Rabu, 29 Oktober 2014



Daftar Tempat Wisata Menarik di Lamongan Jawa Timur



Lamongan adalah salah satu kabupaten yang terdapat di daerah provinsiJawa Timur. Kabupaten yang terkenal dengan soto dan juga wingkonya ini berbatasan langsung dengan laut Jawa, Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto dan juga Kabupaten Bojonegoro. Bukan hanya dari segi kuliner saja, karena di kabupaten Lamongan ini pun juga memiliki potensi wisata baik alam maupun buatan manusia yang juga sangat diminati oleh para wisatawan. Lantas, apakah anda sudah tahu beberapa tempat wisata di Lamongan?
Sebagian besar dari anda tentunya sudah tahu beberapa wisata yang ada di Lamongan. Terlebih sejak adanya Wisata Bahari Lamongan yang memang keberadaannya menyita banyak perhatian. Sejak munculnya wisata ini, banyak orang yang kemudian ingin berkunjung ke Lamongan dan efeknya beberapa tempat wisata lain pun juga ikut dikunjungi.
Adapun beberapa tempat wisata di Lamongan yang sudah cukup terkenal dan dapat menjadi tujuan anda untuk berlibur diantaranya.
MENGITIP INDAHNYA GOA DALAM KEBUN BINATANG
Goa MaharaniTidak salah memang jika daerah Paciran menjadi salah satu sentra wisata Kabupaten Lamongan. Selain Wisata Bahari Lamongan (WBL), ada juga tempat wisata lain yang berada dalam satu kompleks dengan WBL, yakni Maharani Zoo & Goa atau yang biasa disingkat dengan Mazola.
Terletak hanya sekitar 100 meter saja di depan WBL, Mazola menawarkan konsep sebuah kebun binatang yang dipadukan dengan salah satu goa terindah di Indonesia. Tentu menjadi sebuah daya tarik yang tidak dimiliki oleh kebun binatang  atau goa di tempat lain.
Kita bisa masuk dan melihat-lihat berbagai macam binatang, dan menikmati eksotika Goa Maharani dengan membayar tiket seharga Rp 30.000 per orang. Di dalam kawasan yang memiliki luas sekitar 3 hektar ini, kita dapat menemukan sekitar 115 macam spesies hewan, mulai dari hewan lokal hingga yang didatangkan dari luar negeri. Tentu, apabila kebun binatang yang terbilang cukup baru ini disandingkan dengan Kebun Binatang Surabaya, jumlah koleksi binatang di Mazola jauh lebih sedikit. Tapi, seperti yang saya sebutkan tadi, Kebun Binatang Surabaya tidak memiliki goa yang indah seperti yang dimiliki oleh Mazola.
Kesan lain yang didapat ketika pertama kali memasuki Mazola adalah tempat yang bersih. Bisa dibayangkan, sebagai tempat ditangkarkannya berbagai macam binatang, kebun binatang ini terlihat dirawat dengan baik. Tentu ini akan menambah rasa nyaman bagi pengunjung.
Kita tidak perlu bingung harus memulai dari mana untuk mengelilingi kebun binatang ini, karena sudah disediakan rute-rute. Jadi jangan khawatir tersesat atau berputar-putar di tempat yang sama ya hehehe..
Pertama kali masuk, kita akan disambut dengan binatang khas dari daerah Timur Tengah, yakni unta. Daerah Paciran terletak di pesisir yang panas, berbeda dengan Kebun Binatang Surabaya yang sejuk dengan pohon-pohonnya yang rindang. Iklim pesisi yang panas menjadi tempat yang pas bagi unta ini meski tidak seterik daerah asal mereka.
Pintu Masuk MazoolaAda juga berbagai macam serangga yang telah diawetkan dan dipajang rapi dalam sebuah persegi panjang dengan penutup kaca. Di situ kita bisa melihat puluhan macam jenis serangga dari seluruh dunia. Selanjutnya, kita akan dibawa ke ruang tempat replika fosil binatang langka. Di sana ditampilkan replika seekor beruang putih yang berdiri sembari mengaung, juga replika fosil beberapa macam diosaurus, seperti mammoth danpterodactyl, serta paus biru. Meskipun hanya replika, tapi detailnya dibuat dengan sangat baik, sehingga membuat kita sulit membedakan dengan fosil aslinya.
Kalau Anda pencinta burung, Anda bisa masuk ke dalam sangkar besar yang di dalamnya terdapat aneka jenis burung warna-warni. Anda bisa masuk ke dalam dan memberi makan burung-burung tersebut secara langsung, dengan makanan yang disedikan oleh petugas tentunya. Anda juga bisa berfoto-foto saat burung tersebut mengerumuni Anda yang memegang makanan.
