Rabu, 29 Oktober 2014

GUNUNG RATU, BUKIT TEMPAT LAHIRNYA GAJAH MADA

Surya 2Gunung Ratu 5Siapa yang tak kenal dengan Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit itu? Nama besar yang ia miliki membuatnya dikenang di seluruh penjuru nusantara. Maka jangan heran jika di banyak tempat di Indonesia terdapat dongeng tentang kelahiran patih yang terkenal dengan sumpah palapanya itu. Dongeng-dongeng tersebut tersebar dengan mudah karena belum adanya sejarah yang pasti tentang kelahiran sang patih.
Beberapa tempat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, bahkan Nusa Tenggara memiliki dongeng yang berbeda-beda. Ada yang menceritakan Gajah Mada sebenarnya putra kerajaan, ada juga yang berpendapat ia lahir dari orang tua biasa, bahkan versi lain menganggap Gajah Mada terlahir dari batu.
Di pulau Jawa, Lamongan merupakan salah satu kota yang memiliki dongeng tentang Gajah Mada. Di Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang, di atas sebuah bukit bernama Gunung Ratu, ada sebuah makam yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai makam Dewi Andong Sari, ibu dari Gajah Mada.
Dewi Andong Sari merupakan salah satu selir raja pertama Majapahit, Raden Wijaya. Ia dibuang dan akan dibunuh karena fitnah yang menyebut ia hamil dari hasil perselingkuhan.
Tak sampai dibunuh, Dewi Andong Sari hanya diasingkan di atas bukit di dalam hutan oleh prajurit kerajaan. Bukit inilah yang sekarang disebut Gunung Ratu.
Tak lama tinggal di sana, Dewi Andong Sari melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat ia hendak turun dari bukit, Dewi Andong Sari menitipkan bayinya pada dua hewan peliharaan yang selama ini menemaninya, seekor kucing bernama condromowo dan seekor garangan (musang) putih.
Gunung Ratu 6Bunuh diri di Gunung Ratu
Dalam dongeng yang tidak bisa diuji kebenarannya ini, Dewi Andong Sari bunuh diri di Gunung Ratu. Ia merasa bersalah telah membunuh kucing condromowo dan musang putih.
Sebelumnya, dua hewan ini telah melawan seekor ular besar yang hendak memangsa bayi Dewi Andong Sari hingga mulut mereka berlumuran darah. Tapi, Dewi Andong Sari yang baru tiba dari mandi, justru mengira peliharaannya tersebut telah memakan si bayi. Padahal bayi tersebut masih hidup dan tersembunyi di balik dedaunan.
Jejaka dari Desa Modo
Ki Gede Sidowayah seorang pamong desa saat itu yang menemukan bayi Dewi Andong Sari. Ia juga yang mengubur jasad wanita cantik itu, juga kucing dan musang yang telah mati.
Bayi Dewi Andong Sari oleh Ki Gede Sidowayah dititipkan kepada adik perempuannya, Janda Wara Wuri di Modo. Di sanalah anak Dewi Andong Sari dijuluki Joko Modo (seorang jejaka yang berasal dari Modo). Ketika menginjak dewasa, Joko Modo dibawa Ki Gede Sidowayah ke Malang untuk  menjadi seorang prajurit Majapahit dan nantinya menjadi mahapatih dengan nama Gajah Mada.
Gunung Ratu 2Tak hanya versi Lamongan, nama Mada pada Gajah Mada oleh dongeng versi Bali yang tertulis dalam Teks Lontar Babat Gajah Maddha juga berasal dari desa yang bernama Maddha. Namun Desa Maddha yang dimaksud bukan Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, melainkan Desa Maddha yang terletak di dekat Gunung Semeru.
Suasana 17-an
Jalan menuju ke Gunung Ratu sedikit terjal. Untuk sampai ke sana, Anda harus melewati jalan bercadas dan paving sejauh 3 km.
Setelah sampai pun, Anda harus siap menaiki 100-an lebih anak tangga yang menuju ke atas Gunung Ratu. Warga sekitar percaya jika seseorang menghitung anak tangga ini, jumlah yang didapat akan berbeda dengan orang lainnya. Mungkin ini terjadi karena kecenderungan seseorang yang terganggu konsentrasinya ketika menghitung sesuatu secara berulang-ulang.
Percaya atau tidak Anda boleh datang dan mencobanya. Seorang teman saya menghitung 170 anak tangga, sedangkan Pak Sulaiman mengaku pernah menghitung dan mendapati 168.
Gunung Ratu 3Setelah dipugar, kompleks makam Dewi Andong Sari terlihat rapi. Banyaknya pepohonan tidak membuat jalan setapak dan dua tempat semacam pendopo kecil untuk beristirahat pengunjung menjadi kotor. Terlihat sekali, kompleks makam yang tidak luas ini dirawat dengan baik. Kuburan kucing conrdomowo dan musang putih yang mencolok di atas tanah tepat di samping jalanan keramik juga terawat.
Suasana Indonesia sangat terasa di sini. Bendera merah-putih dilingkarkan di beberapa batang pohon besar, juga di atap dan dinding pendopo. Di salah satu pendopo juga terpampang dua gambar Bapak Prokamator, Bung Karno, lengkap dengan garuda lambang negara. Bangunan luarnya banyak yang bercat merah dan putih, mirip seperti suasana saat 17-an.
Makam Dewi Andong Sari sendiri terdapat di dalam bangunan sebelah utara menghadap ke selatan. Di dalam bangunan ini, makam Dewi Andong Sari dihiasi dengan payung-payung kuning khas kerajaan. Selain itu, dalam bangunan yang luasnya hanya sekitar 4×4 meter ini juga terdapat 5 batang pohon besar yang menembus hingga ke atas atap. Nampaknya sebelum dipugar, 5 pohon ini sudah berdiri tegak dan memang sengaja tidak ditebang.
Gunung Ratu 1Oh iya, di area kompleks makam ini ada peraturan unik. Tamu tidak boleh mengganggu tamu, dan tamu tidak boleh mencari tamu. Anda yang datang dengan niat baik-baik tidak perlu pusing memikirkannya. Karena usut punya usut, dua larangan ini dibuat atas keresahan warga oleh orang yang mengaku ‘dukun’ dan sering mengganggu pengunjung di makam Dewi Andong Sari. Ada-ada saja ya, hehehe…
Rute menuju ke mkam Dewi Andong Sari:
Dari pasar Babat menuju ke arah Jombang sekitar 21 km
Di depan Kantor Koramil Kecamatan Ngimbang ada pertigaan kecil menuju ke arah timur
Makam Dewi Andong Sari berada 3 km sebelah timur pertigaan tersebut.

BABAT SI KOTA TUA

Surya 2Bangunan CTNSeandainya predikat Kota Tua di Kabupaten Lamongan harus ada, mungkin Kecamatan Babat yang paling pantas untuk menyandangnya. Di balik hiruk-pikuknya sebagai pusat perdagangan Lamongan, wilayah yang dijuluki sebagai Kota Wingko ini menyimpan banyak cerita masa lampau yang dapat dilihat dari beberapa bangunan tuanya, seperti bangunan CTN, gedung Garuda, stasiun Babat, dan rumah-rumah panggung.
Dengan melihat sekilas saja, kita akan tahu bangunan CTN yang  terletak di Jalan Raya Babat ini merupakan bangunan yang sudah sangat tua. Dekorasi-dekorasi serta desain kuno terlihat mencolok dari setiap sisi bangunan tersebut.
Tidak ada yang tahu persis kapan bangunan yang merupakan Corps Tjadangan Nasional ini di bangun. Namun mungkin, bangunan yang dulu menjadi tempat asrama tentara ini sudah ada sekitar seabad yang lalu, di zaman Belanda.
Gedung CTNJangan membayangkan bangunan ini besar dan terawat seperti bangunan Lawang Sewu di Semarang, misalnya. Di balik kesamaannya menyimpan banyak cerita mistik, bangunan CTN mempunyai luas jauh lebih sempit yang terbagi menjadi dua area dengan pembatas pagar bambu, yakni area utara dan selatan.
Di area utara, saat ini digunakan sebagai tempat tinggal bagi petugas Koramil yang ditugaskan mengawasi bangunan ini. Selain bangunan tempat tinggal ini, sedikit ke belakang terdapat sebuah gudang yang beberapa bagian atap dan temboknya sudah mulai runtuh.
Menilik ke area selatan, terdapat bangunan yang lebih besar dengan pekarangan yang cukup luas. Sayangnya sejak sekitar tahun 1993, terakhir kali bangunan ini dijadikan sebagai asrama Koramil, bangunan serta pekarangannya tidak lagi terawat. Pekarangan yang dulu bersih, sekarang dipenuhi rumput-rumput liar. Sedang bangunannya sendiri kotor, banyak kotoran ayam di lantai, dan bagian tertentu sudah terlihat mulai runtuh.
Patung Tentara BelandaJika Anda mencoba mendekat pada bangunan tersebut, dua patung singa di kanan dan kiri sudah menyambut Anda. Motif dinding dan patung tentara Belanda yang terletak di bagian atas bangunan jelas menunjukkan identitas yang membangun sebelum direbut oleh tentara Jepang dan akhirnya jatuh ke tangan tentara Indonesia.
Sayangnya tiga pintu depan bangunan ini dikunci. Jadi Anda yang penasaran dan berharap bisa masuk ke dalam nampaknya harus gigit jari. Sebagai pengobat kecewa, Anda bisa berfoto di depan bangunan ini. Bangunan tua di zaman modern sangat cocok dijadikan sebagai latar belakang foto Anda.
Konon, gudang di area utara dan bangunan area selatan ini terkenal mistik. Beberapa orang mengaku pernah menejumpai makhluk menyerupai wanita, berjubah putih, berambut putih, dan bermata satu berkeliling di sana. Hmm, jika benar ada, mungkinkah ia arwah Noni Belanda seperti Noni Van Elen, hantu dalam film horor Lawang Sewu?
Sebagai kota kecamatan yang menjadi titik temu empat kabupaten, yakni Lamongan, Bojonegoro, Jombang, dan Tuban, wajar saja bila Kecamatan Babat merupakan kecamatan yang ramai, bukan hanya sekarang namun juga di masa lalu. Dari itu juga jangan heran jika dahulu terdapat sebuah gedung pertunjukan bioskop di kota ini.
Gedung Garuda namanya, terletak hanya 20 meter sebelah utara depan bangunan CTN, gedung ini pun tak kalah tua. Tahun 1986, gedung yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi tersebut terakhir kali difungsikan sebagai bioskop. Sayang memang, akibat tidak memiliki peminat lagi bangunan yang bagian bawahnya bercat biru dan telah kusam ini harus kehilangan cerita masa lalunya.
Nampaknya patung garuda besar yang tak kalah kusam dan menempel di dinding bagian atas gedung tersebut tidak lagi menarik perhatian masyakat sekitar untuk datang dan menonton film di sana.
Saat ini, di dalam gedung Garuda sudah tidak terlihat lagi sisa-sisa kemegahan sebagai satu-satunya gedung bioskop di Kota Babat dahulu. Di bagian depan hanya ada sebuah warung kopi. Sedangkan di dalam yang ada hanya dua arena bulu tangkis dan belasan kursi penonton, sisanya hanya tempat kosong yang lengang. Memang, sejak tidak menjadi gedung pertunjukan bioskop, gedung ini dialihfungsikan sebagai arena bulu tangkis, daripada nganggur.
Gedung GarudaBeranjak sedikit jauh ke arah tenggara, kita bisa menemui stasiun kereta api Babat. Tentu stasiun ini sudah tidak asing lagi bagi Anda masyarakat Lamongan yang gemar berpergian menggunakan alat transportasi berbadan panjang ini.
Stasiun Babat memiliki enam jalur rel yang masih aktif digunakan saat ini. Namun, jika Anda mencoba menyusuri daerah sekitar stasiun, Anda akan mendapati banyak jalur rel lainnya yang sudah tidak lagi digunakan. Di zaman belanda, jalur-jalur ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi. Maklum, di masa itu, alat transportasi jarak jauh yang mudah diakses hanyalah kereta api.
Jika diamati, konstruksi di bagian dalam maupun bagian luar stasiun tidak terlihat ada sisa-sisa bangunan tua, berbeda dengan bangunan CTN dan gedung Garuda, stasiun ini terlihat jauh lebih modern. Apalagi sejak  tahun 2002,  saat stasiun yang masih menggunakan sistem persinyalan mekanik ini mulai ditangani oleh pemerintah daerah, pemugaran terus dilakukan. Namun, karena hal ini juga, stasiun Babat yang dulu termasuk stasiun kelas A, kini harus turun tingkat menjadi kelas B.
Stasiun BabatSaat ini stasiun terbesar di Kabupaten Lamongan ini merupakan tempat pemberhentian untuk kereta Kertajaya, KRD Bojonegoro, KRD Babat, Gumarang, dan KRDI AC.
Oh iya, jika Anda datang ke stasiun Babat lewat pertigaan sebelah tenggara pasar Babat, jangan lupakan juga keberadaan rumah panggung di kanan jalan sebelum sampai di stasiun. Unik memang, saat rumah-rumah masa kini menamankan pondasi beton yang kuat dan dalam, serta tembok bata yang megah, rumah panggung yang seluruhnya berjumlah empat ini masih tetap bertahan.
Keberadaan rumah-rumah panggung yang dibangun pada tahun 1918 ini tidak lepas dari keberadaan stasiun Babat. Rumah-rumah panggung ini merupakan rumah dinas bagi pegawai yang bekerja di stasiun. Sebenarnya ada  15 rumah dinas di kompleks ini, namun yang berupa rumah panggung hanya ada empat.
Rumah PanggungKonstruksi bangunannya: lantai, dinding, pintu, jendela, serta tiang, murni dari kayu  jati. Karena tekstur kayu jati yang keras dan kuat, wajar jika rumah ini bisa bertahan hampir seratus tahun. Setiap satu rumah panggung ukurannya sekitar 15×10 meter persegi dengan tinggi  5 meter yang terbagi dalam beberapa petak di dalam rumah.
Untuk mempertahankan kekunoannya, konstruksi rumah panggung ini  harus tetap asli. “Tidak boleh dirubah, paling hanya boleh dicat saja,” ujar Pak Sujud, penghuni salah satu rumah panggung.
Kemudahan transportasi di  Babat saat ini membuat banyak pegawai stasiun memilih untuk pulang-pergi daripada tinggal di rumah dinas. “Makanya hanya 3 rumah saja (dari 15) yang dipakai dinas. Sisanya ditempati pensiunan,” tambah Pak Sujud yang sebelum pensiun sempat menjadi kepala stasiun pada tahun 1993.
Keempat rumah panggung ini berbentuk sama, persegi empat beratap genting tanah dan memiliki tinggi antara lantai dan tanah sekitar satu meter. Pekarangan untuk rumah-rumah panggung juga lebih luas di bandingkan dengan rumah dinas lainnya. Beberapa pohon yang ditanam di pekarangan juga membuat kesan asri dan kuno masih tetap melekat.
Seperti halnya bangunan CTN, keberadaan gedung Garuda, stasiun Babat, dan rumah-rumah panggung sebagai bangunan-bangunan tua juga tidak lepas dari cerita mistik. Benar atau tidaknya saya juga tak tahu pasti. Jika ada dua golongan untuk menyebut orang yang bisa dan tidak bisa melihat hal-hal mistik, mungkin saya termasuk dalam golongan kedua. Bagaimana dengan  Anda? Jika Anda termasuk dalam golongan pertama, tertarik untuk membuktikannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar