda, melainkan diborong oleh tengkulak yang berasal dari pelbagai daerah seperti Tuban, Blora, Jombang, dan Kudus.
Musim buah labu-labuan di Sekaran, Lamongan tahun ini mengalami kemunduran waktu. Ini disebabkan musim kemarau yang juga mundur. Jika biasanya pada bulan Juni sudah mulai menanam, tahun ini mundur sampai bulan Agustus. Diperkirakan buah-buah ini akan terus ada sampai akhir November. Bagaimana dengan tahun depan? Maju, tetap, atau mundur? Jangan tanya saya, yang tahu jawabannya mungkin para ahli di Badan Meteorologi dan Geofisika.
SENI TARI “DALAM” BORAN
Boran di tangan para penjual nasi tentu akan berfungsi sebagai tempat nasi. Tapi, jika boran-boran itu berada di tangan para pencinta seni tari hasilnya adalah sebuah karya yang unik. Kita bisa melihat hal tersebut pada pertunjukan Tari Boran, tari khas dari Lamongan.
—-
Delapan wanita berpakaian kembar, kebaya sederhana berwarna merah muda dengan bawahan sarung selutut, melenggak- lenggokkan badannya di atas panggung dengan energik. Rangkaian gerakan nan dinamis, mereka padukan dengan permainan boran yang asyik. Boran merupakan nama tempat n asi mirip bakul, namun memiliki diameter dan ukuran yang lebih kecil. Sesekali boran itu dipakai di kepala laksana topi, sesekali juga mereka lempar ke atas dan dengan tangkas ditangkap kembali.
Sudah sekitar lima menit mereka tampil di hadapan penonton dan juri. Gerakan terakhir yakni melompat-lompat dengan satu kaki dengan ekspresi yang unik meninggalkan panggun g. Begitu musik pengiring – gamelan minimalis – selesai ditabuh, menandakan juga berakhirnya penampilan yang seru sekaligus menegangkan itu.
Tak dinyana, penampilan tari kreasi orang Lamongan di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta sebagai perwakilan Jawa Timur dalam Parade Tari Nusantara tahun 2007 ter sebut meraih 8 dari 9 katagori yang dinominasikan. Yang pa ling mengejutkan, mereka juga meraih juara umum. “Padahal saat itu targetnya masuk 10 besar saja,” kenang Ninin Desinta Yustikasari, salah satu kreator Tari Boran. Kerja kerasnya selama berbulan-bulan bersama dua rekannya, Tri Kristiani dan Purnomo, membuahkan hasil yang manis bukan hanya untuk mereka bertiga dan tim, namun juga untuk Lamongan.
“Salah satu keunggulan Tari Boran yakni gerakannya yang energik. Seperti ciri khas tarian Jawa Timur yan g energik dan dinamis,” kata sarjana seni lulusan Sekolah Tinggi S eni Indonesia (STSI) Solo ini. Berbeda dengan ciri khas dan tradisi tarian dari daerah lain di Indonesia, yang meskipun tak kalah indah tapi tidak seenergik dan sedinamik tarian Jawa Timuran.
Seperti namanya, Tari Boran tidak bisa lepas dari aksesori yang dipakai, yakni boran. Sekadar untuk diketahui, boran biasa dipakai sebagai tempat nasi untuk salah satu makanan khas Lamongan, yakni nasi boran. Penjualnya bisa ditemui dengan mudah di jalan-jalan pusat kota dari pagi sampai malam, 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Non stop!
Keunikan lain dari penjual nasi boran adala h mereka yang selalu bergantian berjualan meski tanpa kesepakatan, tanpa perjanjian shift pagi atau shift malam. Tak jarang juga jarak tempat berjualan mereka hanya beberapa meter saja dari penjual lainnya. Ibarat bekerja di pabrik, mereka seperti rekan, bukan saingan.
“Melihat keunikan para penjual nasi boran itu, sepertinya akan menarik jika diangkat menjadi sebuah ide tarian. Kemudian (ide tersebut) saya usulkan kepada Bu Kris dan Pak Pur. Mereka setuju. Akhirnya jadilah Tari Boran,” ujar Ninin yang juga berpr ofesi sebagai guru ini.
Tari Boran ini, masih kata Ninin, awalnya diciptakan untuk mengikuti event Festival Karya Tari Jawa Timur (FKT JATIM) yang mengusung tema akar budaya daerah asal. Untuk mengikuti festival yang diadakan di Malang tersebut, Ninin dan tim harus berangkat dengan mandiri. Segala sesuatunya mereka persiapkan sendiri. Maklum saat itu, tahun 2006, kesenian tari belum dilirik oleh Pemda Lamongan.
Butuh waktu satu bulan untuk menyiapkan konsep Tari Boran. Tak jarang Ninin, Kris, dan Pur, yang sering dijuluki “Tri Melati” ini berbeda pendapat selama proses tersebut. Namun, jangan berpikir mereka akan bertengkar setelah itu, perbedaan pendapat justru memunculkan banyak ide untuk dipilih dan dikreasikan.
Ada 6 gerakan inti dalam Tari Boran yang menggambarkan kehidupan penjual nasi boran sehari-hari. Mulai dari berang kat ke pasar, memasak, berangkat menjual nasi boran, proses jua l beli, saat-saat dagangan habis, hingga saat para pedagang pulang. Dari keseluruhannya digambarkan secara apik dan menarik oleh Tri Melati.
Untuk FKT JATIM tersebut, enam penari diambil dari siswi SMP Negeri 1 Kembangbahu, tempat mengajar Ninin dan Kris. Ditambah Ninin dan Kris sendiri, jadi total ada delapan penari. Dalam ajang tersebut, Tari Boran mendapat 8 dari 9 katagori yang dinominasikan. Juga menjadi juara umum yang membawa mereka ke Parade Tari Nusantara.
Sementara untuk Parade Tari Nusantara yang sudah menginjak tingkat seniman, komposisi penarinya sudah tidak sepenuhnya sama lagi. Dari delapan penari awal, hanya empat saja yang bisa masuk, dua di antaranya termasuk Ninin dan Kris. “Sisanya tidak masuk karena terganjal usia,” terang Ninin. Jadi, empat penari lain diambil dari seniman-seniman dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Sampai saat ini, Tari Boran sudah mengalami beberapa kali modifikasi, namun dengan inti gerakan yang tetap sama. Partama, gerakan Tari Boran yang dibawakan di FKT JATIM. Lalu sedikit diubah untuk Parade Tari Nusantara. Modifikasi selanjutnya dilakukan untuk pentas di Istana Negara, saat pesta rakyat Lamongan yang diadakan di Jakarta. Tari Boran juga dimodifikasi saat digunakan sebagai tari pendidikan oleh Pemda Lamongan.
Itu belum termasuk modifikasi yang harus disesuaikan untuk Tari Boran massal yang dipentaskan di alun-alun kota Lamongan tahun 2009 dan 2010 dalam rangka hari jadi kota te rsebut. Kini, Tari Boran sudah jarang lagi dipentaskan. Sayang sekali memang, sebuah kesenian yang seharusnya dilestarikan harus “tenggelam” gara-gara terlupakan.
Juara umum yang diperoleh Tari Boran dalam dua event tingkat provinsi dan nasional tersebut menjadikan seni tari mulai diperhatikan oleh Pemda Lamongan, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Ninin juga menuturkan, kemenangan tersebut juga membuat seni tari mulai banyak diminati generasi muda Lamongan.
Dulu, selain sulitnya menumbuhkan minat tari, masalah lain untuk memajukan tari di Lamongan adalah tidak adanya wadah bagi para peminat tari. Orang yang sudah berminat pada tari pun akan malas jika tidak ada tempat bernaung. “Ditambah lagi jarangnya eventtari di Lamongan,” katanya.
Dari pengalaman Ninin saat kecil yang sering kesulitan mencari wadah atau komunitas tari di Lamongan, dibentuklah sebuah sanggar bernama Tri Melati. “(Dulu) ada sanggar, tapi tidak lama. Bertahan paling cuma setahun, terus mati. Ada baru lag i, setahun, mati lagi. Begitu seterusnya,” ujar Ninin yang saat kecil harus berganti-ganti sanggar tari karena faktor tersebut.
Sanggar ciptaan tiga kawan yang peduli terhadap seni tari di Lamongan ini dibentuk tahun 2006 dan bersekretariat di Kelurahan Sukomulyo. Meski sekretariatnya di Sukomulyo, kegiatan latihan yang diadakan tiap seminggu sekali berpusat di pendopo Kecamatan Lamongan. Harapannya, dengan diadakan di tengah kota, dapat menarik peminat yang lebih banyak. S aat ini, sanggar Tri Melati memiliki 30-an anak didik, mulai dari kelas TK sampai SMP dan SMA.
Ninin juga menanggapi kemunculan goyang cesar dan goyang-goyang sejenis yang sedang beken dan sering nongol di tipi akhir-akhir ini. Meski banyak yang bilang tidak mendidik, namun, menurutnya, hal tersebut tidak sepenuhnya buruk. “Pertama, esensi utama seni tari adalah mau menggerakkan tubuh saat mendengar musik. Bisa jadi, yang awalnya suka g oyang cesar, lama ke lamaan tertarik ke seni tari yang sesunggu hnya,” terangnya.
Kedua, selain bisa mengajak bergerak, juga berguna untuk memotifasi daya ingat. Ini kelihatannya sepele, padahal sebetulnya penting di dunia seni tari. Jika seorang anak kecil menghafal gerakan goyang cesar saja bisa, menghafal gerakan tari juga pasti bisa. Tinggal melihat niat belajarnya saja. Ketiga, dari goyang cesar juga bisa merefleksikan tubuh. Tubuh yang sebelumnya jarang atau tidak pernah bergerak jadi tidak kaku. Hm, jadi selain tetap “keep smile”, tak ada salahnya juga jika kita ikut berg oyang.
Di era serba canggih ini, belajar menari juga bisa lebih mudah daripada belasan tahun yang lalu. Ninin memberi contoh, kita bisa belajar dasar-dasar dan pendalaman tari dari sekolah-sekolah seni tari atau mengikuti latihan di sanggar. Sementara untuk pengembangan atau variasi gerakan, kita bisa mendapat banyak referensi dari ratusan, ribuan, atau mungkin jutaan video tari yang diunggah di internet.
Tari Boran hanya salah satu tari kreasi Tri Melati. Selama sepuluh tahun ini, selain Tari Boran ada juga Tari Teropong, Tari Turonggoh Sulah, Tari Caping Ngancak, Tari Silir-silir, Tari Sinau, Tari Mayang Madu, dan beberapa tari lainnya. Totalnya ada belasan. Dari seluruh tari tersebut memang tidak berlebihan jika Pemda Lamongan menjadikan Tari Boran sebagai ikon. Karena selain prestasi yang telah diraih, Tari Boran juga menjadi titik awal mulai berkembangnya seni tari di Lamongan.
Jika berbicara soal prestasi, tari lainnya juga bukan tanpa prestasi. Tari Caping Ngancak, misalnya, pernah menjuarai Festival Seni Tari Siswa Tingkat Nasional tahun 2008 yang diadakan di STSI Bandung.
Saat ini, Ninin dan kawan-kawan sedang mempersiapkan Tari Mendak untuk mengikuti Festival Pesisiran yang akan digelar di Tuban, Jawa Timur. Sekadar diketahui saja, mendak merupakan upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tlemang, Ngimbang, Lamongan, setahun sekali.
Ke depan, Ninin berharap akan ada generasi penerus seni tari di Lamongan agar tidak berhenti di dirinya dan kawan-kawan. Selain penari, ia juga ingin ada penerus yang berkreasi dengan menciptakan tarian-tarian baru nantinya. Agar seni tari tidak “mati suri” seperti Tari Boran. Dibilang mati, tarian ini masih dianggap ikon. Dibilang hidup, sudah tak pernah pentas.
SONGKOK MBAK YENNY DARI LAMONGAN
Sentra industri songkok nasional sebenarnya berada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Daerah seperti Kelurahan Pekauman, Pekelingan, Bedilan, dan Karangpoh, Kecamatan Gresik menjadi pusat utamanya. Namun, seperti virus, industri ini kini “menular” ke kabupaten-kabupaten tetangga, salah satunya Kabupaten Lamongan.
—
Bagi orang muslim, songkok bukan barang asing. Penutup kepala berwarna hitam yang memiliki bentuk oval dengan dua sudut di depan dan di belakang ini biasa dipakai orang muslim saat salat. Selain itu, songkok juga sering digunakan dalam acara-acara lain, seperti pengajian atau upacara bendera, acara keagamaan ataupun tidak.
Dulu, di Kota Soto, songkok hanya bisa kita jumpai sebatas penjualnya saja, di pasar tradisional, di butik muslim, dan di sekitar area makam wali (Sunan Drajat). Tapi sekarang, kita juga bisa berjumpa dengan para perajin songkok. Tidak percaya? merapatlah ke Desa Pomahan Janggan, Kecamatan Turi. Banyak warga desa ini, Desa kecil yang terletak 7 km sebelah utara pusat Kecamatan Turi hidup akrab dengan songkok.
Keahlian membuat songkok perajin di desa ini di dapat dari Gresik. Mereka awalnya bekerja sebagai buruh di sana. “Namun, karena ada dorongan untuk lebih maju, banyak di antara buruh tersebut memutuskan untuk keluar dan mencoba berbisnis sendiri, termasuk saya,” ujar Pak Ahmadi, salah satu perajin songkok yang sudah bergelut dengan songkok sejak 23 tahun yang lalu.
Perjalanan Pak Ahmadi, sebagai salah satu perajin songkok di Lamongan tidak bisa dibilang mudah. Lima tahun ia bekerja sekaligus belajar membuat songkok di Gresik. Tahun 2003, karena merasa upah yang didapat tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, ia lantas berhenti. Dari sana, dua bulan ia sempat merantau ke Maluku. Karena tidak berhasil, ia balik pulang kampung.
Di kampung, dalam keadaan menganggur, Pak Ahmadi mulai tertarik untuk kembali “menggeluti” songkok, tapi dengan cara yang berbeda, tidak lagi sebagai buruh. Bermodal uang pinjaman dari Bank senilai Rp 30 juta, ia menjadi pemasar songkok. Pekerjaan Pak Ahmadi saat itu ialah mencari orderan untuk dibelikan kepada perajin dengan uang muka miliknya sendiri. Jika dalam dunia tiket, ia seperti makelar.
Meski penghasilannya sebagai “makelar” songkok bisa dibilang cukup. Pak Ahmadi tidak lantas puas. Sejak dua tahun yang lalu, ia beralih menjadi perajin. Lagi-lagi, dengan uang pinjaman bank sebesar Rp 100 juta, ia mulai berbelanja segala bahan pembuat songkok, mulai dari beledu – bagian luar songkok yang berbulu halus –, kain, plastik mika, dan lain-lain. Pertama kali, ia membuat 250-an kodi songkok. Satu kodi sama dengan 20 buah, jadi, totalnya sekitar 5.000 buah songkok. Jumlah yang tidak sedikit itu ia bawa keluar kota dan keluar pulau untuk ditawarkan kepada koleganya di sana. Ternyata respons yang didapat positif.
Seperti yang kita tahu, selain songkok yang menggunakan beledu, ada juga songkok yang terbuat dari anyaman bambu, anyaman serat pohon lontar, dan kain. Ketiga songkok ini secara fisik lebih awet daripada songkok beledu, juga lebih tahan jika terkena air. Namun, perajin Lamongan – termasuk Pak Ahmadi – membatasi produksinya hanya pada songkok yang terbuat dari beledu saja.
Permintaan songkok Lamongan tidak bisa dibilang sedikit. Sampai saat ini, songkok buatan Pak Ahmadi, misalnya, tidak pernah sepi. Dalam sehari, rata-rata Pak Ahmadi, dibantu dengan 40 karyawannya, memproduksi 30 kodi songkok. Jumlah pesanan kepadanya bisa mencapai ribuan kodi dalam sebulan. Kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Semarang, Padang, Jambi, Makassar, dan Kudus, menjadi pasar utama songkok Yanuba dan songkok Arifah, dua merek songkok milik Pak Ahmadi.
Yanuba dan Arifah, dua nama yang dijadikan merek oleh Pak Ahmadi memang mirip dengan nama depan dan nama tengah Mbak Yenny, anak presiden RI keempat, Gus Dur. Pak Ahmadi sendiri mengakui, merek dagang songkoknya diambil dari nama Yenny. Tapi ini bukan plagiat. Usut punya usut, Yenny yang dimaksud bukan Mbak Yenny anak Gus Dur, tapi Yenny anaknya sendiri yang berusia sekitar 5 tahun. “Nama anak saya memang saya samakan dengan nama anak Gus Dur. Panggilannya, nama lengkapnya, sama,” ujar bapak kelahiran tahun 1973 ini sambil tersenyum.
Ada banyak model songkok di pasaran. Ada yang polos hitam, ada yang berpita, dibordir, dan lain-lain. Model-model songkok, menurut Pak Ahmadi, memang sangat bervariasi. Ia sendiri memproduksi setidaknya lima jenis songkok. Pertama dan yang paling mahal adalah songkok jenis soga. Songkok ini, beledu bagian sisi pinggir dan atas diberi hiasan lukisan tangan. Karena proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan ketelitian, wajar jika songkok ini dijual dengan harga sekitar Rp 550 ribu per kodi.
Model kedua, songkok klasik. Songkok model ini berhiaskan pita. Harganya sekitar Rp 500 ribu per kodi. Ketiga, songkok bordir. Seperti namanya, songkok ini hiasannya berupa benang yang dipola menggunakan mesin. Harganya berkisar Rp 450 ribu per kodi. Model keempat adalah songkok kharisma. Hiasan songkok ini berupa bunga-bunga kain, harganya dipatok Rp 400 ribuan per kodi.
Sedangkan model terakhir adalah songkok polos, songkok yang sekeliling sisinya hanya beledu tanpa hiasan. Songkok ini dibanderol antara Rp 200 ribu sampai 300 ribu per kodi. Dari kelima model tersebut dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni AC dan biasa. Bedanya terletak pada kedua ujung bagian atas. Songkok AC kedua ujung atasnya selain menggunakan beledu, juga ditambah kain yang berongga. Sedangkan songkok biasa, tertutup beledu semua.
AC dan Biasa, hmmm, mirip bus ya :p.
Jangan sering dicuci!
Sama halnya dengan produk lainnya, songkok pun ada yang berkualitas ada juga yang tidak. Cara membedakannya, selain pada harga, Pak Ahmadi juga memberikan beberapa tips. Pertama, periksa keadaan songkok mulai dari meraba bagian beledunya. Ada banyak jenis beledu. Beledu yang berkualitas memiliki ciri lembut dan tebal. Jika mungkin, bandingkan dengan beledu pada songkok lainnya.
Selanjutnya periksa setiap jahitan pada songkok. Kerapian jahitan dan jenis benang yang dipakai, benang tebal atau benang tipis, perlu diperhatikan. Benang yang tebal cenderung lebih bagus, tidak mudah putus, jadi songkok lebih kuat.
Yang terakhir, periksa bagian dalam songkok. Bagian ini dapat dilihat jika Anda membuka lipatan bagian atas songkok. Biasanya terbuat dari kertas tebal atau mika agar songkok tidak lemas. Jadi, pilihlah songkok yang memakai kertas dan mika setebal dan sekuat mungkin.
Perlu diperhatikan juga, songkok memiliki ukuran dari 1 sampai 12. Sebelum membeli, ada baiknya dicoba dulu. Jangan sampai Anda menyesal karena kekecilan atau kebesaran saat dipakai nanti.
Untuk perawatannya, jangan terlalu sering mencuci songkok Anda. Meskipun ada beberapa merek songkok yang diklaim tahan air, ada baiknya Anda tetap berhati-hati karena beledu mudah rusak. Jika sering dicuci, bulu halusnya akan mudah lepas, juga warnanya akan pudar kemerahan.
Saat meletakkan songkok juga perhatikan lingkar atas dan bawah. Lingkar bawah songkok cenderung lebih kuat. Jadi saat dibenturkan ke meja atau tempat keras lain, songkok lebih tahan. Sebaliknya, lingkar atas lebih ringkih, mudah berubah bentuk jika terlalu sering dibenturkan.
Sekarang, coba ambil dan lihat songkok Anda, apakah di dalamnya tertulis “Yanuba” atau “Arifah”? Jika iya, wah, songkok Anda ternyata buatan ayahnya Mbak Yenny, Gus Di, Gus Ahmadi, hehehe..
LAMONGAN JUGA BISA BUAT KAPAL
Salah satu pemandangan yang akan menarik mata Anda saat melintas di pesisir Kabupaten Lamongan ialah jejeran perahu di sepanjang garis pantainya. Kebetulan jalan utamanya berjarak cukup dekat dengan pantai, hanya beberapa puluh meter saja. Bahkan di sebagian ruas jalan ,langsung berdampingan dengan pantai. Jadi, Anda bisa melihat luasnya laut dengan aksen perahu dari kendaraan.
Perahu-perahu tersebut tentu milik para warga setempat yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Untuk perahu-perahu kecil yang hanya digunakan untuk melintas beberapa kilometer saja dari garis pantai, para nelayan biasa membuatnya sendiri. Namun bagaimana dengan perahu-perahu besar yang digunakan untuk melaut hingga menyeberang pulau, seperti Pulau Madura, Pulau Kalimantan, atau bahkan sampai ke Pulau Sulawesi? Perahu-perahu yang kebanyakan milik para juragan ini hampir tidak mungkin dibuat sendirian. Selain dibutuhkan waktu yang lama serta tenaga yang tak sedikit, membuat perahu-perahu “jumbo” juga diperlukan keahlian khusus.
Perahu-perahu berukuran besar ini mungkin sulit ditemui di sepanjang jalan raya, kalaupun ada, akan sangat jarang. Perahu ini lebih gampang kita jumpai di Pelabuhan Brondong, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong, atau di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kranji Kecamatan Paciran.
Meski tidak dibuat sendiri oleh pemiliknya, tidak berarti juga perahu-perahu ini didatangkan dari daerah lain. Karena penduduk sekitar Brondong dan Paciran pun ada yang andal dalam membuatnya.
Para perajin ini membuat kapal di daerah pinggir laut dengan tanah yang cukup luas, salah satunya di Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran. Daerah pinggir laut sengaja dipilih agar mempermudah pemindahan perahu dari darat ke laut kalau sudah jadi nantinya, tinggal didorong saja dengan alat berat.
Di desa ini, ada yang membuat perahu secara mandiri dan ada juga yang membuatnya dalam pimpinan seseorang. Membuat secara mandiri maksudnya, pemesan langsung datang ke para perajin untuk minta dibuatkan perahu. Sementara dalam pimpinan seseorang berarti transaksi terjadi antara pemesan dan pemilik mebel. Proses pembuatannya menjadi urusan antara perajin dan pemilik mebel.
Kedua cara ini memiliki keunggulan masing-masing bagi para pemesan. Untuk yang cara pertama, perahu bisa disesuaikan langsung dengan keinginan pemesan dalam segala segi. Pemesan juga banyak berperan dalam pemilihan bahan kayu dan lain-lain.
Sementara untuk cara yang kedua, pemesan bisa lepas tangan. Karena semua hal tergantung oleh pemilik mebel dan perajin, pemesan tinggal terima “beresnya saja”.
Otodidak
Meski dengan prosedur pemesanan yang berbeda, cara pembuatan perahu tentulah sama. Satu buah perahu besar, berkisar panjang antara 7-9 meter biasa diselesaikan oleh 5-7 perajin dalam waktu sekitar 5 bulan.
Membuat perahu besar memang diperlukan keahlian khusus, tapi jangan membayangkan para perajinnya merupakan arsitektur atau sarjana lulusan teknik sipil. Karena hampir semua dari mereka belajar membuat perahu secara otodidak, dari pengalaman-pengalaman yang mereka peroleh dari nenek moyang mereka.
Jadi di tempat pembuatan perahu ini, jangan juga berharap ada rancangan kerangka perahu pada kertas gambar, atau alat-alat canggih yang biasa dipakai dalam pembuatan kapal-kapal modern. Di sini perahu dibuat secara langsung tanpa desain dan tanpa rancangan. “Semua dilakukan pakai perasaan perajinnya saja,” kata Pak Ali Shodikin, salah satu pemilik mebel pembuat perahu yang terletak 100 meter sebelah timur Balai Desa Kandang Semangkon.
Proses pembuatannya juga masih sangat sederhana. Di mebel milik pak Ali Shodikin yang berdiri sejak tahun 2009 ini misalnya, mesin hanya digunakan untuk memotong kayu. Mesin ini bernama denso atau dalam bahasa inggris disebut chainsaw, mesin gergaji besar yang digerakkan oleh diesel.
Untuk bagian-bagian yang melengkung seperti alas perahu, kayu dipanggang di atas api dan diberi pemberat (batu) pada salah satu ujungnya hingga lengkung yang dikehendaki. Lagi-lagi tidak ada perhitungan berapa lama kayu harus dipanggang. Semua tergantung “rasa” si perajin. Jika lengkung yang diingginkan dirasa cukup, saat itu juga kayu diangkat.
Perahu-perahu nelayan di pesisir Lamongan ini bukan hanya cara pembuatannya saja yang tradisional, namun perlengkapan kapalnya juga masih minim. Tidak ada alat pendeteksi karang atau pendeteksi ikan. Maksimal, para nelayan hanya membawa GPS untuk mendeteksi tempat yang sudah dilaluinya.
Jati paling oke
Karena digunakan untuk melaut dengan konsekuensi berhadapan air asin yang mudah merusak kayu, pemilihan bahan baku tidak boleh sembarangan. Untuk bagian alas bawah, Pak Ali Shodikin hanya percaya pada kayu jati jenis TPK (Tempat Penimbunan Kayu) milik perhutani. Kayu jati ini merupakan jenis kayu jati kualitas terbaik. Salah satu yang membedakannya dengan kayu jati biasa atau yang biasa disebut jenis AB (milik rakyat) adalah cara menebangnya. Kayu jati TPK baru ditebang 1 tahun setelah pohonnya dimatikan. Dengan demikian tekstur kayunya lebih keras dan kandungan air di dalamnya sudah kering.
Jika dibandingkan dengan kayu jati jenis AB yang sudah kering karena dijemur, kayu jati TPK tetap jauh lebih baik. Karena itu juga kayu ini harganya lebih mahal, yakni Rp. 12 juta per meter kubiknya.
Untuk bagian kerangka dalam perahu, yang terdiri dari tempat penyimpanan ikan hasil melaut, tempat mesin, tempat pengemudi, dan sebuah kamar untuk para nelayan beristirahat, biasa digunakan kombinasi antara kayu jati dan kayu mahoni. Ini dilakukan untuk menekan biaya produksi, karena harga kayu mahoni lebih murah daripada kayu jati.
Harga satu perahu tergantung dari besar ukuran dan kombinasi jenis kayu yang digunakan. Untuk perahu ukuran 7-9 meter dengan tinggi sekitar 6 meter, dan lebar sekitar 4 meter, berkisar antara 500-700 juta per unit. Kapasitasnya bisa mencapai 50 ton, masih renggang untuk menampung seekor paus jenis grey whale, Wow!
Perahu, Den Jon, Atau Kosen?
Jika teliti, ketika berada di pelabuhan atau TPI Brondong, Anda akan melihat bentuk perahu yang tidak selalu sama antara satu dengan lainnya di luar masalah ukuran. Bukan karena kebetulan, tapi perahu-perahu di sana memang dibuat dengan dua model. Yakni model asli yang biasa disebut “Perahu” saja, dan model lain yang dikenal dengan nama “Den Jon”.
Perbedaan keduanya memang tidak signifikan, yang paling kentara terletak di bagian ujung depan dan belakang perahu yang biasa disebut linggi haluan. Jenis asli Perahu memiliki ujung depan yang menjulang lancip dan tinggi, sementara Den Jon ujungnya papak dan sedikit lebih rendah.
Sedang jika Anda merapat ke TPI Kranji, bentuk perahunya lain lagi. Tidak ada linggi haluan yang tinggi, tapi bagian belakang lebih unik. Jika dilihat dari samping nampak miring lurus, tidak melengkung layaknya model Perahu dan Den Jon. Model yang disebut Kosen ini juga diberi tambahan kayu sebagai linggi buritan, mirip bumper mobil sedan.
“Ini bukan semata masalah fungsi. Tapi biar jadi penilaian orang yang melihat, model mana yang lebih ‘ganteng’?” gurau seorang perajin sambil tertawa















Tidak ada komentar:
Posting Komentar