Kalau sudah bosan dengan binatang-binatang yang lucu dan unik, itu berarti saatnya untuk menuju ke kandang singa dan harimau putih. Lain dari kebanyakan kebun binatang, kandang hewan buas di Mazola ini  terletak di bawah pengunjung. Jadi pengunjung bisa melihat lewan-hewan ini dari jalan yang berada di atasnya. Meskipun pagar pembatasnya sudah cukup aman, tapi Anda yang membawa anak-anak kecil harus tetap waspada mengawasi mereka. Karena ditakutkan anak-anak akan memanjat  pagar yang tidak begitu tinggi itu.
Selain itu ada juga buaya, kudanil, ular piton dan masih banyak lagi sebagai pelengkap koleksi binatang-binatang buas di kebun binatang ini. Ada juga binatang primata seperti kera, monyet, dan orangutan. Berbagai macam unggas juga ada, misalnya pelikan, angsa, dan masih banyak lainnya.
Saat beranjak keluar dari kebun binatang, kita akan dibawa menuju ke Goa Maharani. Jika Anda pernah masuk ke goa ini sebelum dibangun dibangun kompleks Mazola, Anda mungkin akan pangling. Dulu goa sedalam 25 meter di bawah permukaan tanah ini gelap. Tidak ada lampu dan rute jalan khusus. Pengunjung harus berjalan dengan sedikit susah. Begitu kompleks Mazola dibangun, di dalam goa diberi rute khusus untuk jalan, pagar, dan lampu remang-remang sehingga pengunjung lebih leluasa menikmati keindahan stalaktit, stalagmit dan bebatuan yang indah. Banyak yang bilang, Maharani adalah salah satu gua terindah di Indonesia.
Meskipun goa ini tak sebesar Goa Akbar yang terletak di kota Tuban, tapi eksotisme keindahan stalaktit dan stalagmitnya tidak tertandingi. Wisata goa yang indah dan dipadukan dengan kebun binatang yang modern ini patut untuk dimasukkan ke dalam daftar wisata liburan Anda.
SUNAN DRAJAT,WALI PUNJANGGA DARI LAMONGAN
Makam Sunan Drajat

Jika kita melakukan ziarah Walisongo, kita akan banyak berkeliling Jawa Timur. Karena memang lima dari sembilan makam wali tersebut berada di provinsi ini. Salah satunya adalah makam Sunan Drajat.
Makam Sunan yang bernama asli Raden Qosim ini berada di desa Drajat, kecamatan Paciran, Lamongan. Berada sekitar 1 km sebelah selatan pertigaan Drajat di Pantura (Pantai Utara) Lamongan, atau sekitar 29 km sebelah utara pertigaan Sukodadi.
Saat memasuki kompleks makam Sunan Drajat, kita akan disambut dengan bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan batuan yang tersusun tanpa semen. Bangunan ini memang menjadi ciri khas makam yang dipugar tahun 1992 tersbut. Berbeda dengan kompleks makam Sunan Ampel di Surabaya dan Sunan Bonang di Tuban yang merupakan ayah dan saudara kandung Sunan Drajat. Kompleks makam dua sunan tersebut tampak lebih modern.
Makam Sunan DrajatPepohonan yang rindang menjadi peneduh di kompleks makam ini. Cukup membuat sejuk, mengingat daerah Drajat yang termasuk pesisir mempunyai cuaca yang panas. Dari gerbang masuk, kita akan melewati jalan setapak menuju ke makam Sunan Drajat. Di kiri kanan jalan setapak ini kita bisa melihat banyak makam lain dan di antara pepohonan.
Di sepanjang jalan menuju ke makam ini juga kita akan menaiki beberapa anak tangga. Di setiap tingkatan anak tangga tersebut, kita akan menemui tulisan satu demi satu dari tujuh filosofi ajaran Sunan Drajat dalam menyebarkan Islam.
Ketujuh filosofi itu adalah:
  • Memangun resep tyasing sasomo (Kita harus selalu membuat senag hati orang lain).
  • Jroning suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana riang, kita harus ingat dan waspada).
  • Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (Dalam perjalanan mencapai cita-cita luhur, kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan).
  • Meper hardaning pancadriya (Kita harus selalu menekan gelora hawa nafsu).
  • Heneng-hening-henung (Dalam keadaan diam, kita akan memperoleh keheningan dan dalam hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur).
  • Mulya guna panca waktu (Suatu kebahagiaan lahir batin akan kita capai dengan sholat lima waktu).
  • Menehana teken marang wong kang wuta, Menehana mangan marang wong kang luwe, Menehana busana marang wong kang weda, Menehana ngiyop marang wong kang kodanan.
Saya orang Jawa tulen asli Lamongan tapi hanya filosofi terakhir ini saja yang saya tahu artinya dengan pasti: Berikan tongkat pada orang yang buta, berikan makan pada orang yang lapar, berikan pakaian pada orang yang telanjang, serta beri naungan pada orang yang kehujanan.
Maksud dari filosofi ini adalah: Berilah ilmu agar  orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak  punya malu, Serta beri perlindungan pada orang yang menderita.
Makam Sunan DrajatSunan Drajat menyiarkan agama Islam lewat tembang-tembang macapat yang berbentuk pangkur. Masyarakat yang dulunya memiliki kepercayaan animisme-dinamisme ‘tersihir’ dengan nada-nada pangkur yang berisi kandungan Al-Qur’an yang dibawakan olehnya.
Sunan Drajat juga dikenal dengan tutur katanya yang menyejukkan. Oleh karena itu, ia mendapat julukan Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, sultan Kerajaan Demak. “Mayang berati kembang (bunga)  dan madu berarti mengobati. Ini sebagai ungkapan yang menggambarkan setiap tutur beliau yang menyejukkan,” ucap Pak Edi, juru kunci makam Sunan Drajat.
Sunan Drajat menggunakan media gamelan untuk iringan tembang mocopatnya. Dan gamelan-gamelan tersebut masih tersimpan di dalam museum yang letaknya di sebelah timur makam. Selain gamelan, di dalam museum juga terdapat kitab-kitab yang dulunya milik Sunan Drajat, juga keramik dalam bentuk piring, mangkuk, sendok, dan lain-lain. Selain barang tersebut, masih banyak peninggalan Sunan Drajat lainnya di museum ini.
Makam Sunan DrajatMakam Sunan Drajat ini di buka setiap hari 24 jam, namun untuk museumnya hanya buka pagi hingga menjelang petang. Makam ini jarang terlihat sepi oleh pengunjung, dan akan sangat ramai di hari-hari besar islam seperti di bulan Rajab atau Romadhon.
Selain pengunjung dari Lamongan sendiri, banyak juga pengunjung yang berasal dari luar kota. Mereka biasanya datang dalam rangka ziarah Walisongo. Seperti yang dilakukan oleh Santri dari Pondok Pesantren di Gondang Legi, Malang. “Ini kunjungan keempat kami setelah mendatangi makam-makam lainnya,” kata Ahmad, salah panitia dari Pesantren tersebut.
Setelah selesai berkunjung, sepanjang jalan keluar dari makam, kita akan melewati pedagang-pedagang yang menjual aneka oleh-oleh baik berupa makanan atau pakaian seperti di kebanyakan makam Walisongo lainnya.
Untuk masuk ke dalam makam sebenarnya tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun, apabila Anda datang dengan mengunakan kendaraan pribadi mobil atau bus seperti rombongan dari Pesantren Gondang Legi tadi, Anda akan dikenakan biaya parkir Rp 50.000 dan Rp 1.000 per orang. Makam ini bisa dibilang wajib untuk dimasukkan ke dalam daftar wisata religi Anda. Apalagi jika Anda sedang berada tidak jauh dari wilayah Lamongan.
Rute dari Terminal Bungurasih:
– Naik bus kota jurusan Osowilangun, pilih yang lewat tol. Tarif Rp 5.000,- (AC PATAS).
– Dari Osowilangun, naik bus mini warna hijau jurusan Paciran, minta turun Drajat (bilang Kondektur). Ongkos Rp 9.000,-
– Dari jalan raya ke makam Sunan Drajat bisa naik ojek atau jalan kaki, sekitar 1 km.
3.WBL,ANCOL MINI DI LAMONGAN
WBL
Tempat ini dulu dikenal sebagai Tanjung Kodok. Disebut demikian karena adanya batuan berbentuk kodok di pinggir laut. Tiap tahun tempat ini juga digunakan sebagai lokasi pengamatan hilal (bulan baru) 1 Syawal untuk menentukan datangnya hari raya idul fitri. Sejak 2004 lalu, Tanjung Kodok telah berubah menjadi salah satu tempat wisata terbesar di wilayah Jawa Timur yang mengusung konsep perpaduan antara Jatim Park yang berada di Batu, Malang dan juga Ancol di Jakarta.
Lokasinya sangat strategis, berada di Jalan Raya Daendales, Paciran, Lamongan. Bisa ditempuh dengan jarak sekitar 60 km dari Kota Surabaya dan sekitar 35 km dari Kota Tuban.  Selain mengunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa mengunakan angkutan umum yang banyak melintas. Dari Surabaya, pengunjung bisa ke sini naik bus mini warna hijau dari Terminal Osowilangun.
WBL

Tempat wisata seluas 11 hektar ini mematok tiket terusan dari harga Rp 50.000 di hari kerja (Senin – Kamis), dan Rp 65.000 saat akhir pekan (Jumat – Minggu). Sebagian besar wahana di sini diperuntukan untuk anak-anak dan para remaja.
Saat pertama kali kita masuk ke dalam, wahana yang akan menarik perhatian adalah bioskop tiga dimensi. Di tempat ini setiap hari diputar film tiga dimensi yang berbeda-beda dengan durasi sekitar 15 menit.
Wahana selanjutnya yang patut untuk dicoba adalah rumah sakit hantu. Di sini pengunjung bisa menguji nyali dengan beberapa hantu dan ruang-ruang horor khas rumah sakit.
WBL by M. Sholekhudin
Anak-anak yang suka olahraga ekstrem bisa berkunjung ke arena gokart yang menawarkan lintasan layaknya arena balap dengan pengamanan yang mempuni tentunya.
Rumah kaca tak kalah menariknya. Setelah masuk, pengunjung akan dibuat bingung mencari jalan keluar dalam ruangan berbentuk labirin kaca ini.
Jika Anda tertantang tertantang dengan wahana yang memacu ardenalin, Anda bisa mencoba sensasi jet coaster dengan kereta yang cepat dan lintasan ekstrem, ranger yang memutar 180 derajat di udara, atau drop zone yang akan menjatuhkan pengunjung yang naik dari ketinggian di atas sepuluh meter.
Yang suka bermain air bisa berenang di kolam renang. Kolam ini terbagi dua, yaitu kolam untuk anak-anak dan untuk dewasa. Namun akan lebih seru sebenarnya kalau sebelum berenang, Anda masuk ke taman air. Jalan berliku-liku yang dikelilingi dinding rumput dengan semprotan air yang tersembunyi akan membuat Anda basah kuyup saat keluar.
Menara Tanjung Kodok
Ingin melihat koleksi boneka dengan konsep seribu satu malam ala Ali Baba yang di datangkan langsung dari India? Anda bisa berkunjung ke istana boneka. Dari istana boneka ini, Anda bisa masuk ke rumah kucing yang memamerkan aneka jenis kucing cantik dari berbagai belahan dunia.
Kalau penasaran dengan tempat melihat hilal yang saya sebutkan tadi, Anda bisa langsung mendekat ke menara tua di pinggir laut. Namun, sayangnya pengunjung tidak diizinkan untuk naik ke atas menara, jadi hanya bisa melihat dari jarak sekitar sepuluh meter dari menara itu.
Selain beberapa wahana di atas, pengunjung juga bisa menikmati kurang lebih 60 wahana lainnya di wisata yang buka mulai dari pukul 08.30 sampai dengan 16.30 WIB ini. Untuk bisa mencoba satu demi satu wahana yang ada, dibutuhkan waktu setidaknya seharian  penuh.
Setelah lelah berkeliling, tidak pas rasanya kalau tidak membeli oleh-oleh atau mencari makanan atau minuman khas Paciran. Untuk membeli oleh-oleh, Anda bisa datang ke toko-toko di dalam area tempat ini, mulai dari pakaian sampai aneka pernik khas Lamongan.
Foto: Facebook WBL

Berhubung tempat wisata ini berada di daerah pesisir, jadi cuaca pun sangat panas. Berbeda dengan Jatim Park II yang sejuk karena memang berada di dataran tinggi. Untuk itu, sebagai pelepas dahaga, paling pas minum es dawet ental sambil makan jumbrek yang banyak di temui dijual di pingir jalan saat Anda pulang ke arah timur (Surabaya) maupun barat (Tuban)
BRUMBUN : BERENDAM UAP DI HUTAN RIMBUN
Kolam Air Panas BrumbunMandi air hangat memang sangat menyenangkan. Tapi tempat pemandian seperti ini tidak kita jumpai di banyak tempat. Kalaupun ada, untuk masuk ke dalam tempat tersebut akan dikenakan tarif yang cukup mahal.
Tidak banyak yang tahu bahwa di Kabupaten Lamongan ada sebuah tempat pemandian air panas yang relatif murah. Tempat ini bernama Pemandian Air Panas Brumbun. Bertempat di Dusun Tepanas, Desa Kranji, Kecamatan Paciran. Lokasinya yang berada di tengah-tengah hutan, menjadikan tempat ini memiliki pemandangan yang sangat asri, membuat kita merasa benar-benar berada di tengah hutan. Pepohonan yang rindang di kanan-kiri juga menjadikan tempat ini teduh meskipun di siang hari.
Sebelumnya, sumber air panas yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu ini hanya digunakan sebagai tempat mandi warga setempat saja. Namun pemberitaan dari mulut ke mulut menjadikan pemandian ini mulai ramai oleh orang-orang yang berdatangan dari berbagai tempat.
Dari situlah mulai tahun 2006, pemandian ini dijadikan sebagai tempat wisata dan mulai dibangun meskipun dengan sarana yang masih sangat minim. Sebelumnya tempat ini hanya berupa dua kolam kecil dengan dinding yang sebagian besar terbuat dari batu-batuan.  Air dialirkan dari kolam kecil tempat sumber air panas yang keluar dari bawah tanah, tepat di bawah sebuah pohon besar. Sekarang, meski tidak banyak perubahan, dua kolamnya kini telah direnovasi menjadi kolam yang lebih besar dan terbuat dari semen. Dan juga mulai ada tempat ganti baju dan warung-warung yang menyediakan makanan atau minuman bagi pengunjung.
Ada dua versi legenda tentang asal-muasal sumber air panas ini. Versi pertama menyatakan bahwa area pemandian ini merupakan tempat peninggalan Sunan Drajat dan tempat bertapa serta berkumpulnya para wali.
Sedangkan versi kedua menyatakan bahwa tempat ini sebelumnya adalah daerah ramai saat masa jayanya Kerajaan Majapahit. Saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh, tempat ini mulai sepi hingga akhirnya menjadi hutan. Teori kedua ini di tunjang oleh adanya patung-patung (ciri masyarakat Hindu Majapahit) di sekitar daerah ini yang telah dipindahkan oleh pemerintah. Namun sejak dipindahkan, sampai saat ini patung-patung tersebut tidak diketahui lagi keberadaannya.
Kedua versi tersebut diyakini oleh mayoritas penduduk setempat, meskipun mereka tidak bisa memastikan versi mana yang benar.
Saat ini, setiap hari pemandian yang tidak pernah habis sumber air panasnya ini didatangi oleh puluhan, bahkan ratusan pengunjung dari berbagai tempat. Mulai dari tetangga desa sekitar, sampai luar kota seperti, Bojonegoro, Malang, sampai Madura.
Pintu Masuk Pemandian BrumbunMereka umumnya datang dengan berbagai alasan, mulai dari hanya ingin melihat-lihat saja, sampai yang datang dengan tujuan menyembuhkan penyakit, seperti gatal-gatal, stroke, atau penyakit-penyakit lainnya. Kandungan belerang yang telah dinyatakan aman oleh Pemda Lamongan juga membuat pengunjung lebih yakin untuk mandi di sana.
Luas tempat pemandiannya kira-kira 5 x 10 meter yang terbagi menjadi dua tempat. Sebenarnya maksud dibagi menjadi dua tempat ini agar bisa memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Namun karena pengunjung lebih suka memilih semaunya, akhirnya dua tempat ini bisa digunakan untuk siapa saja.
Namun sayang, karena lokasinya yang berada di tengah-tengah hutan dengan banyak tempat-tempat tersembunyi, banyak pasangan muda-mudi yang menjadikan tempat ini sebagai ajang mesum.
Jika dibandingkan dengan pemandian air panas lain di Jawa Timur seperti Wisata Air Panas Pacet di Mojokerto, pemandian Air Panas Brumbun ini jauh lebih sedehana. Sarana–prasarana yang kurang memadai jelas sangat kontras dengan Wisata Air Panas Pacet  yang selain memiliki kolam air panas yang lengkap, juga memberikan arena bermain bagi anak-anak. Tapi Pemandian Air Panas Brumbun ini jauh lebih murah, untuk masuk ke dalam, Anda hanya perlu membayar parkir kendaraan seharga Rp 5.000 saja.
Selain sebagai tempat pemandian, area kawasan ini juga sering digunakan untuk tempat berkemah sehingga membuat pemandian air panas ini memiliki nilai plus edukatif.
Untuk sampai di pemandian yang buka 24 jam ini, Anda bisa lewat jalur pantura (pantai utara), sekitar 5 km dari pertigaan Drajat ke arah selatan. Atau sekitar 25 km dari Pertigaan Sukodadi ke arah utara. Di Jalan Raya Sukodadi-Drajat ini nanti Anda akan menemukan petunjuk arah kecil yang mengarahkan kita ke lokasi. Namun karena petunjuk arahnya sangat kecil, Anda harus benar-benar memperhatikan jika tidak mau sampai kelewatan hehehe
Kali Sekitar BrumbunDari petunjuk arah ini Anda akan melewati jalur hutan dengan jalan yang sebagian besar masih berupa tanah dan bebatuan dengan jarak sekitar 2 km lagi. Meski harus melewati jalan yang tak mudah, Anda akan terpuaskan setelah sampai dan mandi air hangat di sana.
Sekadar saran saja, apabila Anda ingin datang untuk menikmati panas terbaik, Anda bisa datang tengah malam. Karena di waktu itulah pemandian ini sampai pada panas terbaiknya. Kalau ingin menikmatinya dengan tenang, Anda disarankan untuk tidak datang pas hari libur dan  hari besar. Pada saat-saat seperti itu, pemandian ini akan sangat ramai pengunjung.
Tempat ini juga pas dijadikan pelepas lelah setelah Anda seharian berkeliling Wisata Bahari Lamongan (WBL)Mazola, atau setelah Anda pulang dari makam Sunan Drajat atau Sunan Sendang Duwur. Tertarik untuk mencoba?
Belanja dan wisata di pelelangan ikan di Brondong
Ikan-ikan di TPI

Kebanyakan dari Anda mungkin lebih sering berbelanja ikan di pasar, entah itu pasar tradisional maupun pasar modern. Jika Anda penggemar ikan laut, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong wajib untuk dikunjungi.
Setidaknya ada dua alasan kenapa Anda harus ke TPI Brondong ini. Yang pertama, karena di sini Anda bisa memilih dan memilah puluhan jenis ikan laut. Dan yang kedua, ikan yang Anda dapatkan dijamin ikan yang masih segar.
Di TPI Brondong ini, setiap hari ribuan nelayan menawarkan puluhan jenis ikan laut, mulai dari ikan tengiri, ikan layang, ikan tongkol, ikan kakap merah, rajungan (sejenis kepiting), cumi-cumi, dan berbagai macam ikan laut lainnya. Dan karena ikan di pelelangan ikan ini hasil tangkapan nelayan yang baru pulang berlayar, tentunya semua ikan dijamin segar. Benar-benar segar. Dua hal ini akan sulit Anda dapatkan jika hanya berbelanja ikan ke pasar.
Pemandangan di Sekitar TPI BrondongSelain itu, karena Anda membeli langsung dari para nelayan, harganya pun relatif lebih murah. Sekitar 20 persen lebih murah dibandingkan dengan harga ikan serupa di pasar. Jika di pasar harganya Rp 10.000, maka di TPI harganya hanya 8.000.
Namun, karena TPI Brondong merupakan gudangnya ikan laut, jangan heran saat baru menginjakkan kaki di  gerbangnya saja, kita sudah disambut dengan bau amis yang sangat menyengat. Tetapi biasanya bau amis ini tidak terasa saat mata kita telah dimanjakan oleh berbagai macam ikan laut segar.
TPI Brondong menyediakan berbagai jenis ikan laut setiap  hari. Jadi Anda bisa datang di hari apa saja, dengan catatan antara pukul 05.00 sampai 18.00 WIB. Karena kalau Anda datang lebih petang lagi, ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan telah habis diborong oleh para tengkulak. Dan akan lebih baik apabila Anda datang lebih pagi, karena selain Anda bisa memilih dan mendapatkan ikan segar, Anda juga bisa melihat bagaimana para nelayan pulang melaut dan mengeluarkan hasil tangkapannya. Tentu akan menjadi atraksi yang menarik.
Pemandangan di Sekitar TPI BrondongSetelah diturunkan dari kapal, ikan-ikan laut ini dibawa ke tempat penjualan yang telah disediakan. Di tempat inilah Anda bisa bertawar-menawar dengan para penjual.
Dalam satu hari, ratusan kapal di TPI Brondong bisa menghasilkan sekitar tiga puluh ribuan ton ikan laut segar. Dengan jumlah yang cukup fantastis ini, tidak heran rasanya apabila ikan-ikan di TPI Brondong, selain dipasarkan ke sebagian besar kota di Jawa Timur, juga merambah  sampai ke Yogjakarta. Dan bahkan diekspor ke negara lain, seperti Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat.
Sebagai tips saja, akan lebih baik apabila Anda membawa kamera. “Belanja ikan kok bawa kamera?” Jangan salah, karena TPI Brondong ini juga bisa menjadi objek foto human interest yang menarik, juga pemandangan-pemandangan laut dan kapal-kapal yang indah. Sebagai bonus, setelah lelah berbenja, Anda bisa sekalian mengabadikan Monumen Van Der Wijck yang berada satu kompleks dengan TPI Brondong ini, tepatnya di sebelah utara gerbang masuk.
Pemandangan di Sekitar TPI BrondongTPI Brondong ini terletak di Desa Brondong, Kecamatan Brondong. Sekitar 15 km sebelah timur Tuban, dan sekitar 84 km sebelah barat Surabaya. Sebagai patokan, pelelangan ikan ini berada sekitar 300 meter ke arah barat dari pertigaan pasar Blimbing.
Sepanjang perjalanan ke sini dari Surabaya atau Tuban, Anda akan disuguhi pemandangan laut pantai utara (pantura) juga perahu-perahu nelayan di sepanjang pantainya. Benar-benar belanja bonus wisata.
TENGGELAMNYA MONUMEN VAN DER WIJK

Monumen Van Der Wijck

Anda tentu pernah mendengar tentang novel Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Meskipun novel yang menceritakan tentang kisah cinta Zainuddin dan Hayati ini hanya berupa cerita fiksi, kapal Van Der Wijck yang ada di cerita tersebut memang benar-benar ada. Dan benar-benar pernah tengelam di perairan pesisir Lamongan seperti yang diceritakan dalam novel tersebut.
Di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, ada sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck.  Monumen tersebut dibangun pada tahun 1936 sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal yang namanya diambil dari nama Gurbenur Jenderal Hidia–Belanda itu tenggelam.
Monumen Van Der WijckKapal yang juga disebut dengan nama De Meeuw atau The Seagull, yang dalam bahasa Indonesia berati “Burung Camar”, sangat cocok untuk menggambarkan keanggunan kapal yang pada bulan Oktober 1936 tenggelam saat dalam perjalanan dari Bali menuju ke Semarang dan sempat bersinggah di Surabaya. Kapal besar dengan lebar 13,5 meter dan berat lebih dari 2,5 ton ini tengelam karena kebanyakan muatan orang. Korban meninggal sebanyak 4 orang, dan hilang di laut diperkirakan sekitar 50 orang dari sekitar 240 penumpang. Jumlah korban tidak diketahui pasti karena ada yang mengatakan banyak warga pribumi yang ikut hilang dan tak tercatat sebagai penumpang dalam kapal ini. Saat kapal mulai tenggelam, para nelayanlah yang membantu proses evakuasi dan menyelamatkan korban-korban yang bisa ditolong.
Monumen berbentuk persegi panjang yang menjulang ke atas ini merupakan salah satu dari monumen bersejarah di Indonesia. Memang, apabila dibandingkan dengan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, Monumen Bandung Lautan Api di Bandung, atau Monumen Palagan Ambarawa di Semarang, tentu Monumen Van Der Wijck ini lebih sederhana dan tidak sepopuler keempat monumen di atas. Tapi Monumen Van Der Wijck ini memiliki keunikan cerita tersendiri yang berbeda dibanding empat monumen itu.
Monumen Van Der WijckJika Monas, Tugu Pahlawan, Monumen Bandung Lautan Api, serta Monumen Palagan Ambarawa memiliki makna perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda, monumen Van Der Wijck lebih bercerita tentang perjuangan nelayan Brondong membantu penumpang kapal Belanda yang tenggelam.
Ironisnya, tidak banyak masyarakat sekitar Brondong yang tahu tentang cerita yang tersimpan di balik monumen ini. Bahkan ada yang tidak tahu tentang keberadaan monumen tersebut. Memang monumen yang tigginya hanya sekitar 4 meter ini tidak begitu menonjol, bahkan lebih rendah dari sebuah menara yang berada tepat di sebelahnya. Saat pertama kali kita melihatnya, tidak terkesan bahwa monumen tersebut memiliki cerita yang melegenda. Padahal jika dilihat dari sudut pandang sejarah yang ada, monumen ini bisa dijadikan ikon tersendiri bagi masyarakat Brondong selain Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Monumen ini bisa kapan saja Anda kunjungi, karena memang terbuka untuk umum. Untuk mengunjunginya pun tidak dikenakan biaya alias gratis. Lokasinya di area Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong, sekitar 15 km sebelah timur Tuban, atau sekitar 84 km sebelah barat
shipsandharbours.com
shipsandharbours.com
Surabaya. Berada persis di belakang gerbang masuk TPI dan bersebelahan dengan kantor Perum Prasarana Perikanan Samudera, membuat monumen ini sangat mudah ditemukan. Selain melihat monumen ini Anda juga bisa sekalian berbelanja ikan secara langsung di pedagang ikan laut yang letaknya tidak lebih dari 100 meter dari monumen.
Meskipun terlihat sepi dari pengunjung, monumen ini layak Anda kunjungi, terutama jika Anda pencinta wisata sejarah atau jika Anda ingin tahu sejarah yang menginspirasi Hamka menulis novel.

WISATA RELIGI: MAKAM SUNAN SENDANG DUWUR

Selama ini Lamongan terkenal sebagai daerah wisata religi karena di sini ada makam salah satu Walisongo, yaitu Sunan Drajat. Sebetulnya, selain Sunan Drajat, masih ada satu lagi makam sunan di sini, yaitu Sunan Sendang Duwur.
Sunan yang bernama asli Raden Nur Rahmad ini wafat pada tahun 1535 Masehi. Ia sempat hidup satu zaman dengan Sunan Drajat yang wafat pada tahun 1522 Masehi. Gelar Sunan Sendang Duwur itu pun ia peroleh dari Sunan Drajat, karena memang andilnya yang besar dalam perkembangan agama Islam di Jawa Timur, khususnya di wilayah Lamongan.
Jika makam Sunan Drajat berada di Desa Drajat, makam Sunan Sendang Duwur berlokasi di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Dari Wisata Bahari Lamongan (WBL), kita harus menuju ke arah barat lalu belok di pertigaan Sendang Duwur. Dari pertigaan, kira-kira jaraknya empat kilometer. Jalanan yang sudah beraspal memudahkan kita untuk mengakses lokasi. Untuk masuk ke makam, kita tidak dipungut biaya alias gratis.
GapuraApabila dibandingkan dengan Makam Sunan Drajat, bangunan Makam Sunan Sendang Duwur terlihat lebih minimalis dan artistik, serta dengan suasana yang lebih sepi. Di depan makam terpampang gapura yang berbentuk tugu bentar. Setelah melewati gapura tersebut, kita akan disambut lagi dengan gapura paduraksa dengan hiasan ukiran kayu jati. Juga dua buah batu hitam berbentuk kepala kala yang membuat kesan Hindu masih terasa di dalamnya. Makam Sunan Sendang Duwur sendiri terletak di belakang. Untuk masuk ke sana, kita harus melewati sebuah gerbang kayu lagi.
Di area makam ini terdapat sumur giling dengan ketinggian sekitar 35 meter. Disebut “sumur giling” karena air ditimba ke atas dengan cara ditarik kumparan tali yang diputar seperti gilingan. Selain itu ada juga sumur kecil “paidon” yang lebarnya tidak sampai satu meter. Menurut cerita, lubangan ini dulu adalah tempat meludahnya Sunan Sendang Duwur. (Dalam bahasa Jawa, ludah disebut idutempat meludah disebut paidon.)
GapuraAda yang mengatakan bahwa sumber air dari lubangan itu tidak pernah habis. Namun menurut warga setempat, air di dalam lubangan ini tidak pernah habis karena memang selalu diisi. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi kepercayaan pengunjung bahwa air tersebut memiliki banyak manfaat, salah satunya membuat awet muda dan menyembuhkan penyakit.
Tepat di sebelah makam, berdiri  kokoh masjid yang cukup besar. Pembangunan masjid ini tidak lepas dari peranan Sunan Sendang Duwur. Menurut cerita, Sunan Sendang Duwur memindahkan sendiri masjid ini dari Mantingan, Jepara, Jawa Tengah, dalam waktu kurang dari satu malam. Sumber lain mengatakan pemindahan masjid ini diprakasai oleh Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur. Konstruksi masjid ini sebagian telah diganti karena memang usianya yang sudah tua, yaitu 481 tahun (masjid dibangun pada tahun 1531 M). Konstruksi aslinya masih tersimpan di dalam area makam.
Masjid Sunan Sendang DuwurMakam Sunan Sendang Duwur memang menyimpan banyak cerita. Selain memang karena Sunan Sendang Duwur sendiri merupakan ikon penting Desa Sendang Duwur. Tempat ini bisa dimasukkan ke dalam daftar wisata religi selain makam para Walisongo.

1 komentar: